Buku Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide (Sinopsi dan Cara Mendapatkannya)






Teman teman...

Saya ingin memperkenalkan karya buku terbaru saya , yang merupakan buku ke 17 dengan judul "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide".

Buku ini juga merupakan buku pertama saya yang diterbitkan dalam versi Digital (E-Book) dan HANYA bisa dibeli/ didapatkan via aplikasi BooksLife dengan harga hanya Rp 30.000 ribu rupiah saja. 
"Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" merupakan buku berdasarkan kisah hidup (memoar) berupa catatan pengalaman saya menjadi seorang Tourist Guide (Pemandu Wisata)  selama belasan tahun, khususnya di Jakarta. 

Pengalaman selama belasan tahun menjalani profesi Tourist Guide yang sering disebut sebagai "Duta Bangsa" atau "ujung tombak pariwisata" dalam  berinteraksi dengan berbagai orang dari berbagai negara dan suku bangsa, membuat saya lebih mengenal negri sendiri, kota yang ditinggali dan juga diri sendiri. 

Di buku ini saya mengungkapkan apa menariknya Jakarta dan Indonesia bagi turis turis asing, juga bagaimana kesan kesan unik , lucu hingga mengharukan tentang Jakarta dan Indonesia dari sudut pandang orang orang asing yang saya temui.   Atau  pengalaman "tak biasa" yang saya dapat dari pekerjaan sebagai Tourist Guide, seperti mempengaruhi mantan tamu dari Jepang untuk juga menjadi Tourist Guide di negaranya, hingga diwancarai Jurnalis senior dari Swedia dan jadi berita headline di koran nasional tertua di Swedia. 
Buku ini bukan saja bercerita tentang Jakarta dan Indonesia, tapi juga mungkin juga akan membuka wawasan Anda tentang begitu banyak hal berharga  di sekitar kita  yang mungkin luput  kita perhatikan.

Format Digital Book  saya pilih  untuk karya "Bukan Ratu Sejagat " Catatan Seorang Tourist Guide" selain untuk menyesuaikan perkembangan zaman yg semakin Go- Digital juga supaya orang yang berada dimanapun bahkan  tinggal jauh dari indonesia, bisa beli dan baca buku ini.  Beberapa penulis kenamaan yang menerbitkan karya buku versi digital melalui applikasi Bookslife ini adalah Dewi Lestari / Dee dan Risa Saraswati (penulis buku buku horor yang banyak diangkat jadi film seperti Danur, dll)


Buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" ini (mungkin) akan membuat Anda jatuh cinta kembali dengan Jakarta dan Indonesia.


Bagaimana cara membeli dan mendapatkan buku ini ? Berikut ini panduannya : 


1. Download apps Bookslife di Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bookslife.androidviewer&fbclid=IwAR29ogP4bcvBJZn5d2uy1D7TnNpmPsAnFpeR6kkl4h4aVOP8IG_jcftbTVg

2. Buka apps Bookslife dan pilih BUKU BARU, nanti cover buku 'Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" muncul. Lalu diklik

3. Lalu klik 'Subscribe' dan nanti muncul halaman baru untuk TOP UP (berarti pembayaran), lalu diklik isi Rp 30000 dan pilih cara pembayaran (bisa dengan transfer bank atau Kartu Kredit)

4. Nanti email masuk berisi link utk lakukan pembayaran, Rp 30ribu + pajak

5. Nanti muncul konfirmasi via email untuk melakukan Top Up/ pembayaran.

6. Sesudah konfirmasi pembayaran, balik lagi ke apps Bookslife, ke halaman buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide", klik subscribe. 

7. Untuk lihat apakah sudah terbeli, kembali ke halaman muka apps Bookslife dan klik RAK BUKU

8. Nanti muncul cover buku "Bukan Ratu Sejagat" dan klik cover buku tersebut untuk baca bukunya.  

9. Tiap kali mau baca bukunya, silahkan buka Applikasi dan ke Rak buku. 

10. Jika ada kendala teknis saat proses pembelian, silahkan hub Customer service Bookslife di nomer Whatsapp/ call +62 85691071258 (Jam operasi 09.00 - 19.00 WIB).



Beberapa ulasan  tentang acara Peluncuran Buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" bisa disimak di beberapa artikel sbb : 


1. Mengenal Jakarta dari kacamata Pemandu Wisata Melalui Buku Bukan Ratu Sejagat
 https://jakarta.tribunnews.com/2019/07/02/mengenal-jakarta-dari-kacamata-pemandu-wisata-melalui-buku-bukan-ratu-sejagat

2. A Tour Guide's Diary https://www.thejakartapost.com/news/2019/07/08/a-tour-guide-s-diary.html

3. Cerita Seru Tentang Jakarta dan Pemandu Wisata ada di Bukan Ratu Sejagat https://gensindo.sindonews.com/read/407/1/cerita-seru-tentang-jakarta-dan-pemandu-wisata-ada-di-bukan-ratu-sejagat-1561709180

4. Kisah di balik tugas para pemandu tugas para pemandu wisata kenalkan budaya Indonesia 
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4001509/kisah-di-balik-tugas-para-pemandu-wisata-kenalkan-budaya-indonesia

5 .Penuturan Pemandu Wisata Akan Permintaan Ajaib Turis Asing
https://travel.detik.com/travel-news/d-4603780/penuturan-pemandu-wisata-akan-permintaan-ajaib-turis-asing
   
6. Hidup dengan Passion - Ikuti Kata Hati Loe ! (Wawancara dengan Ricky Conrad TV)


Kita seringkali berjalan hingga jauh mencari emas dan permata, tapi kita sering lupa bahwa sebenarnya hal hal yang berharga itu ada di depan mata dan bisa ditemukan di sekitar kita sendiri.  (Ira Lathief)

Pasfoto CV Andalan Dari Masa ke Masa


Pasfoto Andalan di CV dari masa ke masa , dari yang senyumnya masih malu malu sampe senyum malu maluin saking lebarnya....
Setiap orang pasti punya pasfoto andalan yang biasanya dipasang di CV buat ngelamar kerja. Waktu baru lulus kuliah belasan tahun lalu dan mulai hunting kerjaan, gue udah mikir kenapa pasfoto di CV lamaran kerja harus dengan pose serius kayak pasfoto di cover buku yasin? Emang ga boleh ya senyum buat pasfoto di CV? Jadi begini cerita pasfoto andalan dari masa ke masa
2004 : Waktu jamannya baru nyebar nyebar CV, masih mengikuti format pasfoto mainstream yaitu Pake blazer, posisi badan tegak. Tapi gue tuh emang ga bisa pasang raut muka terlalu serius. Jadilah pas di foto senyum dikit walaupun masih malu malu kucing. 
Di zaman ini gue banyak nyebar CV ke perusahaan media karena cita cita dulu pingin kerja di Media. Waktu gue udh kerja di suatu Production House, pernah suatu kali ngobrol dg bagian HRD yang cerita gini, "Tau gak,dulu kan Produser lo pas liat CV lamaran lo kok fotonya pake senyum lebar. Aneh banget nih anak. Karena dia penasaran pingin liat lo makanya lo dipanggil deh buat wawancara" ..hihihihi.
2008: Pasfoto buat CV di zaman ini udah mulai berani anti mainstream. Senyum lebar dan posisi badan mencong mencong. Jaman ini gue udh ninggalin kerjaan kantoran dan mulai kerja2 Freelance dan lagi seneng2nya ikut berbagai kompetisi. Seringnya sih kepanggil tahap wawancara, mungkin karena orang yang seleksi CV gue penasaran liat foto gue yang ga ada serius seriusnya tapi kok mirip Cut Tari KW10 .. wkwkwk
2018 : Jaman ini udh ga nyari nyari kerjaan lagi, tapi dikejar kejar kerjaan..hehhee..jadi pasfoto di CV pun bisa eksperimen, dengan senyum selebar mungkin. CV juga formalitas aja dikasi kalo ada yg minta gue manggung jadi Artis Lenong..
2019 : Kalo gue jago dandan, sering perawatan dan nyalon plus diet ketat, maka beginilah penampakan gue.... Apelo Apelo!!
*tips buat para freshgraduate yang lagi hunting kerjaan, cobain deh pasfoto di CV nya dg senyum lebar . Kemungkinannya bisa ada dua, lo bakal dipanggil ke tahap wawancara. Atau CV lo dibuang di tempat sampah krn dikira orang gila...wkwkwkw*

Baca Juga Yang Satu Ini

Ada Xanana Gusmao di Perayaan Mandi Mandi di Kampung Tugu tahun ini

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...