Monday, November 21, 2016

Profesi Tour Guide : Dari Obsesi Keliling Dunia Hingga Cita Cita Mempromosikan Indonesia ke mata Dunia


Ini kisahku tentang bagaimana dahulu yang begitu terobsesi  untuk Traveling keliling dunia, lalu bertransformasi menginginkan agar orang orang dari penjuru dunia lah yang datang ke Indonesia.

Dari kecil aku selalu ingin keliling dunia karena dipengaruhi oleh kebiasaan membaca banyak komik dan menonton film di bioskop bersama bapakku.  Komik Tintin, si wartawan yang sering berpetualang ke banyak negara, adalah bacaan favoritku. Dan aku selalu menikmati saat berada di dalam bioskop, menonton gambar hidup yang menampilkan pemandangan indah dari berbagai tempat seperti memasuki petualangan seru tersendiri untukku.  Lahir dan dibesarkan di Jakarta, bisa dibilang keluargaku juga jarang membawaku keluar dari Jakarta. Saat lebaran tiba, aku juga tak pernah merasakan mudik karena keluarga besarku memang berasal dari Jakarta.

Karena itu, waktu memasuki SMA, aku bergabung di ekskul Mading / Wartawan Sekolah, dimana aku bisa dapat kesempatan jalan jalan untuk bertemu banyak orang baru termasuk kalangan artis untuk di wawancara. Begitupun saat memasuki bangku kuliah, aku memilih jurusan Hubungan Internasional karena yang aku tahu jurusan tersebut lekat dengan jalan jalan dan traveling ke luar negeri. Alhamdulilah aku diterima di Jurusan HI Universitas Padjajaran di Bandung. Begitu girangnya, karena ini berarti kesempatanku untuk tinggal di luar Jakarta. Memasuki bangku kuliah itu pulalah, aku mengetahui sebagian besar teman teman sekelasku memasuki Jurusan Hubungan Internasional karena nantinya ingin menjadi Diplomat dan bekerja di Departemen Luar Negri. Namun aku sama sekali tidak merasakan keinginan yang sama, karena cita citaku masuk ke Jurusan HI memang hanya karena satu hati : Jalan Jalan ke Luar Negri.

Lucunya,  ternyata aku bisa mewujudukan impian “ke luar negri” itu tidak harus menunggu sampai  lulus kuliah. Saat di semester ke 3 di tahun 2001, aku mengikuti seleksi Program Kapal Pemuda ASEAN Jepang, dan terpilih menjadi salah satu dari 28 orang yang menjadi Delegasi Muda Indonesia, dan akan bergabung bersama ratusan pemuda pemudi terpilih dari Jepang dan negara negara Asean. Jadi di  tahun itulah, untuk pertama kalinya saya mewujudkan impian “melihat dunia”, pertama kalinya naik pesawat terbang, dan untuk pertama kalinya bepergian ke luar negri. Program Kapal Pemuda ASEAN Jepang (Ship for South East Asian Youth Program) itu menggunakan kapal pesiar mewah(Nippon Maru) yang mengunjungi Jepang dan negara negara peserta Asean selama kurun waktu dua bulan. Bayangkan, bukan saja aku bisa mengunjungi satu negara tapi langsung mengunjungi 10 negara sekaligus ! Sungguh pengalaman luar biasa bagiku di usia yang begitu belia saat itu berpetualang ke 10 negara menggunakan kapal pesiar.
             (menjadi Duta Muda Indonesia di Program Kapal Pemuda Asean Jepang, 2001)

Selama berlayar di dalam kapal berminggu minggu, saya benar benar menikmati berinteraksi dengan ratusan teman baru dan melakukan banyak aktifitas seru, dan seakan tidak peduli dengan perkembangan dunia di luar kapal. Saat itu belum ada teknologi smartphone, apalagi  teknologi “internet super cepat” seperti saat ini. Dan dari  program itu pulalah aku memiliki begitu banyak  sahabat dari berbagai negara dan juga keluarga angkat dari berbagai negara Jepang dan Asean, yang hingga kini masih terus menjalin silahturahmi .

Saat lulus dari bangku kuliah dan memasuki dunia kerja, aku pun memilih bekerja jadi Wartawan di TV. Lagi lagi karena satu alasan : Bisa Traveling ke banyak tempat. Selama 3 tahun bekerja jadi wartawan TV, aku memang banyak mendapat kesempatan Traveling ke berbagai tempat nusantara. Pada satu titik, aku merasa jenuh bekerja sebagai Wartawan TV yang selalu dikejar deadline harian dan rating. Hinngga akhirnya aku memutuskan untuk resign untuk mencoba dunia baru, dan mencoba beragam profesi yang dijalankan secara freelance, dari menjadi Penulis hingga akhirnya juga mengenal profesi Tour Guide atau Pemandu Wisata, yang ternyata begitu aku nikmati. 

Sebagai Tour Guide, saya lebih sering bekerja mandiri, dan mendapatkan client/ Turis dari internet. Bersyukur dengan era internet seperti saat ini, saya bisa dengan mudah mendapatkan client/ turis turis dari berbagai dunia.  Bahkan saat saya berada di rumah pun, dengan menggunakan internet ultra cepat dari www.myrepublic.co.id (DW TV) saya selalu bisa cepat terhubung untuk berkomunikas dengan para calon wisatawan yang merencanakan berwisata ke Jakarta dan kota kota lain di Indonesia.  

        (memandu Tur ke Mesjid Istiqlal, salah satu destinasi favorit wisataan asing saat di Jakarta)

Sebagai Pemandu Wisata, pada awalnya saya memandu beragam tur untuk para wisatawan asing yang datang dari berbagai negara.  Ada kebanggaan tersendiri saat bisa memandu dan bercerita segala hal tentang Jakarta dan juga tentang Indonesia pada para wisatawan mancanegara. Apalagi saat mengetahui bahwa budaya dan keindahan Indonesia begitu mengagumkan di mata para turis. Semakin menjalani profesi sebagai Tour Guide, kecintaan terhadap Indonesia semakin bertumbuh kuat. Hingga kini sudah 7 tahun saya menjalani profesi Tour Guide dan saya berharap akan terus menjalani profesi ini hingga tua.
(memandu wisatawan asing ke Kampung Naga)

Sebagai Tour Guide asal Jakarta, saya juga berusaha membangun citra pariwisata Jakarta. Bahwa Jakarta itu bukan hanya melulu tentang macet, macet , dan macet. Banyak hal seru dan menarik yang bisa di eksplor dari berbagai sudut Jakarta. Karena itu beberapa tahun belakangan ini, saya juga banyak menggagas berbagai Tur dengan konsep kreatif di Jakarta, dari mulai Heritage Walking Tour atau Food Tour, yang ternyata juga banyak diminati oleh sesama warga Jakarta sendiri, untuk lebih mengenal kota mereka. Bagi mereka, pengalaman ikut di berbagai Tur yang saya adakan, membuka mata bahwa ternyata berwisata mengeksplor berbagai tempat di Jakarta pun bisa menjadi aktifitas yang seru dan mengasyikkan . Bagi saya, ini suatu hal yang menggembirakan, karena memang ternyata banyak warga Jakarta yang tidak tahu banyak seluk beluk tentang kota mereka sendiri.  

                       (memandu wisatawan domestik di Kampung Nelayan Cilincing)

Kecintaan dan komitmen saya terhadap profesi Tour Guide yang dijalani, akhirnya membawa saya terpilih menjadi satu satunya Tour Guide yang akan mewakili Indonesia di ajang Japan- Asean Tour Guide Exchange Program yang akan berlangsung di Jepang , akhir bulan November ini. Ini pun adalah suatu penghargaan yang luar biasa istimewa bagi saya, mengingat sebenarya saya masih tergolong Tour Guide pemula, dibanding rekan rekan seprofesi yang lebih senior dan sudah puluhan tahun di menjadi Tour Guide.  

Namun dari semua itu, saya menyadari kini bahwa Traveling  itu bukan sekedar berjalan jalan sejauh mungkin melangkah. Traveling itu sendiri adalah proses perjalanan lebih ke dalam jiwa, untuk menemukan panggilan jiwa dan panggilan hidup sebenarnya. Dan saya menyadari panggilan jiwa saat ini adalah membantu mempromosikan Jakarta dan Indonesia ke mata dunia. . 

Profesi Tour Guide : Dari Obsesi Keliling Dunia Hingga Cita Cita Mempromosikan Indonesia ke mata Dunia


Ini kisahku tentang bagaimana dahulu yang begitu terobsesi  untuk Traveling keliling dunia, lalu bertransformasi menginginkan agar orang orang dari penjuru dunia lah yang datang ke Indonesia.

Dari kecil aku selalu ingin keliling dunia karena dipengaruhi oleh kebiasaan membaca banyak komik dan menonton film di bioskop bersama bapakku.  Komik Tintin, si wartawan yang sering berpetualang ke banyak negara, adalah bacaan favoritku. Dan aku selalu menikmati saat berada di dalam bioskop, menonton gambar hidup yang menampilkan pemandangan indah dari berbagai tempat seperti memasuki petualangan seru tersendiri untukku.  Lahir dan dibesarkan di Jakarta, bisa dibilang keluargaku juga jarang membawaku keluar dari Jakarta. Saat lebaran tiba, aku juga tak pernah merasakan mudik karena keluarga besarku memang berasal dari Jakarta.

Karena itu, waktu memasuki SMA, aku bergabung di ekskul Mading / Wartawan Sekolah, dimana aku bisa dapat kesempatan jalan jalan untuk bertemu banyak orang baru termasuk kalangan artis untuk di wawancara. Begitupun saat memasuki bangku kuliah, aku memilih jurusan Hubungan Internasional karena yang aku tahu jurusan tersebut lekat dengan jalan jalan dan traveling ke luar negeri. Alhamdulilah aku diterima di Jurusan HI Universitas Padjajaran di Bandung. Begitu girangnya, karena ini berarti kesempatanku untuk tinggal di luar Jakarta. Memasuki bangku kuliah itu pulalah, aku mengetahui sebagian besar teman teman sekelasku memasuki Jurusan Hubungan Internasional karena nantinya ingin menjadi Diplomat dan bekerja di Departemen Luar Negri. Namun aku sama sekali tidak merasakan keinginan yang sama, karena cita citaku masuk ke Jurusan HI memang hanya karena satu hati : Jalan Jalan ke Luar Negri.

Lucunya,  ternyata aku bisa mewujudukan impian “ke luar negri” itu tidak harus menunggu sampai  lulus kuliah. Saat di semester ke 3 di tahun 2001, aku mengikuti seleksi Program Kapal Pemuda ASEAN Jepang, dan terpilih menjadi salah satu dari 28 orang yang menjadi Delegasi Muda Indonesia, dan akan bergabung bersama ratusan pemuda pemudi terpilih dari Jepang dan negara negara Asean. Jadi di  tahun itulah, untuk pertama kalinya saya mewujudkan impian “melihat dunia”, pertama kalinya naik pesawat terbang, dan untuk pertama kalinya bepergian ke luar negri. Program Kapal Pemuda ASEAN Jepang (Ship for South East Asian Youth Program) itu menggunakan kapal pesiar mewah(Nippon Maru) yang mengunjungi Jepang dan negara negara peserta Asean selama kurun waktu dua bulan. Bayangkan, bukan saja aku bisa mengunjungi satu negara tapi langsung mengunjungi 10 negara sekaligus ! Sungguh pengalaman luar biasa bagiku di usia yang begitu belia saat itu berpetualang ke 10 negara menggunakan kapal pesiar. Selama berlayar di dalam kapal berminggu minggu, saya benar benar menikmati berinteraksi dengan ratusan teman baru dan melakukan banyak aktifitas seru, dan seakan tidak peduli dengan perkembangan dunia di luar kapal. Saat itu belum ada teknologi smartphone, apalagi  teknologi “internet super cepat” seperti saat ini. Dan dari  program itu pulalah aku memiliki begitu banyak  sahabat dari berbagai negara dan juga keluarga angkat dari berbagai negara Jepang dan Asean, yang hingga kini masih terus menjalin silahturahmi .

Saat lulus dari bangku kuliah dan memasuki dunia kerja, aku pun memilih bekerja jadi Wartawan di TV. Lagi lagi karena satu alasan : Bisa Traveling ke banyak tempat. Selama 3 tahun bekerja jadi wartawan TV, aku memang banyak mendapat kesempatan Traveling ke berbagai tempat nusantara. Pada satu titik, aku merasa jenuh bekerja sebagai Wartawan TV yang selalu dikejar deadline harian dan rating. Hinngga akhirnya aku memutuskan untuk resign untuk mencoba dunia baru, dan mencoba beragam profesi yang dijalankan secara freelance, dari menjadi Penulis hingga akhirnya juga mengenal profesi Tour Guide atau Pemandu Wisata, yang ternyata begitu aku nikmati.  Sebagai Tour Guide, saya lebih sering bekerja mandiri, dan mendapatkan client/ Turis dari internet. Bersyukur dengan era internet seperti saat ini, saya bisa dengan mudah mendapatkan client/ turis turis dari berbagai dunia.  Bahkan saat saya berada di rumah pun, dengan menggunakan internet ultra cepat dari www.myrepublic.co.id (DW TV) saya selalu bisa cepat terhubung untuk berkomunikas dengan para calon wisatawan yang merencanakan berwisata ke Jakarta dan kota kota lain di Indonesia.  

        (memandu Tur ke Mesjid Istiqlal, salah satu destinasi favorit wisataan asing saat di Jakarta)

Sebagai Pemandu Wisata, pada awalnya saya memandu beragam tur untuk para wisatawan asing yang datang dari berbagai negara.  Ada kebanggaan tersendiri saat bisa memandu dan bercerita segala hal tentang Jakarta dan juga tentang Indonesia pada para wisatawan mancanegara. Apalagi saat mengetahui bahwa budaya dan keindahan Indonesia begitu mengagumkan di mata para turis. Semakin menjalani profesi sebagai Tour Guide, kecintaan terhadap Indonesia semakin bertumbuh kuat. Hingga kini sudah 7 tahun saya menjalani profesi Tour Guide dan saya berharap akan terus menjalani profesi ini hingga tua.


Sebagai Tour Guide di Jakarta, saya juga berusaha membangun citra pariwisata Jakarta. Bahwa Jakarta itu bukan hanya melulu tentang macet, macet , dan macet. Banyak hal seru dan menarik yang bisa di eksplor dari berbagai sudut Jakarta. Karena itu beberapa tahun belakangan ini, saya juga banyak menggagas berbagai Tur dengan konsep kreatif di Jakarta, dari mulai Heritage Walking Tour atau Food Tour, yang ternyata juga banyak diminati oleh sesama warga Jakarta sendiri, untuk lebih mengenal kota mereka. Bagi mereka, pengalaman ikut di berbagai Tur yang saya adakan, membuka mata bahwa ternyata berwisata mengeksplor berbagai tempat di Jakarta pun bisa menjadi aktifitas yang seru dan mengasyikkan . Bagi saya, ini suatu hal yang menggembirakan, karena memang ternyata banyak warga Jakarta yang tidak tahu banyak seluk beluk tentang kota mereka sendiri.  
Kecintaan dan komitmen saya terhadap profesi Tour Guide yang dijalani, akhirnya membawa saya terpilih menjadi satu satunya Tour Guide yang akan mewakili Indonesia di ajang Japan- Asean Tour Guide Exchange Program yang akan berlangsung di Jepang , akhir bulan November ini. Ini pun adalah suatu penghargaan yang luar biasa istimewa bagi saya, mengingat sebenarya saya masih tergolong Tour Guide pemula, dibanding rekan rekan seprofesi yang lebih senior dan sudah puluhan tahun di menjadi Tour Guide.  


Namun dari semua itu, saya menyadari kini bahwa Traveling  itu bukan sekedar berjalan jalan sejauh mungkin melangkah. Traveling itu sendiri adalah proses perjalanan lebih ke dalam jiwa, untuk menemukan panggilan jiwa dan panggilan hidup sebenarnya. Dan saya menyadari panggilan jiwa saat ini adalah membantu mempromosikan Jakarta dan Indonesia ke mata dunia. . 

Saturday, November 05, 2016

Serunya Jelajah Kampung Nelayan Cilincing, Melihat Sisi Lain Jakarta yang tak hanya gemerlap


“Nenek moyangku orang pelaut .. gemar mengarungi luas samudra … menerjang ombak tiada takut … menempuh badai sudah biasa”

Sebagai warga Jakarta yang bekerja sebagai Tour Guide dengan spesialisasi untuk Food Tour, saya sering membuat rute rute wisata kreatif untuk mengeksplorasi berbagai tempat di Jakarta. Namun saya mengamati Wisata Pesisir di Jakarta, belum banyak di ekplorasi padahal perkembangan kota Jakarta mempunyai sejarah yang cukup erat dengan laut.

Karena itulah, beberapa waktu lalu saya bersama Jakarta Food Adventure menggagas sebuah Food Tour ke kawasan Cilincing, Jakarta Utara, untuk  menjelajahi kehidupan di Kampung Nelayan sekaligus mengeksplorasi kelezatan kreasi makanan olahan. Saya ingin mengajak peserta tur untuk melihat lebih dekat gimana kehidupan orang-orang di pesisir Jakarta yang hidup dari laut, karena Jakarta bukan cuma tentang gemerlap kota saja.



Tur ini sendiri diikuti oleh 25 orang peserta tur, juga beberapa rekan rekan media dari Televisi dan surat kabar nasional. Sebagian besar peserta Tur adalah warga Jakarta, yang walaupun sudah berpuluh tahun tinggal di Jakarta, tapi belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Kampung Nelayan Cilincing.

Daftar tempat tempat yang dikunjungi dalam tur ini adalah Tempat Penjemuran Ikan Asin, Tempat Pembersihan Kerang Hijau, Kelas Belajar Oky, Pasar Ikan, Krematorium Cilincing, Kampung Nelayan , dan beberapa tempat ibadah bersejarah di pesisir laut Cilincing (Mesjid Al Alam, Vihara Lalitavistara, Pura Segara), serta di akhiri dengan menikmati aneka makanan laut di sebuah Restoran Seafood. 



Saya membuka Tur dengan menyanyikan sepenggal lirik lagu “Nenek Moyangku orang Pelaut”, sambil menceritakan kepada peserta Tur bagaimana nenek moyang orang Indonesia pernah berjaya di laut sejak belasan abad lalu. Food Tour ke Kampung Nelayan Cilincing ini saya adakan juga sebagai upaya mempromosikan wisata pesisir yang lekat dengan kehidupan laut.   

Penjelajahan awal  Tur kami dimulai di SMK 36 yang merupakan satu satunya  SMK dengan spesialisasi Ilmu tentang Kelautan di Jakarta.  Di tempat ini kami berkesempatan bertemu dengan beberapa siswa/i dari Jurusan Budidaya Hasil Laut, yang menunjukkan produk produk olahan hasil ikan buatan mereka, seperti Otak Otak Ikan, Baso Ikan, Minuman Rumput Laut dll, yang ramai diborong oleh para peserta Tur.

                (peserta Tur memborong produk olahan laut buatan siswa siswi SMK 36)

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Pusat Pengeringan Ikan Asin, yang merupakan pusat  pengeringan Ikan asin terbesar kedua di Jakarta selain di Muara Angke. Ikan Asin merupakan salah satu sumber kalsium di samping susu dan sayuran, dan banyak digemari oleh keluarga Indonesia untuk dijadikan berbagai olahan masakan. Proses Pengolahan Ikan Asin di Cilincing masih dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dijemur berhari hari dengan mengandalkan sinar matahari. Teknik pengasinan tradisional ini dipercaya menghasilkan kualitas ikan asin yang lebih baik daripada yang menggunakan teknologi modern (oven). Saat mengunjungi Tempat Pengolahan Ikan Asin ini, para peserta Tur ramai ramai memborong beli Ikan Asin hingga berkilo kilo.


Lalu kami beranjak ke tempat kunjungan kedua, yaitu Tempat Pengupasan Kerang Hijau. Kerang hijau (Perna Viridisi) merupakan hasil laut yang menjadi andalan sebagian besar nelayan di Cilincing. Kerang hijau diperoleh para nelayan dengan cara penangkapan alami atau hasil budi daya. Teluk di sekitar Cilincing banyak dijadikan lokasi pembudidayaan kerang hijau yang dilakukan dengan teknologi sederhana. Kerang Hijau atau dikenal juga sebagai Kijing memiliki nilai ekonomis dan kandungan gizi yang sangat baik untuk dikonsumsi. Kandungan gizi pada kerang hijau sebanding dengan daging sapi, telur maupun daging ayam. Kerang Hijau yang banyak dijajakan oleh pedagang keliling di wilayah Jakarta, banyak yang berasal dari Cilincing. Di tempat ini, saya mengajak para peserta Tur untuk mencicipi olahan Kijing yang telah diberikan bumbu kunyit yang lezat.

(tempat pengupasan kerang hijau)

(kerang hijau bumbu kunyit lezat yang dicoba para peserta Tur)

Lalu tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Kelas Belajar Oky, yang merupakan komunitas belajar untuk anak anak nelayan yang digagas oleh Oky Setiarso . Di tempat inilah anak anak nelayan Cilincing setiap minggu bisa mengikuti kegiatan belajar membaca , belajar bahasa inggris, hingga belajar menggambar. Menurut Oky yang juga mempunyai gelar Master di bidang Human Nutrition,  anak anak di Kampung Nelayan Cilincing memiliki daya tangkap yang cepat dan mudah menangkap pelajaran, karena mereka sering mengkonsumsi kijing. Wah ini suatu informasi yang menarik bagi saya dan juga para peserta Tur. Sejak sering mengikuti aktifitas di Kelas Belajar Oky, anak anak nelayan Cilincing juga banyak yang memiliki banyak pilihan cita cita. Kalau sebelumnya, kebanyakan anak anak itu hanya ingin bercita cita menjadi pengupas kerang , sekarang mereka banyak yang bercita cita menjadi Pilot, Dokter, hingga Pengusaha. Wah kerennn !!





Penjelajahan kami berikutnya adalah melihat Kampung Nelayan, dimana kami melihat aktifitas para warga yang sedang membuat kapal kayu. Selain melaut sebagai nelayan, warga Cilincing juga banyak yang berprofesi membuat perahu kayu berdasarkan pesanan. Walaupun kini juga semakin banyak warga Cilincing yang memilih kerja menjadi buruh pabrik di Kawasan Berikat Nusantara, Cilincing.  

 (Berbincang dengan Putut, pemuda Cilincing yang masih bertahan bekerja dari laut. Kawan          sebaya Putut banyak yang memilih bekerja sebagai buruh pabrik.)

Setelah menjelajah kampung nelayan, saya mengajak peserta Tur untuk mengunjungi beberapa rumah ibadah bersejarah yang berada dalam radius 1km, yaitu Masjid Al-Alam Cilincing, Vihara / Klenteng Lalitavistara dan Puri Segara, yang merupakan satu satunya Puri di Jakarta yang terletak di pinggir laut. Ini adalah bukti adanya kerukunan dan toleransi beragama yang sangat kuat di kalangan warga pesisir
(Wihara Lalitavistara, sudah ada sejak abad 16. Di komplek Wihara ini juga terdapat Sekolah Tinggi Agama Budha, yang memiliki jenjang Master, dan merupakan satu satunya di Indonesia)

(Pura Segara, satu satunya Pura di Jakarta yang terletak di pinggir Laut, dibangun sejak tahun 1992)

(Wasiat Sunan Gunung Jati di dalam Masjid Al Alam Cilicing, yang telah berdiri sejak abad 16)

Gak lupa di “Jelajah Kampung Nelayan Cilincing” ini diisi dengan jelalah kuliner santapan laut  dengan makan siang bersama dengan mencicipi dan mencoba aneka hidangan laut / Seafood yang lezat di Babeh Seafood, Resto Seafood paling beken di kawasan Cilincing. Berkeliling Kampun Nelayan Cilincing dan menyicipi beragam kuliner khas pesisir Jakarta tentu menjadi aktivitas wisata alternatif yang menarik untuk melihat sisi lain dari sebuah kota yang modern.

     (aneka makanan laut yang dicicipi para peserta tur......bergizi tinggi dan lezaaat semuanya ! )

Setelah puas mencicipi seafood,  Tur ini dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Si Pitung ,di kawasan Marunda.  Pitung, yang dikenal sebagai jagoan Beawi ini,  aslinya adalah orang Banten yang merantau ke Kemayoran untuk belajar Silat. Rumah Pitung yang kami kunjungi ini dahulunya adalah milik saudagar asal Bugis, yang kerap  menjadi tempat persembunyian Pitung saat dikejar kejar Belanda. Sejak Jokowi menjadi Gubernur, Rumah Pitung ini diresmikan sebagai Museum, dan berada dalam satu manajemen dengan   Museum Bahari. 


Jalan jalan ke pesisir Utara Jakarta ini adalah pilihan yang menarik untuk mengesplor sisi lain dari Jakarta. Bahwa Jakarta bukan hanya gemerlap kota saja.

Mau tau lebih banyak gimana serunya Tur jelajah kawasan pesisir Jakarta termasuk mencicipi aneka kuliner olahan laut di pesisir Jakarta? saksikan video liputan saat Tur oleh BeritaSatuTV di sini.



#CeritaTourGuide #CeritaJakarta

Thursday, October 27, 2016

Up2Yu Cafe : Tongkrongan Asyik di Tepi Kolam Renang Cikini yang Legendaris

Akhir pekan lalu, saya dan temen food blogger dari KPK (Kompasianer Penggila Kuliner) berkesempatan berkunjung ke Up2Yu Cafe yang berlokasi di dalam Hotel Ibis , Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat. Sebagai Tour Guide,  padahal saya sering mondar mandir ke Hotel Ibis ini , tapi kok rasanya ga pernah lihat nih Kafe sebelumnya. Oh, ternyata Kafe ini baru buka 3minggu, wuiiih masih baru gress ternyata.  Beruntungnya KPK menjadi komunitas food blogger pertama yang diundang untuk up close and personal dengan nih Kafe. Udah betul banget deh, management Up2Yu Cafe ngundangnya KPK yang isinya para artis ibukota....hehehehe

Letak Kafe ini yang berada di sisi kolam renang Cikini yang legendaris itu , menjadi daya tarik tersendiri, karena kolam renang Cikini termasuk tempat bersejarah di Jakarta.  Buat kamu yang belum tau, kolam renang Cikini (Zwembad) ini sendiri adalah kolam renang bersejarah di Jakarta yang sudah berdiri dari jaman Belanda, dan dulu merupakan bagian dari kawasan rumah pelukis Raden Saleh.  Walaupun bangunan dan gedung gedung yang mengelilingi kolam renang Cikini terus berganti, namun keberadaan Kolam Renang Cikini tetap anti badai seperti bulu mata Syahrini.  

Saat ini, Kolam Renang Cikini berada di kawasan Hotel Ibis, dan kabarnya sering dikunjungi para diver pemula yang ingin latihan diving. Sampai akhir 1950-an, masih banyak warga Belanda yang  mandi di kolam renang Cikini, yang situasinya lebih mewah dari kolam renang Manggarai (kini jadi Pasar Raya). Dan konon, dahulu pun banyak pria pribumi yang senang berenang di kolam ini karena bisa “cuci mata” lihat para gadis gadis bule memakai sempak nan seksi....hahahah

Dan buat saya yang memang senang memandang  laut.  Kalau kita berada di dalam Up2Yu Cafe dan duduk di bagian sisi jendela,  sejauh mata memandang kita bisa memandang  birunya air kolam renang yang meneduhkan ....rasanya tenang dan dan bikin hati adem gimana gitu...hati seadem seperti baru nerima duit segepok....yeaayy dasar matre...

          (penampakan Zwembad Tjikini Tempoe Doeloe - sumber : mediakitlv-nl)



              (penampakan Kolam Renang Cikini saat ini, dipandang dari dalam Up2Yu Cafe )

Oke oke cukup bahasan tentang Kolam Renang Cikini, bisa habis bulu mata Syahrini kalo saya cuma  bahas sejarah kolam renang aja disini. Sekarang saya mau bahas tentang gimana ayiknya nih Up2Yu kafe . Jadi saat acara KPK Grebek, kami disambut langsung oleh para owner yaitu Ibu Miza Tania  (General Manager) dan Pak Adhi Nugroho (Director) yang menjelaskan segala macam tentang Up2Yu Kafe, yang juga adalah “format baru” dari Restoran Platters di Kawasan Kuningan, yang saat ini sudah tutup.   Lalu ada Chef Budi yang ikut menjelaskan tentang racikan berbagai menu andalan yang disajikan yaitu, Sup Buntut, Nasi Goreng Gila, Roti Beef Brucheta, Sapo Tahu. Sekilas, nama menu menu seperti ini memang banyak dijumpai di Restoran lain. Apa yang membuat menu menu ini jadi spesial disajikan di Up2Yu Kafe ?


                                       (Roti Beef Brucheta, Rp 32.000)

Untuk makanan pembuka saya mencicipi Beef Brucheta, yang terbuat dari irisan roti dengan topping daging cincang dengan bumbu Italia dilumuri keju mozarella.  Beef Brucheta seperti ini juga banyak didapati di Resto Pizza Hut, yang biasanya disajikan dengan Garlic Bread.  Gimana rasanya? Beef nya enyaak...satu potong rasanya tidak cukup. Tapi menurut saya, rotinya bakal lebih mantap kalo memakai Garlic Bread.

                                            (Sup Buntut , harga Rp 90.000)

Menurut Ibu Miza Tania, Sup Buntut merupakan salah satu menu yang banyak dipesan para pengunjung.  Saat mencoba Sup Buntu Up2Yu, saya berani bilang rasanya tidak kalah dengan Sup Buntut Legendaris di Hotel Borobudur.  Menurut Chef Budi,  Sup Buntut disini memang terbuat dari kualitas daging terbaik yang merupakan daging sapi impor dan dimasak dengan proses yang lama, hingga dagingnya pun bertekstur sangat lembut.


                                      (Nasi Goreng Gila...Gila bener Pedesnya, Rp 49.000)

Sedangkan Nasi Goreng Gila juga merupakan andalan Up2Yu Kafe. Kenapa mesti ada menu Nasi Goreng Gila ya di Up2Yu? Padahal kan ini banyak dijual di pinggir jalan seputar Menteng. Menurut Pak Adhi Nugroho, justru karena Menteng identik dengan Nasi Goreng Gila, karena itu Up2Yu yang memang berlokasi di kawasan Menteng merasa perlu  menyediakan Nasi Goreng Gila sebagai menu andalan.   Yang membedakan, Nasi Goreng Gila disini diracik dengan cita rasa pedas dan dengan porsi yang sangat besar. Saat kami mencicipi Nasi Goreng Gila ini, wuiiih pedesnya emang nampol.  Isinya pun bejibun, dari mulai daging yang berlimpah, bakso, sosis, ayam, dan telur. Beberapa Kompasianer kepedesan sangat mencicipi menu ini, tapi buat saya yang penggila pedas, menu Nasi Goreng Gila ini bener bener bikin merem melek!

                                                   (Tape Bakar Saus Karamel, Rp 25.000)

Sedangkan untuk makanan penutup, saya mencicipi Tape Bakar Khas Up2You yang disajikan dengan saus Karamel. Sebenarnya rasa Tape Bakar ini mirip mirip dengan Colenak (singkatan dari Dicocol Enak) jajanan khas Bandung, tapi Tape Bakar ini disajikan dengan saus karamel dan taburan mesis coklat.  Dan kalau coba Tape Bakar Up2Yu ini, rasanya ga cukup cuma satu cocol makannya..harus dicocol berkali kali ..nambah lagi dan lagi... 

Fasilitasnya apa aja ?? 

Selain menu menu di atas, andalan Up2Yu ini adalah juga tempatnya yang memang asyik buat nongkrong berjam jam, karena dilengkapi dengan free wifi dan koneksi internet berkecepatan tinggi. Makanya di setiap bawah kursi ada colokan dimana mana , bahkan management Cafe juga meminjamkan banyak power bank yang bisa dibawa ke meja  masing masing...Iih tau aja nih kafe, kalo buat generasi kekinian , keberadaan wifi, colokan dan power bank  adalahkebutuhan primer yang maha penting..kalo kata tukang ojek online gaul di komplek rumah gue, daripada ga  ada jaringan internet, colokan, dan power bank seharian, lebih baik ga ketemu istri berhari hari....wewwww

Menurut Pak Adhi Nugroho, kafe ini memang dibuat supaya para pengunjung betah, termasuk untuk mereka yang butuh tempat buat nongkrong atau kerja dengan laptop berlama lama, dan dijamin ga bakal diusir meskipun kamu nongkrong seharian disini, asal order makan atau minum aja....kecuali kamu jenis orang yang ga tau malu, ke Kafe mesennya es teh manis, trus numpang wifi-an sehari semalem...(eh maaf loh kalo ada yang merasa ngerasa kesinggung :p) 

Tapi jujur buat penulis kayak gue yang sering butuh tempat nongkrong buat kerja dengan laptop berjam jam, penting banget  loh ada Kafe yang  bikin nyaman...yang pelayannya ga bentar bentar bolak balik nanyain “mba , ada mau pesen lagi”?  , padahal itu kode buat ngusir...huh.....Eh jangan salah, buat gue sih saat nongkrong di Kafe kalo tempatnya udah bikin betah, harus mesen makanan berkali kali ga masalah, yang masalah itu adalah harus bayarnya...hahahahaha.. 

Dan karena tempatnya strategis di Pusat Jakarta,  Up2Yu Cafe ini juga pas dijadikan  tempat  meeting  buat ajang arisan hingga reunian, atau sekedar tempat kongkow bareng untuk bahas panasnya Pilkada DKI.....hallaaah

                                                  

Di banyak kursi kursi Up2Yu  juga menyediakan bantal bantal empuk yang bisa bikin kamu makin betah leyeh leyeh disini.... buat para jomblo , kalo ga bisa manja manjaan ama pasangan di kafe ini, ya pelukan cantik aja ama bantal bantal lucu ini ...lumayan kan daripada lu manyun...hehehe... Dari sisi interior, Up2Yu Kafe ini tidak terlalu punya konsep yang wah  atau aneh gimana gitu, konsepnya emang simple...Tapi ada satu yang menarik dari kafe ini, yaitu di pintu depannya yang terbuat dari Besi, para pengunjung bisa memimjam kaos KPK  berwarna oranye dan berfoto ganteng dan cantik ala tahanan KPK kayak gini ini.


Terima kasih Up2Yu Cafe, udah mengundang kami para artis ibukota dan penggila makanan ...Salam Kenyang!!



#CeritaTourGuide #CeritaJakarta #CeritaKuliner


Up2yu Resto &Cafe
Alamat :  Komplex Ibis Budget Hotel Cikini, Jl. Cikini Raya No. 75, Jakarta Pusat.
Phone : +62 21 3146 779

Email  : contact@up2yu.cafe

Jam Buka : 10pagi – 10malem (hari biasa) , 10 pagi- 12malem (weekend)

Wednesday, October 19, 2016

Oktober Yang Mengajarkanku Hidup






Hujan Pertama di bulan Oktober,
Darimu aku belajar tentang kesabaran.
Sabar untuk menunggu, bahwa setiap lara yang datang pasti akan berlalu.
Seperti hadirnya dirimu yang perlahan menghalau kemarau.
Mengubah segala galau menjadi senda gurau.

Hujan pertama di bulan Oktober,
Darimu pun aku belajar tentang keikhlasan.
Ikhlas untuk melepas, bahwa tak ada sesuatupun yang abadi dalam hidup ini.
Seperti hadirnya dirimu yang jua akan pergi dalam enam purnama lagi.

Menggantikan musim lain yang terus akan datang dan pergi. 

(October 2016)


Kecanduan Kamu




Kamu adalah candu yang memabukkan bagiku.
Karena kamu lah yang menyita perhatianku sepanjang waktu.
Kala  fajar menyingsing, hingga kembali ke peraduanku.

Kamu adalah adalah candu yang melenakan bagiku.
Karena kamu lah yang memaksaku terus menatapmu tanpa jemu.
Kala ku seorang diri, ataupun kala ku bersama mereka yang menyayangku

Mencandumu sungguh melupadaratkan hidupku
Layar Hapeku,  bagaimana aku bisa lepas dari belenggumu? 

(September 2016)

Wednesday, October 12, 2016

Kamu Harus Tahu : Fakta Menarik tentang Mesjid Istiqlal ini




Tahukah Anda, kenapa di Mesjid Istiqlal, tempat sholat untuk jemaah lelaki dan perempuan diatur bersisian/ berdampingan dan bukannya diatur jadi depan - belakang seperti di banyak mesjid ?

Mesjid Istiqlal adalah salah satu tempat tujuan wisata yang paling menarik untuk dikunjungi bagi para turis asing yang sering saya bawa. Apa istimewanya Mesjid Istiqlal selain ini adalah mesjid no.3 terbesar di dunia dan bisa menampung 200ribu jemaah? .

Tentu begitu banyak keistimewaan Mesjid Istiqlal selain sekedar tampilan fisik dan asitekturnya yang memang luar biasa megah dan mengundang decak kagum para turis. Sebagai Tour Guide, saya senang menceritakan bahwa Mesjid ini memiliki nilai nilai universal yang begitu agung . Mesid Istiqlal adalah Mesjid Nasional jadi setiap unsur di dalamnya pun mengandung simbol dan idealisme perpaduan nilai nilai Islam dan kebangsaan Indonesia.

Berdirinya Mesjid Istiqlal juga adalah wujud toleransi dan harmoni keberagaman beragama karena Mesjid ini di desain oleh seorang Arsitek non Muslim (Frederik Silaban) seorang penganut Protestan yang sangat taat. Begitupun lokasi pembangunan Mesjid sengaja dipilih pas bersebrangan dengan Gereja Katedral yg terlebih dahulu berdiri sejak abad 19.

Bahkan hingga saat ini, saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha seperti hari ini, jemaah Mesjid Istiqlal bisa memarkir kendaraan di Katedral. Begitupun sebaliknya, saat perayaan Natal, jemaah Gereja bisa memarkir kendaraan di Istiqlal. Di perayaan Natal tahun lalu yang jatuh tepat bersamaan dengan ibadah Sholat Jumat, pihak Mesjid Istiqlal secara khusus menyiapkan lahan parkir yang begitu luas untuk jemaah Gereja, walaupun biasanya tiap hari Jumat area parkir Istiqlal juga padat.

Selain itu, ada satu hal lain yang istimewa di Mesjid Istiqlal ini, yang mungkin belum umum diketahui khalayak luas, yaitu tempat sholat jemaah pria dan wanita dibuat bersisian/ berdampingan, berbeda dengan banyak mesjid yang menempatkan jemaah pria dan perempuan di bagian depan - belakang.

Kenapa Istiqlal menempatkan bagian jemaah pria dan perempuan bersisian seperti ini ? Jadi ternyata ini adalah simbol dari keberadaan Islam di Indonesia yang mengakui Equality (persamaan hak) antara hak perempuan dan lelaki di Indonesia. Menurut informasi dari salah satu petugas Humas Isqtiqlal yang pernah mendamping tur saya, dahulu ketika pertama kali Istiqlal dibangun, tempat jemaah Perempuan ditempatkan di belakang laki laki. Tapi berdasarkan masukan dari berbagai cendekiawan muslim, hal ini tidak mencerminkan nilai nilai Islam yang sesungguhnya yang menjunjung persamaan hak antara lelaki dan perempuan. Karena itu posisi tempat sholat pun disesuaikan. Dan beberapa waktu lalu, saat membawa Tur ke Istiqlal, saya pun pernah menyaksikan ada sesi ceramah agama dengan dipimpin seorang Ustadzah, yang diikuti jemaah lelaki dan perempuan. Ini hal yang sebenarnya juga jarang dilihat di mesjid mesjid kebanyakan.

Hal seperti ini sangat menarik perhatian banyak turis asing, yang sudah sering Traveling ke banyak negara dan sebagian dari mereka sudah pernah mengunjungi Mesjid di berbagai negara. Di banyak Mesjid, tempat Sholat perempuan seringnya ditempatkan di bagian belakang. Bahkan di banyak negara Arab, tempat sholat perempuan ditempatkan di ruang terpisah, dan seringkali space nya hanya kecil saja. Bagi turis turis asing, pengalaman berkunjung ke Istiqlal bisa memberi wawasan baru betapa kehidupan umat Islam di Indonesia sangat terbuka, demokratis, juga memuliakan peran perempuan, jauh berbeda dari persepsi negatif tentang Islam yang banyak diberitakan di media.

Tapi jika Mesjid Istiqlal yang merupakan mesjid nasional saja menempatkan jemaah lelaki dan peremuan secara Equal / bersisian. kenapa di kebanyakan Mesjid di Indonesia, tempat sholat bagian lelaki dan perempuan pun masih dibuat depan- belakang ? Hmmm saya pun belum tau pasti kenapa... . ada yang bisa bantu jawab??

#CeritaTourGuide

Wednesday, October 05, 2016

Not just a Book. It's a Work of Art







“Ceritaku tentang Normal is Boring dan Book "Do What You Love. Love What You Do", buku buku wujud idealisme"

Terkadang berbagai penolakan membuat kita ingin berheti berkarya. Apalagi jika karya yang kita hasilkan itu “terlalu idealis”.Jalan mewujudkannya ga selalu mudah, dan kadang perlu proses panjang dan banyak penolakan dulu sebelum akhirnya bisa diterima. But it’s really worth the wait.

Setelah menghasilkan belasan buku, saya baru terpikirkan untuk menghasilkan buku buku yang benar benar sesuai idealisme dan hasil pemikiran pemikiran saya sendiri. Buku buku yang tidak perlu memusingkan bakal komersil atau gak. Yang isinya tidak saja provokatif , tapi juga kreatif secara desain dan visual. Butuh waktu lama untuk saya menemukan penerbit yang bisa “klop dan sehati” menerima ide gila saya dan membantu mewujudkannya.

Seperti cerita buku Normal is Boring , buku pengembangan diri tentang ‘Berfikir kreatif” yang terbit di tahun 2012 dan ternyata malah menjadi National Best Seller. Butuh 3 tahun agar naskah buku ini bisa terbit, setelah sebelumnya pernah ditolak sampai 3 penerbit. Ide awal buku ini adalah bikin buku tentang berfikir kreatif , dan berfkir "out of the box", baik isi (content) maupun juga konsep design bukunya.

Setelah beberapa penerbit menolak naskah buku yg saya ajukan, saya sempat patah arang dan ingin berhenti saja mengajukan naskah buku ini. Saya sempat berfikir mungkin naskah buku saya terlalu “absurd”, dan ga meneruskan mengajukan naskah buku tersebut. Untungnya saya gak berhenti (juga pada dasarnya saya adalah muka tembok), akhirnya saya teruskan lagi ajukan naskah ke penerbit penerbit lain .

Alhamdulilah naskah buku “Normal is Boring” akhirnya dilirik oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, setelah saya bertemu dengan pak J Dwi Helly Purnomo kenalan lama saya. Saya juga menyampaikan keinginan saya untuk membuat buku yang ‘nyeleneh” secara tampilan. Beliau juga yang menyarankan saya untuk mencari desainer yang cocok agar leluasa mengkonsep visual/ desain buku seunik mungkin seperti yang saya ajukan. Alhamdulilah saya bertemu dengan pasangan Hariadhi + Mila , juga Fajrin Fathia tim desainer hebat yang membantu mewujudukan konsep desain buku seperti yang saya mau .




Akhirnya Buku Normal is Boring pun selesai dengan konsep yang termasuk ‘gak umum” utk saat itu : Dibaca dari cover belakang ke depan (seperti Al qur’an) dan begitu banyak grafis , foto serta gambar. Desain cover depannya sangat sederhana, hanya tulisan hitam dengan background putih bersih. Jadi buku ini cukup mencolok mata ketika buku ini pertama kali masuk dan di display di toko buku. Selain itu di buku ini saya juga menyisipkan stiker warna warni dimana saya mengajak pembaca untuk membuat judul buku versi mereka sendiri. (karena stiker ini, banyak pembaca memposting foto buku saya dengan judul versi mereka sendiri di banyak sosmed, dan ini juga membantu promosi buku saya)

Begitupun saat merencanakan peluncuran buku Normal is Boring, saya juga ingin melakukannya dengan cara yang gak biasa. Berhubung saya juga seorang Tour Guide, saya membuat peluncuran buku dengan menggabungkan konsep Tur, bukan sekedar tur biasa, tapi “Secret Tour” di TPU Petamburan.

Yup, saya melakukan peluncuran buku Normal is Boring di taman pemakaman alias kuburan !! Kamu pikir saya gila? Mungkin saya memang gila. Tapi saya punya alasan kuat kenapa saya melakukan peluncuran buku di TPU Petamburan, karena di tempat itu terdapat Maoseleum OG Khouw , yg merupakan bangunan kubur paling megah dan mewah di Asia Tenggara, tapi sayangnya belum banyak orang Jakarta tau tempat itu.






Saya ingin melalui peluncuran buku saya, sekaligus mensosialisasikan Mouselum OG Khouw ke khalayak luas. Karena konsep peluncuran buku saya begitu “nyeleneh”, maka saat itu banyak media /wartawan yang datang meliput, dari TV, koran, hingga online, dan inipun berarti dapat promosi gratis untuk buku saya. Hasilnya, hanya dalam 1 bulan saja, buku Normal is Boring cetak ulang hanya dalam waktu 1 bulan di rilis, dan tercatat sebagai National Best Seller.

(btw, video Liputan dari Metro TV tentang peluncuran buku Normal is Boring di kuburan, bisa disaksikan disini
https://www.youtube.com/watch?v=isa6GJjJeZw

Karena saya sudah mempunyai “Good track record” di Penerbit Gramedia karena buku Normal is Boring, dua tahun kemudian begitu saya mengajukan naskah buku selanjutnya, langsung di acc oleh editor. Di tahun 2014, terbitlah buku berjudul Book "Do What You Love. Love What You Do", sebuah buku pengembangan diri tentang “melakukan sesuatu dengan PASSION/ Panggilan Hati”



Buku "Do What You Love. Love What You Do" juga dibuat dengan konsep desain yang nyeleneh. Desain Buku Do What You Love dibaca bisa bolak balik , juga upside down. Dan sama seperti buku Normal is Boring, buku Do What you Love ini juga banyak menampilkan grafik, foto dan gambar.

Sedangkan untuk acara peluncuran buku, lagi lagi saya membuatnya dengan konsep Tur, kali ini berupaa “Surprise Tour” , dengan jalan jalan keliling Jakarta menggunakan Bus Tingkat Wisata (Mpok Siti) yang saat itu baru di launching ke khalayak umum, juga mengunjungi Taman Prasasti. Saya ingin melalui acara peluncuran buku saya, para undangan yang hadiri bisa merasakan “mengeksplorasi” kota Jakarta dengan cara yang kreatif.


(btw, video Liputan dari AlineaTV tentang peluncuran buku Do What You Lov dengan berkeliling Jakarta dengan bis tingkat wisata bisa disaksikan disini https://www.youtube.com/watch?v=CZ5LNupypSk

Berkat buku Normal is Boring dan Buku Do What You Love juga, saya banyak diundang sebagai pembicara/ trainer ke berbagai tempat di Indonesia untuk seminar atau workshop. Buku buku ini juga banyak dijadikan acuan di institusi pendidikan, juga diedarkan hingga ke Malaysia.

Dan saya masih punya cita cita kedua buku ini bisa diterbitkan dengan versi Bahasa Inggris dan bisa diedarkan lebih luas lagi ke berbagai negara, supaya lebih banyak lagi orang mendapat manfaat dari buku buku ini. Amiiin, semoga ada jalan terbuka menuju kesana.

Syukur Alhamdulilah penantian panjang saya selama bertahun tahun tak sia sia agar buku buku yg sesuai idealisme saya bisa terwujud,  ini yang namanya Semua Indah Pada Waktunya.

God has perfect timing . Never Early . Never Late. It takes a little Patience and a lot of Faith. But it’s really worth the wait.

PS : Buat teman2 yg mau membeli buku buku ini masih bisa didapatkan di Toko toko buku Gramedia Store atau bs juga dibeli online via www.mataharimall.com (ketik buku pengembangan diri) GRATIS ONGKIR dan bonus tanda tangan saya juga (pssst...tanda tangan saya bisa digunakan utk jimat juga loh...wkwkwk)

Terimakasih untuk komunitas LOVE OUR HERITAGE Amelia Devina Adjie Hadipriawan Putu Dinar dan Idfi Pancani yang telah membantu acara peluncuran buku Normal is Boring dan Do what you Love.. Ga bakal bs terwujud peluncuran buku yg nyeleneh ini tanpa bantuan besar kalian semua yg keceh.