Mengenal Tjong A Fie -Sosok Saudagar Superkaya dan Super Dermawan Dari Medan


                                                         sumber foto  : www.tobasatu.com
                                                           
Sudah lama saya mendengar cerita tentang "Rumah Megah Tjong A Fie” yang jadi Cagar budaya dan Museum di kota Medan. Di tahun 2017 saya berkesempatan berkunjung ke tempat ini dan menjelajahi tiap sudut di Mansion Tjong A Fie yang berlokasi di Jl Jend A. Yani、Kesawan 、untuk mengenali seperti apa sosok istimewa Tjong A Fie semasa hidupnya.                                                                             
             
   Mayor Tjong A Fie adalah saudagar beretnis Tionghoa yang hidup di awal abad 20 dan terkenal karena kedermawanannya. Kerajaan Bisnis Tjong A Fie begitu banyak dari Perkebunan、 Tembakau, Bank hingga Hotel. Tapi bagi warga Medan saat itu, Tjong A Fie  dicintai bukan karena Kerajaan bisnisnya, tapi karena kemurah hatiannya yang luar biasa, dan tidak terbatas untuk sekat golongan etnis atau agama tertentu. Oleh pemerintah kolonial Belanda、Tjong A Fie diberikan gelar Mayor sebuah gelar kehormatan sebagai simbol status sosial saat itu.


Setiap harinya, Tjong A Fie membuka rumahnya untuk memberi makan ratusan orang miskin. Tjong A Fie  yang menganut agama Kong Hu Cu ini banyak membangun rumah ibadah berbagai agama (Mesjid, Gereja, Wihara dan Klenteng). Mesjid Lama Gg Bengkok -Mesjid tertua di Medan, biaya pembangunannya ditanggung penuh oleh Tjong A Fie、bahkan Istana Maimun yang jadi kebanggaaan warga Medan, juga pembangunannya dibiayai 30persen oleh Tjong A Fie . Begitupun Mesjid Raya Termegah di Medan, Al Mashun、sepertiga biaya pembangunanya disumbang oleh Tjong A Fie dan sang kakak Tjong Yong Hian yang juga sama sama memperoleh gelar Mayor.
          
(pemandangan di halaman rumah Tjong A Fie dimana tiap harinya ratusan orang miskin berkumpul untuk menerima bantuan)
                                                                                               
Selain memiliki kemampuan bisnis yang hebat, 2 tokoh kaya raya ini juga memiliki kepedulian sosial yang sulit dicari bandingannya sampai saat ini. Kepedulian sosial mereka, membuat kehidupan masyarakat di Medan (kala itu masih bernama Deli Tua) berlangsung sangat harmonis.

Tjong A Fie dan Tjong Yong Hian juga membangun rumah sakit yang menyediakan pengobatan gratis, juga menyediakan rumah penampungan bagi kaum tuna wisma. Kakak beradik ini, juga mendirikan rumah sakit khusus penderita lepra. Mereka para penderita lepra dirawat sampai sembuh dan kemudian dikembalikan ke masyarakat, tak hanya sembuh tapi juga sudah memiliki kemampuan / ketrampilan untuk dapat hidup mandiri.  Mereka juga mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan bagi penduduk setempat. Bahkan mereka pernah membantu pendirian sebuah sekolah dengan menyumbang 150.000 gulden (bandingkan dengan pembangunan Institut Teknologi Bandung) yang pada tahun 1914 membutuhkan biaya sebesar 500.000

Mayor Tjong Yong Hian (1850 - 1911) dan sang adik Mayor Tjong A Fie (1860 - 1921) begitu besar jasanya bagi masyarakat Medan、dan sudah sepatutnya kisah mereka tercatat dalam tinta sejarah bangsa ini. Ketika meninggal, kematian keduanya diratapi oleh banyak orang, kota Medan kebanjiran pengunjung dari berbagai penjuru, yang ingin mengantarkan keduanya ke peristirahatan terakhir.

Bahkan di dalam surat wasiatnya,,Tjong A Fie berpesan agar keluarganya meneruskan kebajikan untuk banyak menolong Masyarakat, tak terbatas apapun sekat atau golongan apapun. Sungguh pelajaran luar biasa dari seorang saudagar yang benar benar Kaya Hati.

Rumah Tjong A Fie yang super mewah (bahkan untuk ukuran saat ini)  sejak tahun 2009 dibuka untuk umum dengan harga tiket masuk seharga 35ribu plus sudah didampingi seorang Tourist Guide. Dari sang pemandu inilah、saya mendapatkan banyak cerita tentang Mansion tersebut juga kisah kedermawanan yang menakjubkan dari Tjong A Fie dan keluarganya. Di mansion Tjong A Fie sendiri masih didiami keluarga /keturunannya yang tinggal di bagian belakang mansion.  Saat saya datang kesana、saya sempat bertemu dengan seorang cucu Tjong A Fie、seorang nenek berusia sekitar 80an tahun yang sedang beberes di bagian dapur. Tapi ia menolak untuk diajak berfoto. 

                                                                    
                                                          (Ruangan Ballroom Dance)                                                                                                    
 Isi berbagai sudut Rumah Tjong A Fie yg maha luas pun bisa membuat pengunjung terkagum kagum, dimana tiap ruangan diisi oleh furniture mewah dan lampu lampu chandelier. Bahkan di lantai. 2, ada ruangan luas yang dahulu sering digunakan untuk ballroom dance dengan kapasitas puluhan orang. Gile kan、ga kebayang betapa super kaya nya Tjong Afi saat itu、 bahkan rumahnya pun jadi tempat berkumpulnya para sosialita untuk dansa dansi.


Jika ke kota Medan , jangan hanya berburu bika、bolu Meranti dan Duren saja. Tjong A Fie Mansion ini adalah tempat yang ga boleh banget untuk dilewatkan untuk dikunjungi.  Di tempat ini kita bisa susuri juga jejak Tjong A Fie dan keluarganya yang punya jasa begitu besar bagi kota Medan.

 'Hidup' Tjong A Fie mengajarkan kita untuk bermurah hati menolong sesama manusia, tidak peduli apakah etnis, suku dan agamanya. Dan Tjong A Fie adalah bukti bahwa bukan sekedar Kekayaan Harta, tapi justru Kebaikan dan Kebajikan lah yg akan membuat 'hidup' manusia akan terus dikenang abadi.

A Tribute to My Mom = Ceritaku Tentang Guru Terbaik dalam Memaknai Toleransi dan Cinta Kasih Tanpa Sekat

A Tribute to My Mom : Ceritaku Dibalik Khairiyah Indonesia, Festival Kebhinekaan, dan Guru Terbaikku dalam Memaknai Toleransi dan Cinta Kasih Tanpa Sekat


Kepergian seseorang yamg kita cintai untuk selamanya terkadang mengajarkan kita bgm arti Kehidupan. Itupula yang aku alami. Sejak tahun 2004, bulan Februari selalu memaknai arti khusus bagiku.

Sebelum bulan yang identik dengan cinta kasih ini pergi, aku ingin berbagi cerita tentang Almarhum Ibuku yang adalah guru terbaikku dalam memaknai Toleransi dan Cinta Kasih

Maukah engkau mendengarkan ceritaku?

Di tahun 2004 tanggal 9 Februari, Ibuku pergi menghadap yang kuasa. Hari kepergian almarhum ibuku meninggalkan kenangan yang sangat membekas. Kepergian ibuku membuatku tersadar tentang bagaimana menjalani hidup yg sesungguhnya.

Saat ibuku pergi, aku tetrharu menyaksikan sendiri bagaimana begitu banyak sahabat sahabatnya dari berbagai kalangan agama , etnis, dan golongan, ikut mengantarkannya hingga ke tempat peristirahatan terakhir. Saat itu aku tersadar, begitu berwarna dan bermakna hidup yang pernah dijalani ibuku semasa hidupnya..

Mungkin, warisan pelajaran hdiup terbesar dari ibuku adalah tentang penghargaannya kepada kemanusiaan dan keberagaman . Semasa hidupnya ibuku punya begitu banyak sahabat dari berbagai kalangan agama dan etnis yang dikasihinya. Dan itu menjadi memori kuat yang paling aku ingat dari ibuku.

Aku ingat, saat aku kecil, aku sering diajak ayah dan ibuku untuk berkelilling rumah rumah tetangga yang merayakan Natal. Ibuku juga sering menghadiahi makanan atau kue kepada sahabatnya yang merayakan natal. Begitupun saat Imlek tiba, ibuku juga ikut bergembira dan mengucapkan kepada sahabat sahabatnya dari etnis Tionghoa yang merayakan. Padahal saat itu di tahun 80an, imlek dilarang untuk dirayakan secara terbuka. Sangat jarang orang yang mau terang terangan mengucapkan selamat imlek kepada yang merayakan .

Sebaliknya, tiap jelang Lebaran, rumah kami dahulu banyak sekali dikirimi parcel parcel dan hadiah oleh sahabat sahabat baik ibuku yang bukan beragama muslim. Sahabat sahabat ibuku itu, bahkan tetap mengirimkan parcel parcel lebaran itu ke rumahku, sampai beberapa tahun setelah ibuku meninggal. Hal itu yang membuatku menyadari betapa ibuku bermakna bagi para sahabatnya, bahkan saat ia telah pergi

Karena ibuku juga terbiasa dengan keberagaman, begitupun ia membiasakan aku dengan keberagaman sejak kecil. Sahabat sahabat masa kecilku adalah para tetanngga rumah ada yang beragama Kristen, katolik dan juga berasa dari etnis tionghoa. Dan ini terus berlangsung sampai aku SMA. Teman temanku dari berbagai agama dan etnis itu sering bermain di rumahku, dan tentu saja selalu diterima dengan ramah oleh ibuku. Bahkan ketika aku masuk kuliah , aku mengontrak rumah di Jatinagor dengan beberapa teman baik yang beragama Kristen. Keberagaman adalah sesuatu yang alamiah bagiku. Dalam artian, itu bukan sesuatu yang istimewa bagiku saat itu.

Sampai suatu ketika , saat di tahun terakhir kuliah dan ngekos di Bandung, ada suatu hal yang menggelitik saat ngobrol dengan teman kosanku. Ia bercerita senang mendapatkan pengalaman kuliah di luar kota karena bisa punya teman teman dari berbagai agama. Saat itu pun saya begitu heran dan bertanya. “Memangnya sebelum kuliah , lo ga punya sahabat beda agama? “

Lalu ia pun curhat kalau sejak kecil ia selalu diajarkan di keluarganya untuk tidak boleh bergaul akrab dengan teman yang beragama beda. Ia pun juga terbiasa mendengar doktrin di lingkungannya bahwa penganut agama lain identik dengan kafir. Baru ketika ia berkuliah dan tinggal jauh dari rumahnya ia punya kesempatan untuk mengenal beragam orang dari latar belakang agama dan etnis . Dan ia merasa sangat mensyukuri hal itu.

Dari penjelasan teman saya, membuat saya tercenung. Saya jadi tersadar bahwa faktor di keluarga dan lingkungan punya pengaruh kuat dalam membentuk pola pikir seseoramg terhadap Toleransi dan keterbukaan kepada keberagaman. Alangkah bersyukurnya saya bahwa sejak kecil, keluarga saya tidak pernah melarang saya bergaul dengan teman2 yang berbeda agama. Saya juga bersyukur tidak permah diberikan doktrin negatif apapun tentang penganut agama lain dari orang tua saya sejak kecil. Bahkan seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendengar Ibu saya memberi label “kafir” kepada orang lain yang berbeda agama.

Dan di saat itulah saya menyadari, bahwa pengalaman terhadap keberagaman adalah suatu privilege/ keistimewaan dan anugrah. Dan saya bersyukur mendapatkan contoh tentang “merangkul keberagaman” dari ibu saya sejak kecil.

Pengalaman hidup yang saya lalui juga memberikan saya kesempatan mengenal lebih banyak lagi “keberagaman” dalam hal agama dan keyakinan.

Di masa kuliah , saya berkesempatan mengikuti program pertukaran pemuda internasional untuk pertama kalinya . Disitulah saya mulai mengenal lebih dekat orang dari berbagai latar agama, bahkan yang tidak punya agama sekalipun. Dua teman sekamar saya waktu itu adalah peserta dari Kamboja seorang Budhis yang sangat taat dan selalu berdoa sangat khusyuk saat sebelum tidur dan bangun tidur. Dan satu orang lagi dari Vietnam yang negaranya menganut paham komunis dan tidak percaya dengan konsep agama. Di program itu, saya punya banyak sahabat dari negara Singapura dan Jepang, yang kebanyakan dari mereka tidak menganut agama tertentu . Tapi mereka adalah orang orang baik di mata saya.

Saat mulai bekerja sebagai Wartawan/ Reporter TV, saya berkesempatan pergi ke berbagai daerah dan bertemu orang orang yang masih menganut agama leluhur seperti Sunda Wiwitan, Kejawan dll. Lalu saat mulai bekerja sebagai Tourist Guide, saya juga bertemu banyak orang asing dari agama agama seperti Bahai,Yahudi, hingga Mormon yang sebelumya tak pernah saya kenal ada di Indonesia.
Saya merasa kesempatan kesempatan mengenal beragam orang dari berbagai kalangan agama itu saya anggap sebagai suatu keberuntungan , yang belum tentu dialami oleh semua orang karena satu dan lain hal.

Peristiwa Pilkada DKI di tahun 2016 yang syarat dengan ujaran kebencian berbau SARA menjadi momentum titik balik bagi saya. Saya sangat prihatin dengan fenomena di masyarakat yang begitu mudah melabeli orang lain dengan KAFIR , juga mengolok olok etnis Cina. Ujaran ini bahkan juga didengungkan di khotbah mesjid dan pengajian pengajian.

Saat itu saya sempat terpikir dan bertanya tanya dalam hati, "Orang orang yang sering melabeli orang lain kafir , apakah mereka punya sahabat sahabat yang berbeda agama ? Mereka yang dengan mudahnya menebarkan ujaran kebencian kepada etnis Cina, punyakah ia sahabat dari etnis tersebut?"

Lalu saya teringat dengan sahabat sahabat almarhum ibu saya yg begitu beragam latar belakangnya. Ada Tante Maria ,seorang Nasrani yang paling sering menjenguk dan menunggui ibu saya saat terbaring di rumah sakit. Ada Om Har atau Om Alex yang beretnis Tionghoa, yang tetap bersahabat baik dengan keluarga saya hingga belasan tahun setelah ibu saya meninggal. Saya juga masih ingat, ketika peristiwa kerusuhan 98 di Jakarta, ibuku ikut menangis pilu saat mengetahui rumah sahabatnya yg seorang Tionghoa menjadi target amuk massa.

Pikiran saya pun melayang kepada almarhumah ibu saya . Rasanya tidak mungkin tudingan KAFIR, Cina, dsb itu meluncur dari mulut ibu saya karena sepanjang hidupnya ia punya banyak sahabat dari kalangan beragam agama dan etnis.

Saat itu saya juga merasa prihatin dengan menguatnya fenomena ekslusivitas keagamaan di sekitar saya. Apalagi ketika membaca sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Jakarta termasuk satu dari 10 kota yang paling tidak toleran di Indonesia., yang membuat saya begitu terusik dan ingin berbuat sesuatu untuk warga Jakarta. Tapi lalu saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan ??

Sebagai seorang Pemandu Wisata/ Tourist Guide yang terbiasa mengunjungi berbagai rumah ibadah karena tuntutan pekerjaan. , maka di awal tahun 2017 saya lalu berinisiatif membuat suatu kegiatan kunjungan Tur yang dinamakan Wisata Bhineka (wisata ke berbagai rumah ibadah) yang bertujuan utk membangun Toleransi dan menambah wawasan tentang kebhinekaan indonesia. Kegiatan Wisata Bhineka ini menjadi agenda rutin yang dikoordinir oleh Wisata Kreatif Jakarta.   , sebuah tour organizer yang juga saya dirikan sejak tahun 2017.

 Dari mengadakan Wisata Bhineka secara rutin ini, saya mengamati bahwa begitu banyak orang yang seumur hidupnya belum pernah mengunjungi rumah ibadah agama lain, atau banyak orang yang punya persepsi negative terhadap penganut agama lain karena memang mereka tidak punya teman baik dari agama yang berbeda. Apalagi skr banyak org tua yg menyekolahkan anakmya di sekolah dengan basis keagamaan yg ekslusif sejak TK hingga SMA, sehingga seorang anak tumbuh hingga besar di lingkungan yang seragam saja.

Berangkat dari Wisata Bhineka, ada keinginan kuat untuk membuat suatu kegiatan lebih besar lagi yang memberikan ruang ruang dan kesempatan untuk berbagai penganut agama dan keyakinan utk saling mengenal lebih baik, melalui pendekatan yang menyenangkan.

Hal Itulah yang lalu mendasari di awal tahun 2018 untuk menginisiasi Festival Kebhinekaan dan membentuk yayasan Khairiyah Indonesia. Khairiyah sendiri adalah nama belakang saya yang dalam bahasa Arab berarti Goodness/ Kebaikan.

Festival Kebhinekaan sendiri bertujuan untuk Memperkuat Toleransi Lintas Agama melalui ragam kegiatan yang rileks seperti Wisata Bhineka, Pemutaran Film, Pameran Seni, Diskusi Tentang Agama Agama dll, untuk meemberikan ruang dan kesempatan kepada berbagai penganut agama dan keyakinan untuk saling mengenal lebih baik. Ada idiom, tak kenal maka tak sayang. Maka Festival Kebhinekaan ingin memberikan kesempatan kepada publik terutama generasi muda untuk mengenal lebih dekat saudara saudara setanah air yg berbeda iman/agama/keyakinan.

Saat ini Festival Kebhinekaan sudah berjalan di tahun ke tiga dan diadakan tiap bulan Februari, yang juga selalu identik dengan bulan cinta kasih dan juga bulan dimana ibuku pergi menghadap Sang Maha Cinta.

Dalam perjalanannya yang singkat, di th 2018, Khairiyah Indonesia pernah mendapatkan kepercayaan berupa Grant / Hibah dari Indonesia Untuk Kemanusiaan, dengan mengkoordinir ratusan pelajar dan guru di Jakarta mengikuti Wisata Bhineka. Waktu demi waktu semakin mengarahkan saya kepada bidang edukasi dan advokasi tentang isu isu Toleransi dan kebebasan beragama. Saya juga bersyukur mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu beragam pemuka agama dari berbagai bangsa..

Jika ada yang bertanya , kenapa beberapa tahun belakangan saya mau bersusah susah menekuni kegiatan dalam bidang yang berhubungan dengan Lintas Keagamaan seperti ini, padahal profesi sehari hari saya adalah seorang Tourist Guide ?

Memang kalo dipikir pikir lagi, dari dahulu tidak pernah sedikitpun terbersit di benak saya untuk bersinggungan dengan bidang kemanusiaan yg satu ini. Tapi jalan hidup memang sungguh misteri. Dan saya memaknai bidang yang saya lalukan ini sebagai “panggilan hidup” yang berkaitan erat dengan almarhum ibu saya.

Sebagian orang sungguh beruntung masih bisa memiliki Ibu kandung hingga usia menua. Tapi tidak denganku. Almarhum ibu saya meninggal ketika saya berusia 23 tahun, saat saya baru akan di wisuda. Belum banyak hal yang bisa saya hadiahkan untuknya ketika ia masih hidup. Belum banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan dirinya saat ia masih hidup. Tapi saya pernah mendapatkan suatu nasihat, jika ingin membalas jasa orang tua yang sudah meninggal, lakukanlah hal hal yang ia senangi saat hidupnya. Dan yang saya tahu, ibu saya sangat menghargai keberagaman agama sepanjang hidupnya.

Secara personal, saya memaknai jalan yang saya tekuni melalui Khairiyah Indonesia dan Festival Kebhinekaan saat ini sebagai ikhitiar untuk meneruskan nilai nilai kebaikan tentang penghargaan kepada keberagaman dan kemanusiaan, yang dicontohkan dan ditunjukkan oleh Ibu saya semasa hidupnya. Dan saya akan selamanya berterima kasih kepada Ibu saya yang telah menjadi Guru Kehidupan terbaik tentang memaknai Toleransi dan Cinta Kasih yang melintasi sekat sekat.

Saya tahu tak akan bisa saya membalas jasa seorang ibu. Tapi saya berharap nun jauh di atas sana, ia senang dan tersenyum melihat jalan yang saya pilih saat ini.
Dan semoga kiranya Allah dan semesta alam merestui ikhtiar ini.

Wisata Belanja Baju Musim Dingin Branded Murah di Pusat Factory Outlet Mangga Dua Square


Dimana bisa berburu baju baju musim dingin dengan harga bersahabat di Jakarta? 
                                               
Jadi resolusi tahun 2020 yang pingin segera saya wujudkan di awal tahun adalah menjejakkan kaki di benua biru Eropa yang sekian lama menjadi dambaan . Nah buat persiapan ngetrip ke Yurop di bulan Januari nanti yang sedang cuaca musim dingin、hal yang kudu wajib dibawa tentu saja baju baju musim dingin (winter)

Selama ini yang saya denger kalo beli baju baju dingin (winter) di Jakarta、harganya lumayan mihil karena kebanyakan produk produk impor.   Atau jika mau berburu baju winter dengan harga murah, kudu hunting di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung atau Puncak. 

Nah pas denger kalo di Mall Mangga Dua Square di Jakarta Utara,  bisa berburu baju baju dan jaket musim dingin dengan harga damai、tentu bikin penasaran.   Setelah cek bebicek langsung di Mall Mangga Dua Square ini ternyata memang banyak koleksi baju baju dingin branded yang dijual di  berbagai Factory Outlet (FO) disini. Kesemua gerai FO yang ada disini adalah cabang dari jaringan FO kenamaan yang hits di Bandung atau  Puncak  Total ada 8 gerai Factory Outlet besar di Mall ini, yang menjadikan Mangga Dua Square sebagai Shopping Mall yang memiliki Factory Outlet (FO) terbanyak  di Jakarta





Setelah menjelajah ke beberapa gerai FO disini seperti FO Premiere、FO Amira 、FO DSE、 Raja FO、saya mendapati banyak pilihan baju baju dingin dengan model yang cucok meyong tapi juga  dengan banyak harga diskon. Contohnya jaket winter warna kuning kinclong nan ceria yang saya  dapetin dari FO Premiere ini harganya cuma 300rb an、 padahal jaket winter model gini kalo.di Departement Store  terkenal bisa 2x lipat harganya....

                                       

Terruuuuus ada lagi jaket winter burberry dengan capuchon bulu yang keren harganya 600 ribu di Raja FO、padahal kalo di shopping.mall lain harganya sejutaan saya udah cek,......Atau kalo cuma mau cari sweater hangat dengan model keren banyak pilihan juga di Amira FO、seperti sweater merah menyala dengan bahan bulu sintetis super hangat yang saya bisa dapat dengan harga cuma.150 rb ! Super !

                                       
                                          
                                                       

By the way, sebagai Tourist Guide, Mall Mangga Dua Square ini termasuk Mall yang sering saya kunjungi loh selama ini  Pertama adalah karena tamu tamu saya banyak yang bermalam di Hotel Hotel sekitar Mall seperti Hotel Ibis, Novotel, Amaris, dan Neo, yang memang aksesnya cukup dekat ke Tol Bandara dan tempat wisata lain seperti Ancol, Kota Tua, dll. Jadi ketika tamu tamu saya ingin  untuk shopping, tentu Mangga Dua Square ini selalu jadi pilihan utama karena memang letaknya satu kawasan di hotel hotel tersebut. 

Selain itu, Mall Mangga Dua Square ini sudah lama terkenal di kalangan turis turis Arab sebagai Pusat Kayu Gaharu. Ada kebiasaan bagi orang orang Arab untuk membakar kayu gaharu di rumahnya sebagai pengharum ruangan. Nah kayu kayu Gaharu yang banyak di dapati negri negri Arab ternyata berasal dari negara negara India dan Indonesia jadi harganya memang mahal. 

Jadi ketika orang orang Arab itu berwisata ke Indonesia, khususnya di Jakarta atau Puncak, pasti salah satu "suvenir" wajib yang mereka cari adalah kayu kayu Gaharu yang harganya jauh lebih murah. Di Mangga Dua Square ini memang banyak sekali toko toko penjual kayu Gaharu, bahkan ketika kita masuk ke lobi utama Mall ini sudah tercium aroma khas kayu Gaharu.  Dan menurut saya, hal ini memang kekhasan dan keunikan Mall Mangga Dua Square yang tidak didapati di shopping shopping mall lain di Jakarta. 

Namun,  saya sendiri memang baru ngeh kalo Mall Mangga Dua Square  juga dikenal sebagai Pusat Factory Outlet (FO) yang memang menjadi terobosan baru Mall ini .Dan memang, sejak mencanangkan diri sebagai "Pusat Factory Oultet"sejak tahun 2018, sudah ada 8 gerai FO beken yang telah memiliki banyak cabang di sejumlah daerah seperti Bandung dan Puncak, Seperti Premier, Amira Factory Outlet, Fifth Avenue, DSE, Chois FO, RAJA FO, Super Bazaar dan Publicity  .  Jadi sekarang ga usah jauh jauh ke Bandung atau Puncak, di kawasan Utara Jakarta pun kini kita bisa menyambangi jaringan Factory Outlet yang hits


Btw pernah ga sih kamu heran, kok baju baju dingin di F0 FO disini bisa dijual dengan harga murah padahal banyak brand kenamaan luar negri, kok bisa ya ?  Saya pun sempat penasaran kenapa.


Nah rasa penasaran ini ternyata terjawab setelah saya tanya sana sini, ternyata koleksi pakaian branded yang dijual di FO FO adalah produk produk sisa ekspor yang kebanyakan pabriknya ternyata ada di Indonesia. Emang udah bukan rahasia lagi kan, kalo banyak produk fashion branded kelas dunia yang punya banyak pabrik di negara negara dunia ketiga seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam. 

Jadi, misalnya nih, kalo kita beli baju dingin di Paris dengan merk Burberry dengan harga selangit, nah bisa jadi itu aslinya di produksi di salah satu Pabrik tekstil di Cikarang, Bekasi.....hehehee....kalo gitu yah mending kita beli langsung di tempat asal produksinya dong,  karena bisa jadi harganya jauuuh lebih murah.

Dan tambahan lagi nih、saya dengar di Mall Mangga Dua Square ini juga bakal segera diresmikan Korea Center、yangbisa jd pusat kegiatan dan aktifiitas komunitas pecinta budaya Korea seperti K-Pop、K Drama dsb. Seru banget kayaknya!
Jadi buat para penggemar oppa oppa yang berencana ke Korea saat musim dingin、bisa langsung cuz berburu baju ,musim dingin di Mangga Dua Square ini.

Uniknya Perayaan Rabo Rabo, Pesta Tahun Baruan Orang Kampung Portugis Tugu

Foto-foto: Randy (detik.com)  dan Silvi (kompas.com)
Bagaimana rasanya jika rumahmu didatangi sekelompok grup keroncong yang bernyanyi khusus dan gratis untuk keluargamu ?
Beberapa waktu lalu saya menyaksikan Rabo Rabo, Perayaan Tahun Baru di Kampung Tugu yang sangat unik dan meriah sekali. 
Kampung Tugu ini adlh tempat cikal bakalnya muncul Musik Kroncong sebelum meluas ke berbagai tempat di pelosok negri ini..Setiap tanggal 1 Januari, warga Kampung Tugu yg terletak di Semper, Jakarta Utara, yg masih ada keturunan Portugis ini punya tradisi Rabo Rabo yg tak ada duanya di manapun...
Foto-foto: Randy (detik.com)  dan Silvi (kompas.com)
Jadi Rabo Rabo (yg artinya Ekor-Mengekor , dari bahasa Kreol Portugis) ini adalah tradisi di awal tahun baru utk bernyanyi Kroncong keliling kampung berkunjung dari rumah ke rumah, dan salah satu anggota keluarga tiap rumah yg didatangi harus ikutan 'mengekor" untuk mengunjungi rumah berikutnya hingga 'ekor" nya pun jadi sangat banyak dan panjang hingga di rumah terakhir. 
Di tiap rumah yg dikunjungi, para tamu dan grup keroncong biasanya akan bernyanyi dua lagu sambil berdansa dansi dg riang gembira.....lalu si tuan rumah yang dikunjungi akan menawarkan beragam makanan dan minuman. Baru di rumah terakhir yang dikunjungi yang bisanya mereka akan makan besar dan berpesta.
Foto-foto: Randy (detik.com)  dan Silvi (kompas.com)
Perayaan Rabo Rabo di Kampung Tugu yg masyarakatnya mayoritas beragama Kristen ini jauh lebih meriah dari perayaan Natal sendiri. Dan puncak perayaan tahun baruan di Kampung Tugu akan diakhiri dengan Perayaan Mandi Mandi yang  biasanya diadakan satu Minggu setelah tahun baru.
Menyaksikan sendiri perayaan Rabo Rabo di Kampung Tugu saya begitu terkesan dengan tradisi warga disana yg begitu erat kekerabatannya dlm menjaga tradisinya  . Saya juga salut denga warga Kampung Tugu yg sebagian besar bisa bermusik dan menghidupkan tradisi bermusik keroncong secara turun temurun dan diteruskan kepada generasi muda nya meskipun byk menemui tantangan zaman.
Contohnya Aren  yang adalah pengisi suara biola di film Wage (WR Supratman), atau Juliette Angela  yang finalis Indonesian Idol yang sempat mencuri perhatian para juri dan memberinya Golden Ticket. Dalam banyak kesempatan, Angel sering menyanyi Kroncong dengan gaya Jazzy yang jadi ciri khasnya ..
Foto-foto: Randy (detik.com)  dan Silvi (kompas.com)
Melihat orang kampung Tugu yang senang bernyanyi dan punya tradisi bergembira ria seperti ini saya jd teringat dg orang Manado atau Batak , tapi orang Tugu adalah orang asli Jakarta dan menyebut diri mereka sbg suku 'Betawi Kristen'..Sungguh betapa beragam dan kayanya budaya di Jakarta yang mestinya juga bisa menjadi potensi pariwisata unggulan kota ini! 
Foto-foto: Randy (detik.com)  dan Silvi (kompas.com)
Menurut saya, Perayaan tahun baruan Rabo Rabo orang Kampung Tugu ini bisa dimaknai sebagai simbol bahwa dalam menyambut kedatangan tahun yang baru kita harus mengawalinya dengan hati gembira dan penuh keceriaan.. Dan kebahagiaan itu akan berlipat lipat jika dibagikan bersama-sama.

NB : Saya bersama komunitas Jakarta Food Traveler / Wisata Kreatif Jakarta rutin mengadakan Tur Spesial ke Kampung Portugis Tugu saat Perayaan Rabo Rabo  (1 Januari) dan Mandi Mandi /Pesta Mandi Bedak (3-4 hari setelah tahun baru).  Jika tertarik ikutan Tur dalam waktu dekat, berikut ini infonya : 



*Food Tour Portuguese Village  Perayaan RABO RABO*
🗓️ Rabu, 1 Januari 2020
⏲️ 09.00 - 14.00 WIB
📞 RSVP 0812 9822 9129
💰 Rp120.000/orang ; termasuk kuliner khas Kampung Tugu
📍 Meeting Point : Gereja Tugu •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
📌 Rabo Rabo ialah perayaan khas Orang Tugu, tiap 1 Januari dengan cara bermain musik keroncong beriringan dari rumah ke rumah untuk memulai tahun yang baru. Dalam Tur spesial ini, Anda akan diajak untuk blusukan mengunjungi Kampung Tugu yang dihuni oleh orang orang keturunan Portugis yang sudah berada di kota ini selama lebih dari 4 abad. Rangkaian Tur akan diakhiri dengan melihat bagaimana orang Tugu merayakan Rabo Rabo sebagai selebrasi setahun sekali dalam menyambut datangnya tahun baru.
📌 Destinasi : Gereja Tugu - Kuburan Kuno Tugu- Jelajah Kp Tugu/Kp Kristen Betawi - Markas Krontjong Canfrinho - Makan Siang & Icip Icip Kuliner Khas Tugu - Rumah tertua Kp Tugu yang berusia 200 th - Menikmati Alunan musik Kroncong - Mengikuti Perayaan Rabo Rabo
📌 Harga Tur sudah termasuk :
1. Donasi Gereja & Donasi utk IKBT/Ikatan Keluarga Besar Tugu
2. Menikmati Kuliner Khas Tugu : Gado Gado Siram Tugu, Kue Pisang Udang, Kue Apem Kinca dan Kue Ketan Unti.

📌 Untuk rute Tur Spesial ini, jika pembayaran via transfer hingga hari H-2 diskon 10 persen (Rp 12.000)
Transfer via Rek BCA
No. rek : 007-025-8021
Atas Nama : Ira Yuniarty Khairiyah.
Fyi, semua Tur di atas ialah wisata berjalan kaki dengan didampingi seorang Pemandu Wisata/Tourist Guide profesional.
Agenda Rutin setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) sesi pagi dan sore. Info/ Registrasi ke 0812 9822 9129. Untuk informasi detail tiap rute Tur di atas silahkan cek website www.wisatakreatifjakarta.com
Ikuti juga sosmed IG/fanpage @WisataKreatifJakarta @JakartaFoodTraveler utk pantau update Tur kami. Semua tur kami bisa di booking utk private /grup dan terbuka utk kolaborasi dg komunitas dan institusi pendidikan.




Yuk Kenali Lebih Dekat Batik Khas Jakarta di Kampung Batik Terogong

Tinggal di Jakarta tapi belum kenal atau belum punya Batik Betawi?Nah saatnya yuk kenali lebih dekat batik asal kota kita sendiri.                                                                                                                                                
Umumnya banyak orang tahu tentang Batik itu dari Pekalongan、 Solo dan daerah daerah di Jawa Tengah. Padahal Jakarta juga punya Batik khas Betawi yang ciamik banget.  Nah pada hari Minggu 8 Desember lalu、saya bersama komunitas Ladiesiana berkunjung ke Kampung Batik Betawi di Terogong Jaksel untuk melihat dari dekat seluk beluk Batik Betawi.   

Di tempat ini kita juga belajar gimana caranya bikin Batik Betawi yg sederhana dari mulai proses membuat motif/pola hingga menggunakan canting dan malam、dan kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan Batik yang dikerjakan oleh para pengrajin batik yang orang orang Betawi asli. Seru !Memangnya apa sih perbedaan batik betawi dengan batik batik lainnya? Jadi ciri khas Batik Betawi adalah dari motifnya yang banyak bergambar ikon ikon Jakarta seperti Ondel Ondel、Monas 、Abang None Bahkan Gedung Pencakar Langit. Juga  umumnya Batik Betawi itu  punya warna warni yang cerah menyala dan "gonjreng" seperti karakter orang Betawi yang ceria、humoris、blak blakan dan terbuka .      

Seperti halnya Batik dari berbagai daerah di Indonesia yang setiap motif punya makna dan arti filosofis、begitupun dengan batik Betawi yang tiap motifnya punya makna filosofis menarik.                                                        Ket foto : Batik motif Pencakar Langit yang menggambarkan deretan gedung pencakar langit dan Ondel ondel yang ukurannya lebih tinggi dari Gedung . Maknanya adalah Jakarta boleh saja jadi Kota Megapolitan、tapi Budaya Betawi tetap harus eksis.                                                                                                                                       
Komunitas Batik Betawi Terogong ini sendiri digagas oleh Ibu Siti Laela yang merupakan asli orang Betawi. Sebagai pelestari Budaya ia miris karena selama ini、publik lebih banyak tahu Batik batik dari daerah Jawa Tengah .  Gayung bersambut ketika di awal tahun 2012 Pemerintah Provinsi DKI punya program untuk mengangkat Batik Betawi dan memberikan pelatihan membatik dengan mendatangkan Trainer langsung dari Pekalongan. Setelah ikut pelatihan membatik tersebut Bu Lela pun berinisiatif untuk ikut mengangkat Batik Betawi kepada khalayak luas . Ia juga merancang beberapa motif Batik berdasarkan ikon kota Jakarta juga aneka flora khas di berbagai kawasan Jakarta seperti Daun Semanggi、Daun Pacar Cina dan Buah Mengkudu yang dahulu banyak didapati di kawasan Terogong.                             Ket Foto:Batik motif Tebar Mengkudu yang dirancang Bu Lela. Tebar Mengkudu punya arti filosifis dari singkatan "Tekun Sabar Emang Kudu"                                                                                                                                    
Pertemuan Bu Lela dengan Maudy Kusnaedi yang pernah menjadi None Jakarta di tahun 2012 juga turut membantu Batik Betawi Terongong semakin dikenal luas.   Dalam banyak kesempatan Maudy ikut membantu mempromosikan Batik Betawi dari Terogong、 karena itu Bu Lela secara khusus membuat motif batik "ondel ondel Maudy" sesuai saran Maudy yang ingin ada motif Ondel Ondel tapi jangan kelihatan serem.                                                                                  ket foto : Motif Batik Ondel Ondel Maudy                                                                           
Keahlian Bu Lela berbahasa inggris juga turut membantu Batik Betawi Terogong ini dikenal di kalangan ekspatriat juga turis asing. Di tahun 2015 Bu Lela pernah diminta mendampingi Miss Universe Paulina Vega yang datang ke.Jakarta.untuk mengenalkan batik dan mengajarkan membuat batik. Sejak saat itu banyak permintaan berdatangan dari beragam kalangan untuk dibuatkan workshop belajar membatik termasuk untuk sekolah sekolah internasional di Jakarta.                                            ket Foto : Bu Lela saat mendampingi Sang Ratu Sejagat                                                                                                                              
 Sebagai seorang Tourist Guide di Jakarta 、saya memang senang mempelajari segala hal tentang budaya Betawi termasuk mempromosikan ragam Batik kepada para wisatawan yang saya temui. Nah Kampung Batik Betawi Terogong ini menurut saya layak banget jadi destinasi wisata Batik di Jakarta yang ga kalah dengan Kampung Batik di Pekalongan dan daerah daerah lain yang terkenal dengan Batiknya.                                       Nah buat teman teman yang mau cari Batik Betawi langsung dari pengrajinnya atau ingin mengenal lebih dekat seperti apa Batik Betawi bisa cuzz langsung ke tempat ini、lokasinya hanya 1 km dari Stasiun MRT Cipete Raya. Disini juga banyak dijual aneka Batik Betawi Tulis dan Cetak print berkualitas dari mulai bentuk kain hingga bentuk pakaian jadi dengan harga terjangkau.                                                      


Ket : Artikel ini sudah tayang di blog kompasiana saya dengan link

https://www.kompasiana.com/iralathief/5decfda9d541df1b7d0bb902/yuk-kenali-lebih-dekat-batik-khas-jakarta-di-kampung-batik-terogong


Rekomendasi Kulineran Hits dan Belanja Oleh Oleh di Sukabumi

 Rekomendasi Kulineran Hits dan Belanja Oleh Oleh di Sukabumi


Wisata ke Sukabumi lagi heitz banget sejak ada Jembatan Gantung Situ Gunung yang merupakan jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara dan juga Tol Bocimi yang bikin perjalanan Jakarta -Sukabumi hanya 3 jam. Kalo udah di Sukabumi, jangan sampe ketinggalan hunting kuliner dan oleh oleh di tempat berikut ini :

1.Bika Ambon Sunda Rasa





Ya, ngga hanya Medan, Sukabumi juga punya bika ambon yang terkenal buat jadi oleh oleh yang terdapat di Toko Sunda Rasa. Ini adalah  toko kue dan pusat oleh oleh model Kartika Sari kalo di Bandung. Yang paling terkenal dari tempat ini adalah kue Bika Ambonnya yang maknyus banget dan macem macem rasanya, ada yang rasa pandan, sampe Gula Aren yang jadi favorit saya. 

Satu dus bika ambonhanya 45rb dan dikemas dalam box cantik berwarna-warni. Bagian atas box ada bulatan yang terbuat dari plastik bening agar pembeli dapat melihat bagian dalam box. Cakep banget kemasannya buat dijadikan oleh oleh. 

Alamat : Jl.Siliwangi No.68

2. Kue Sari Jahe Animo



Ini kue sari jahe legendaris banget khas Sukabumi yang udah ada sejak enam dasawarsa . Letak tokonya di gang kecil dan dalam rumah pemiliknya yag  sederhana sekaligus tempat produksinya.  Kue Sari Jahe Animo ini jenis kue klasik yang tak lekang oleh waktu. 
Dimulai dari industri rumahan di Sukabumi sejak tahun 1959 dan sampai saat ini tetap konsisten hingga dua generasi.

Rasa kue sari jahe Animo ini hampir mirip dekat biskuit jadul Verkade , tapi yang ini lebih kerasa rasa jahe nya plus ada rasa manis manisnya.  Paling pas kue ini jika disantap untuk teman minum kopi/ teh.Satu bungkus plastik kue Jahe cuma 15 ibu, dan ternyata pas dibawa pulang nenek saya juga suka banget kue ini. Nyesel juga ga beli banyak sekaligus

alamat : JL Siliwangi gg Mansur no 7.

3. Kue Moci Lampion

Siapa ga tau Kue Mochi oleh oleh khas Sukabumi yang digandrungi dari masa ke masa?. Kue mochi pun menjadi buah tangan yang wajib dibawa pulang jika berkunjung ke Sukabumi. Tekstur dan rasa mochi memang khas sehingga membuat kue ini disukai banyak orang sebagai camilan. Apalagi saat ini, rasa dan bentuknya semakin variatif. Selain kue Mochi original yang bisa mudah dijumpai di berbagai pelosok kota Sukabumi, kini ada juga kue Mochi kekinian dengan aneka rasa , contohnya kue Mochi Lampion.

Ini  pusat kue Mochi kekinian dengan aneka rasa seperti Ovomaltine, Kitkat, Oreo, Matcha dll. Yang rasa ovolmatine paling favorit dan bikin nagih banget! Satu dus mochi Lampion cuma Rp 50.000. Mochi Lampion selain di toko pusatnya juga ada cabangnya di kawasan wisata Jembatan Gantung Situ Gunung

alamat : Gang Keswari, Selabatu

4. Kafe 'Kapal Pesiar' Sakurate




Ini adalah resto masakan jepang yang dibangun di "kapal pesiar" buatan. Kalo kesini semua sudutnya instagramable banget buat pepotoan, termasuk bisa poto poto mesra ala Titanic .

Konsep Sakurate Resto ini adalah rumah makan yang dipadukan dengan nuansa pelayaran. Bentuk Resto dibangun diatas sebuah kapal pesiar mewah dengan dek atau lantai bertingkat dua.  Pada dek utama atau lantai atas berfungsi sebagai ruang makan terbuka. Dan di  lantai dasar kapal kabin kabin didesain jadi ruangan ruangan yang bisa dibooking private untuk grup, tentunya dengan interior serba Jepang. Ciamik banget. Selain menu menu Jepang yang jadi andalan disini,jangan lupa cobain juga Mochi Ice Cream nya yang manknyus punya!
alamat Sakurate Japanese Food at Sea :Jl. Salabintana Km 1, Komplek Azzahra Waterpark)

Saksikan juga video liputan NetTV ini untuk lihat kemegahan Resto Kapal Pesiar Sakurate 



video courtesy : Net TV

5. RM Joglo Pasundan 





Rumah Joglo biasanya identik dengan budaya Jawa Tengah, tapi ini ada Joglo di tanah pasundan.  Dan jika Anda mencari spot kuliner untuk "makan berat" sekaligus instagramable, cobalah datang ke tempat ini.





Resto Joglo Pasundan Soekaboemi ini baru berdiri sejak tahun 2018 ,  mengusung tradisional Jawa danjuga kolaborasi Sunda dalam setiap detail interiornya, mulai dari pintu masuk, pendopo hingga berbagai ornamen di dalamnya hingga pengunjung bisa merasakan budaya Jawa ala tempoe doeloe.  Berada di restoran ini, Anda bisa sambil mengagumi keindahan dan kemegahan setiap sudut interior dengan citarasa Jawa dan Sunda.  Begitupun menu menu makanannya  yang "blasteran" jawa dan Sunda . Menu favorit saya disini adalah  Nasi Tutug Oncom yang super sedap, sampai habis tak tersisa. 
Menu Favorit saya di resto ini adalah Nasi Tutug Oncomnya sedap banget  habis tak tersisa sedikitpun 
alamat : Jl KH Ahmad Sanusi no 15A



Copas dari link blog kompasiana saya di 



.(Spesial Thanks utk Prof Reni Akbar-Hawadi yg udh mengajak ke tempat tempat kuliner heitz ini)

Baca Juga Yang Satu Ini

Pesta Mandi Bedak , Puncak Perayaan Tahun Baruan Kampung Tugu Yang Tak Kalah Seru Dengan Festival Songkran di Thailand

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...