A Tribute to My Mom : Ceritaku Dibalik Khairiyah Indonesia, Festival Kebhinekaan, dan Guru Terbaikku dalam Memaknai Toleransi dan Cinta Kasih Tanpa Sekat
Kepergian seseorang yamg kita cintai untuk selamanya terkadang
mengajarkan kita bgm arti Kehidupan. Itupula yang aku alami. Sejak tahun
2004, bulan Februari selalu memaknai arti khusus bagiku.
Sebelum bulan
yang identik dengan cinta kasih ini pergi, aku ingin berbagi cerita
tentang Almarhum Ibuku yang adalah guru terbaikku dalam memaknai
Toleransi dan Cinta Kasih
Maukah engkau mendengarkan ceritaku?
Di tahun 2004 tanggal 9 Februari, Ibuku pergi menghadap yang kuasa.
Hari kepergian almarhum ibuku meninggalkan kenangan yang sangat
membekas. Kepergian ibuku membuatku tersadar tentang bagaimana
menjalani hidup yg sesungguhnya.
Saat ibuku pergi, aku
tetrharu menyaksikan sendiri bagaimana begitu banyak sahabat sahabatnya
dari berbagai kalangan agama , etnis, dan golongan, ikut mengantarkannya
hingga ke tempat peristirahatan terakhir. Saat itu aku tersadar, begitu
berwarna dan bermakna hidup yang pernah dijalani ibuku semasa
hidupnya..
Mungkin, warisan pelajaran hdiup terbesar dari ibuku
adalah tentang penghargaannya kepada kemanusiaan dan keberagaman .
Semasa hidupnya ibuku punya begitu banyak sahabat dari berbagai kalangan
agama dan etnis yang dikasihinya. Dan itu menjadi memori kuat yang
paling aku ingat dari ibuku.
Aku ingat, saat aku kecil, aku
sering diajak ayah dan ibuku untuk berkelilling rumah rumah tetangga
yang merayakan Natal. Ibuku juga sering menghadiahi makanan atau kue
kepada sahabatnya yang merayakan natal. Begitupun saat Imlek tiba,
ibuku juga ikut bergembira dan mengucapkan kepada sahabat sahabatnya
dari etnis Tionghoa yang merayakan. Padahal saat itu di tahun 80an,
imlek dilarang untuk dirayakan secara terbuka. Sangat jarang orang
yang mau terang terangan mengucapkan selamat imlek kepada yang merayakan
.
Sebaliknya, tiap jelang Lebaran, rumah kami dahulu banyak sekali
dikirimi parcel parcel dan hadiah oleh sahabat sahabat baik ibuku yang
bukan beragama muslim. Sahabat sahabat ibuku itu, bahkan tetap
mengirimkan parcel parcel lebaran itu ke rumahku, sampai beberapa tahun
setelah ibuku meninggal. Hal itu yang membuatku menyadari betapa ibuku
bermakna bagi para sahabatnya, bahkan saat ia telah pergi
Karena ibuku juga terbiasa dengan keberagaman, begitupun ia membiasakan
aku dengan keberagaman sejak kecil. Sahabat sahabat masa kecilku adalah
para tetanngga rumah ada yang beragama Kristen, katolik dan juga berasa
dari etnis tionghoa. Dan ini terus berlangsung sampai aku SMA. Teman
temanku dari berbagai agama dan etnis itu sering bermain di rumahku, dan
tentu saja selalu diterima dengan ramah oleh ibuku. Bahkan ketika aku
masuk kuliah , aku mengontrak rumah di Jatinagor dengan beberapa teman
baik yang beragama Kristen. Keberagaman adalah sesuatu yang alamiah
bagiku. Dalam artian, itu bukan sesuatu yang istimewa bagiku saat itu.
Sampai suatu ketika , saat di tahun terakhir kuliah dan ngekos
di Bandung, ada suatu hal yang menggelitik saat ngobrol dengan teman
kosanku. Ia bercerita senang mendapatkan pengalaman kuliah di luar kota
karena bisa punya teman teman dari berbagai agama. Saat itu pun saya
begitu heran dan bertanya. “Memangnya sebelum kuliah ,
lo ga punya sahabat beda agama? “
Lalu ia pun curhat kalau sejak
kecil ia selalu diajarkan di keluarganya untuk tidak boleh bergaul
akrab dengan teman yang beragama beda. Ia pun juga terbiasa mendengar
doktrin di lingkungannya bahwa penganut agama lain identik dengan kafir.
Baru ketika ia berkuliah dan tinggal jauh dari rumahnya ia punya
kesempatan untuk mengenal beragam orang dari latar belakang agama dan
etnis . Dan ia merasa sangat mensyukuri hal itu.
Dari penjelasan
teman saya, membuat saya tercenung. Saya jadi tersadar bahwa faktor di
keluarga dan lingkungan punya pengaruh kuat dalam membentuk pola pikir
seseoramg terhadap Toleransi dan keterbukaan kepada keberagaman.
Alangkah bersyukurnya saya bahwa sejak kecil, keluarga saya tidak pernah
melarang saya bergaul dengan teman2 yang berbeda agama. Saya juga
bersyukur tidak permah diberikan doktrin negatif apapun tentang penganut
agama lain dari orang tua saya sejak kecil. Bahkan seingat saya, tidak
pernah sekalipun saya mendengar Ibu saya memberi label “kafir” kepada
orang lain yang berbeda agama.
Dan di saat itulah saya
menyadari, bahwa pengalaman terhadap keberagaman adalah suatu privilege/
keistimewaan dan anugrah. Dan saya bersyukur mendapatkan contoh
tentang “merangkul keberagaman” dari ibu saya sejak kecil.
Pengalaman hidup yang saya lalui juga memberikan saya kesempatan
mengenal lebih banyak lagi “keberagaman” dalam hal agama dan keyakinan.
Di masa kuliah , saya berkesempatan mengikuti program pertukaran pemuda
internasional untuk pertama kalinya . Disitulah saya mulai mengenal
lebih dekat orang dari berbagai latar agama, bahkan yang tidak punya
agama sekalipun. Dua teman sekamar saya waktu itu adalah peserta dari
Kamboja seorang Budhis yang sangat taat dan selalu berdoa sangat khusyuk
saat sebelum tidur dan bangun tidur. Dan satu orang lagi dari Vietnam
yang negaranya menganut paham komunis dan tidak percaya dengan konsep
agama. Di program itu, saya punya banyak sahabat dari negara Singapura
dan Jepang, yang kebanyakan dari mereka tidak menganut agama tertentu .
Tapi mereka adalah orang orang baik di mata saya.
Saat mulai
bekerja sebagai Wartawan/ Reporter TV, saya berkesempatan pergi ke
berbagai daerah dan bertemu orang orang yang masih menganut agama
leluhur seperti Sunda Wiwitan, Kejawan dll. Lalu saat mulai bekerja
sebagai Tourist Guide, saya juga bertemu banyak orang asing dari agama
agama seperti Bahai,Yahudi, hingga Mormon yang sebelumya tak pernah saya
kenal ada di Indonesia.
Saya merasa kesempatan kesempatan
mengenal beragam orang dari berbagai kalangan agama itu saya anggap
sebagai suatu keberuntungan , yang belum tentu dialami oleh semua orang
karena satu dan lain hal.
Peristiwa Pilkada DKI di tahun 2016 yang
syarat dengan ujaran kebencian berbau SARA menjadi momentum titik balik
bagi saya. Saya sangat prihatin dengan fenomena di masyarakat yang
begitu mudah melabeli orang lain dengan KAFIR , juga mengolok olok
etnis Cina. Ujaran ini bahkan juga didengungkan di khotbah mesjid dan
pengajian pengajian.
Saat itu saya sempat terpikir dan
bertanya tanya dalam hati, "Orang orang yang sering melabeli orang lain
kafir , apakah mereka punya sahabat sahabat yang berbeda agama ? Mereka
yang dengan mudahnya menebarkan ujaran kebencian kepada etnis Cina,
punyakah ia sahabat dari etnis tersebut?"
Lalu saya teringat dengan
sahabat sahabat almarhum ibu saya yg begitu beragam latar belakangnya.
Ada Tante Maria ,seorang Nasrani yang paling sering menjenguk dan
menunggui ibu saya saat terbaring di rumah sakit. Ada Om Har atau Om
Alex yang beretnis Tionghoa, yang tetap bersahabat baik dengan keluarga
saya hingga belasan tahun setelah ibu saya meninggal. Saya juga masih
ingat, ketika peristiwa kerusuhan 98 di Jakarta, ibuku ikut menangis
pilu saat mengetahui rumah sahabatnya yg seorang Tionghoa menjadi
target amuk massa.
Pikiran saya pun melayang kepada
almarhumah ibu saya . Rasanya tidak mungkin tudingan KAFIR, Cina, dsb
itu meluncur dari mulut ibu saya karena sepanjang hidupnya ia punya
banyak sahabat dari kalangan beragam agama dan etnis.
Saat
itu saya juga merasa prihatin dengan menguatnya fenomena ekslusivitas
keagamaan di sekitar saya. Apalagi ketika membaca sebuah hasil
penelitian yang menyebutkan bahwa Jakarta termasuk satu dari 10 kota
yang paling tidak toleran di Indonesia., yang membuat saya begitu
terusik dan ingin berbuat sesuatu untuk warga Jakarta. Tapi lalu saya
berfikir, apa yang bisa saya lakukan ??
Sebagai seorang Pemandu
Wisata/ Tourist Guide yang terbiasa mengunjungi berbagai rumah ibadah
karena tuntutan pekerjaan. , maka di awal tahun 2017 saya lalu
berinisiatif membuat suatu kegiatan kunjungan Tur yang dinamakan Wisata
Bhineka (wisata ke berbagai rumah ibadah) yang bertujuan utk membangun
Toleransi dan menambah wawasan tentang kebhinekaan indonesia. Kegiatan
Wisata Bhineka ini menjadi agenda rutin yang dikoordinir oleh Wisata Kreatif Jakarta. , sebuah tour organizer yang juga saya dirikan sejak tahun 2017.
Dari mengadakan Wisata Bhineka secara rutin ini, saya mengamati bahwa
begitu banyak orang yang seumur hidupnya belum pernah mengunjungi rumah
ibadah agama lain, atau banyak orang yang punya persepsi negative
terhadap penganut agama lain karena memang mereka tidak punya teman baik
dari agama yang berbeda. Apalagi skr banyak org tua yg menyekolahkan
anakmya di sekolah dengan basis keagamaan yg ekslusif sejak TK hingga SMA,
sehingga seorang anak tumbuh hingga besar di lingkungan yang seragam
saja.
Berangkat dari Wisata Bhineka, ada keinginan kuat untuk membuat
suatu kegiatan lebih besar lagi yang memberikan ruang ruang dan
kesempatan untuk berbagai penganut agama dan keyakinan utk saling
mengenal lebih baik, melalui pendekatan yang menyenangkan.
Hal
Itulah yang lalu mendasari di awal tahun 2018 untuk menginisiasi
Festival Kebhinekaan dan membentuk yayasan Khairiyah Indonesia.
Khairiyah sendiri adalah nama belakang saya yang dalam bahasa Arab
berarti Goodness/ Kebaikan.
Festival Kebhinekaan sendiri
bertujuan untuk Memperkuat Toleransi Lintas Agama melalui ragam kegiatan
yang rileks seperti Wisata Bhineka, Pemutaran Film, Pameran Seni,
Diskusi Tentang Agama Agama dll, untuk meemberikan ruang dan kesempatan
kepada berbagai penganut agama dan keyakinan untuk saling mengenal lebih
baik. Ada idiom, tak kenal maka tak sayang. Maka Festival
Kebhinekaan ingin memberikan kesempatan kepada publik terutama generasi
muda untuk mengenal lebih dekat saudara saudara setanah air yg berbeda
iman/agama/keyakinan.
Saat ini Festival Kebhinekaan sudah berjalan di
tahun ke tiga dan diadakan tiap bulan Februari, yang juga selalu
identik dengan bulan cinta kasih dan juga bulan dimana ibuku pergi
menghadap Sang Maha Cinta.
Dalam perjalanannya yang singkat,
di th 2018, Khairiyah Indonesia pernah mendapatkan kepercayaan berupa
Grant / Hibah dari Indonesia Untuk Kemanusiaan, dengan mengkoordinir
ratusan pelajar dan guru di Jakarta mengikuti Wisata Bhineka. Waktu
demi waktu semakin mengarahkan saya kepada bidang edukasi dan advokasi
tentang isu isu Toleransi dan kebebasan beragama. Saya juga bersyukur
mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu beragam pemuka agama dari
berbagai bangsa..
Jika ada yang bertanya , kenapa beberapa
tahun belakangan saya mau bersusah susah menekuni kegiatan dalam bidang
yang berhubungan dengan Lintas Keagamaan seperti ini, padahal profesi
sehari hari saya adalah seorang Tourist Guide ?
Memang kalo
dipikir pikir lagi, dari dahulu tidak pernah sedikitpun terbersit di
benak saya untuk bersinggungan dengan bidang kemanusiaan yg satu ini.
Tapi jalan hidup memang sungguh misteri. Dan saya memaknai bidang yang
saya lalukan ini sebagai “panggilan hidup” yang berkaitan erat dengan
almarhum ibu saya.
Sebagian orang sungguh beruntung masih bisa
memiliki Ibu kandung hingga usia menua. Tapi tidak denganku. Almarhum
ibu saya meninggal ketika saya berusia 23 tahun, saat saya baru akan di
wisuda. Belum banyak hal yang bisa saya hadiahkan untuknya ketika ia
masih hidup. Belum banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan
dirinya saat ia masih hidup. Tapi saya pernah mendapatkan suatu
nasihat, jika ingin membalas jasa orang tua yang sudah meninggal,
lakukanlah hal hal yang ia senangi saat hidupnya. Dan yang saya tahu,
ibu saya sangat menghargai keberagaman agama sepanjang hidupnya.
Secara personal, saya memaknai jalan yang saya tekuni melalui Khairiyah
Indonesia dan Festival Kebhinekaan saat ini sebagai ikhitiar untuk
meneruskan nilai nilai kebaikan tentang penghargaan kepada keberagaman
dan kemanusiaan, yang dicontohkan dan ditunjukkan oleh Ibu saya semasa
hidupnya. Dan saya akan selamanya berterima kasih kepada Ibu saya yang
telah menjadi Guru Kehidupan terbaik tentang memaknai Toleransi dan Cinta Kasih yang melintasi sekat sekat.
Saya tahu tak akan bisa saya membalas jasa seorang ibu. Tapi saya
berharap nun jauh di atas sana, ia senang dan tersenyum melihat jalan
yang saya pilih saat ini.
Dan semoga kiranya Allah dan semesta alam merestui ikhtiar ini.
Profil Linkedin Ira Lathief
Wisata Belanja Baju Musim Dingin Branded Murah di Pusat Factory Outlet Mangga Dua Square
Jadi resolusi tahun 2020 yang pingin segera saya wujudkan di awal tahun adalah menjejakkan kaki di benua biru Eropa yang sekian lama menjadi dambaan . Nah buat persiapan ngetrip ke Yurop di bulan Januari nanti yang sedang cuaca musim dingin、hal yang kudu wajib dibawa tentu saja baju baju musim dingin (winter)
Selama ini yang saya denger kalo beli baju baju dingin (winter) di Jakarta、harganya lumayan mihil karena kebanyakan produk produk impor. Atau jika mau berburu baju winter dengan harga murah, kudu hunting di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung atau Puncak.
Nah pas denger kalo di Mall Mangga Dua Square di Jakarta Utara, bisa berburu baju baju dan jaket musim dingin dengan harga damai、tentu bikin penasaran. Setelah cek bebicek langsung di Mall Mangga Dua Square ini ternyata memang banyak koleksi baju baju dingin branded yang dijual di berbagai Factory Outlet (FO) disini. Kesemua gerai FO yang ada disini adalah cabang dari jaringan FO kenamaan yang hits di Bandung atau Puncak Total ada 8 gerai Factory Outlet besar di Mall ini, yang menjadikan Mangga Dua Square sebagai Shopping Mall yang memiliki Factory Outlet (FO) terbanyak di Jakarta
Nah pas denger kalo di Mall Mangga Dua Square di Jakarta Utara, bisa berburu baju baju dan jaket musim dingin dengan harga damai、tentu bikin penasaran. Setelah cek bebicek langsung di Mall Mangga Dua Square ini ternyata memang banyak koleksi baju baju dingin branded yang dijual di berbagai Factory Outlet (FO) disini. Kesemua gerai FO yang ada disini adalah cabang dari jaringan FO kenamaan yang hits di Bandung atau Puncak Total ada 8 gerai Factory Outlet besar di Mall ini, yang menjadikan Mangga Dua Square sebagai Shopping Mall yang memiliki Factory Outlet (FO) terbanyak di Jakarta
Setelah menjelajah ke beberapa gerai FO disini seperti FO Premiere、FO Amira 、FO DSE、 Raja FO、saya mendapati banyak pilihan baju baju dingin dengan model yang cucok meyong tapi juga dengan banyak harga diskon. Contohnya jaket winter warna kuning kinclong nan ceria yang saya dapetin dari FO Premiere ini harganya cuma 300rb an、 padahal jaket winter model gini kalo.di Departement Store terkenal bisa 2x lipat harganya....
Terruuuuus ada lagi jaket winter burberry dengan capuchon bulu yang keren harganya 600 ribu di Raja FO、padahal kalo di shopping.mall lain harganya sejutaan saya udah cek,......Atau kalo cuma mau cari sweater hangat dengan model keren banyak pilihan juga di Amira FO、seperti sweater merah menyala dengan bahan bulu sintetis super hangat yang saya bisa dapat dengan harga cuma.150 rb ! Super !
By the way, sebagai Tourist Guide, Mall Mangga Dua Square ini termasuk Mall yang sering saya kunjungi loh selama ini Pertama adalah karena tamu tamu saya banyak yang bermalam di Hotel Hotel sekitar Mall seperti Hotel Ibis, Novotel, Amaris, dan Neo, yang memang aksesnya cukup dekat ke Tol Bandara dan tempat wisata lain seperti Ancol, Kota Tua, dll. Jadi ketika tamu tamu saya ingin untuk shopping, tentu Mangga Dua Square ini selalu jadi pilihan utama karena memang letaknya satu kawasan di hotel hotel tersebut.
Selain itu, Mall Mangga Dua Square ini sudah lama terkenal di kalangan turis turis Arab sebagai Pusat Kayu Gaharu. Ada kebiasaan bagi orang orang Arab untuk membakar kayu gaharu di rumahnya sebagai pengharum ruangan. Nah kayu kayu Gaharu yang banyak di dapati negri negri Arab ternyata berasal dari negara negara India dan Indonesia jadi harganya memang mahal.
Jadi ketika orang orang Arab itu berwisata ke Indonesia, khususnya di Jakarta atau Puncak, pasti salah satu "suvenir" wajib yang mereka cari adalah kayu kayu Gaharu yang harganya jauh lebih murah. Di Mangga Dua Square ini memang banyak sekali toko toko penjual kayu Gaharu, bahkan ketika kita masuk ke lobi utama Mall ini sudah tercium aroma khas kayu Gaharu. Dan menurut saya, hal ini memang kekhasan dan keunikan Mall Mangga Dua Square yang tidak didapati di shopping shopping mall lain di Jakarta.
Jadi ketika orang orang Arab itu berwisata ke Indonesia, khususnya di Jakarta atau Puncak, pasti salah satu "suvenir" wajib yang mereka cari adalah kayu kayu Gaharu yang harganya jauh lebih murah. Di Mangga Dua Square ini memang banyak sekali toko toko penjual kayu Gaharu, bahkan ketika kita masuk ke lobi utama Mall ini sudah tercium aroma khas kayu Gaharu. Dan menurut saya, hal ini memang kekhasan dan keunikan Mall Mangga Dua Square yang tidak didapati di shopping shopping mall lain di Jakarta.
Namun, saya sendiri memang baru ngeh kalo Mall Mangga Dua Square juga dikenal sebagai Pusat Factory Outlet (FO) yang memang menjadi terobosan baru Mall ini .Dan memang, sejak mencanangkan diri sebagai "Pusat Factory Oultet"sejak tahun 2018, sudah ada 8 gerai FO beken yang telah memiliki banyak
cabang di sejumlah daerah seperti Bandung dan Puncak, Seperti Premier, Amira Factory Outlet, Fifth
Avenue, DSE, Chois FO, RAJA FO, Super Bazaar dan Publicity . Jadi sekarang ga usah jauh jauh ke Bandung atau Puncak, di kawasan Utara Jakarta pun kini kita bisa menyambangi jaringan Factory Outlet yang hits
Btw pernah ga sih kamu heran, kok baju baju dingin di F0 FO disini bisa dijual dengan harga murah padahal banyak brand kenamaan luar negri, kok bisa ya ? Saya pun sempat penasaran kenapa.
Nah rasa penasaran ini ternyata terjawab setelah saya tanya sana sini, ternyata koleksi pakaian branded yang dijual di FO FO adalah produk produk sisa ekspor yang kebanyakan pabriknya ternyata ada di Indonesia. Emang udah bukan rahasia lagi kan, kalo banyak produk fashion branded kelas dunia yang punya banyak pabrik di negara negara dunia ketiga seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam.
Jadi, misalnya nih, kalo kita beli baju dingin di Paris dengan merk Burberry dengan harga selangit, nah bisa jadi itu aslinya di produksi di salah satu Pabrik tekstil di Cikarang, Bekasi.....hehehee....kalo gitu yah mending kita beli langsung di tempat asal produksinya dong, karena bisa jadi harganya jauuuh lebih murah.
Dan tambahan lagi nih、saya dengar di Mall Mangga Dua Square ini juga bakal segera diresmikan Korea Center、yangbisa jd pusat kegiatan dan aktifiitas komunitas pecinta budaya Korea seperti K-Pop、K Drama dsb. Seru banget kayaknya!
Jadi buat para penggemar oppa oppa yang berencana ke Korea saat musim dingin、bisa langsung cuz berburu baju ,musim dingin di Mangga Dua Square ini.
Uniknya Perayaan Rabo Rabo, Pesta Tahun Baruan Orang Kampung Portugis Tugu

Bagaimana rasanya jika rumahmu didatangi sekelompok grup keroncong yang bernyanyi khusus dan gratis untuk keluargamu ?
Beberapa waktu lalu saya menyaksikan Rabo Rabo, Perayaan Tahun Baru di Kampung Tugu yang sangat unik dan meriah sekali.
Kampung Tugu ini adlh tempat cikal bakalnya muncul Musik Kroncong sebelum meluas ke berbagai tempat di pelosok negri ini..Setiap tanggal 1 Januari, warga Kampung Tugu yg terletak di Semper, Jakarta Utara, yg masih ada keturunan Portugis ini punya tradisi Rabo Rabo yg tak ada duanya di manapun...

Jadi Rabo Rabo (yg artinya Ekor-Mengekor , dari bahasa Kreol Portugis) ini adalah tradisi di awal tahun baru utk bernyanyi Kroncong keliling kampung berkunjung dari rumah ke rumah, dan salah satu anggota keluarga tiap rumah yg didatangi harus ikutan 'mengekor" untuk mengunjungi rumah berikutnya hingga 'ekor" nya pun jadi sangat banyak dan panjang hingga di rumah terakhir.
Di tiap rumah yg dikunjungi, para tamu dan grup keroncong biasanya akan bernyanyi dua lagu sambil berdansa dansi dg riang gembira.....lalu si tuan rumah yang dikunjungi akan menawarkan beragam makanan dan minuman. Baru di rumah terakhir yang dikunjungi yang bisanya mereka akan makan besar dan berpesta.

Perayaan Rabo Rabo di Kampung Tugu yg masyarakatnya mayoritas beragama Kristen ini jauh lebih meriah dari perayaan Natal sendiri. Dan puncak perayaan tahun baruan di Kampung Tugu akan diakhiri dengan Perayaan Mandi Mandi yang biasanya diadakan satu Minggu setelah tahun baru.
Menyaksikan sendiri perayaan Rabo Rabo di Kampung Tugu saya begitu terkesan dengan tradisi warga disana yg begitu erat kekerabatannya dlm menjaga tradisinya . Saya juga salut denga warga Kampung Tugu yg sebagian besar bisa bermusik dan menghidupkan tradisi bermusik keroncong secara turun temurun dan diteruskan kepada generasi muda nya meskipun byk menemui tantangan zaman.
Contohnya Aren yang adalah pengisi suara biola di film Wage (WR Supratman), atau Juliette Angela yang finalis Indonesian Idol yang sempat mencuri perhatian para juri dan memberinya Golden Ticket. Dalam banyak kesempatan, Angel sering menyanyi Kroncong dengan gaya Jazzy yang jadi ciri khasnya ..

Melihat orang kampung Tugu yang senang bernyanyi dan punya tradisi bergembira ria seperti ini saya jd teringat dg orang Manado atau Batak , tapi orang Tugu adalah orang asli Jakarta dan menyebut diri mereka sbg suku 'Betawi Kristen'..Sungguh betapa beragam dan kayanya budaya di Jakarta yang mestinya juga bisa menjadi potensi pariwisata unggulan kota ini!

Menurut saya, Perayaan tahun baruan Rabo Rabo orang Kampung Tugu ini bisa dimaknai sebagai simbol bahwa dalam menyambut kedatangan tahun yang baru kita harus mengawalinya dengan hati gembira dan penuh keceriaan.. Dan kebahagiaan itu akan berlipat lipat jika dibagikan bersama-sama.
Ket : Artikel ini sudah tayang di blog kompasiana saya berikut https://www.kompasiana.com/iralathief/5a4a5afcdd0fa82b583465c4/uniknya-perayaan-rebo-rebo-pesta-tahun-baruan-orang-kampung-tugu
NB : Saya bersama komunitas Jakarta Food Traveler / Wisata Kreatif Jakarta rutin mengadakan Tur Spesial ke Kampung Portugis Tugu saat Perayaan Rabo Rabo (1 Januari) dan Mandi Mandi /Pesta Mandi Bedak (3-4 hari setelah tahun baru). Jika tertarik ikutan Tur dalam waktu dekat, berikut ini infonya :
*Food Tour Portuguese Village ➕ Perayaan RABO RABO*
🗓️ Rabu, 1 Januari 2020
⏲️ 09.00 - 14.00 WIB
📞 RSVP 0812 9822 9129
💰 Rp120.000/orang ; termasuk kuliner khas Kampung Tugu
📍 Meeting Point : Gereja Tugu •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
📌 Rabo Rabo ialah perayaan khas Orang Tugu, tiap 1 Januari dengan cara bermain musik keroncong beriringan dari rumah ke rumah untuk memulai tahun yang baru. Dalam Tur spesial ini, Anda akan diajak untuk blusukan mengunjungi Kampung Tugu yang dihuni oleh orang orang keturunan Portugis yang sudah berada di kota ini selama lebih dari 4 abad. Rangkaian Tur akan diakhiri dengan melihat bagaimana orang Tugu merayakan Rabo Rabo sebagai selebrasi setahun sekali dalam menyambut datangnya tahun baru.
⏲️ 09.00 - 14.00 WIB
📞 RSVP 0812 9822 9129
💰 Rp120.000/orang ; termasuk kuliner khas Kampung Tugu
📍 Meeting Point : Gereja Tugu •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
📌 Rabo Rabo ialah perayaan khas Orang Tugu, tiap 1 Januari dengan cara bermain musik keroncong beriringan dari rumah ke rumah untuk memulai tahun yang baru. Dalam Tur spesial ini, Anda akan diajak untuk blusukan mengunjungi Kampung Tugu yang dihuni oleh orang orang keturunan Portugis yang sudah berada di kota ini selama lebih dari 4 abad. Rangkaian Tur akan diakhiri dengan melihat bagaimana orang Tugu merayakan Rabo Rabo sebagai selebrasi setahun sekali dalam menyambut datangnya tahun baru.
📌 Destinasi : Gereja Tugu - Kuburan Kuno Tugu- Jelajah Kp Tugu/Kp Kristen Betawi - Markas Krontjong Canfrinho - Makan Siang & Icip Icip Kuliner Khas Tugu - Rumah tertua Kp Tugu yang berusia 200 th - Menikmati Alunan musik Kroncong - Mengikuti Perayaan Rabo Rabo
i 📌 Harga Tur sudah termasuk :
1. Donasi Gereja & Donasi utk IKBT/Ikatan Keluarga Besar Tugu
2. Menikmati Kuliner Khas Tugu : Gado Gado Siram Tugu, Kue Pisang Udang, Kue Apem Kinca dan Kue Ketan Unti.
•
📌 Untuk rute Tur Spesial ini, jika pembayaran via transfer hingga hari H-2 diskon 10 persen (Rp 12.000)
Transfer via Rek BCA
No. rek : 007-025-8021
Atas Nama : Ira Yuniarty Khairiyah.
i 📌 Harga Tur sudah termasuk :
1. Donasi Gereja & Donasi utk IKBT/Ikatan Keluarga Besar Tugu
2. Menikmati Kuliner Khas Tugu : Gado Gado Siram Tugu, Kue Pisang Udang, Kue Apem Kinca dan Kue Ketan Unti.
•
📌 Untuk rute Tur Spesial ini, jika pembayaran via transfer hingga hari H-2 diskon 10 persen (Rp 12.000)
Transfer via Rek BCA
No. rek : 007-025-8021
Atas Nama : Ira Yuniarty Khairiyah.
Fyi, semua Tur di atas ialah wisata berjalan kaki dengan didampingi seorang Pemandu Wisata/Tourist Guide profesional.
Agenda Rutin setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) sesi pagi dan sore. Info/ Registrasi ke 0812 9822 9129. Untuk informasi detail tiap rute Tur di atas silahkan cek website www.wisatakreatifjakarta.com
Ikuti juga sosmed IG/fanpage @WisataKreatifJakarta @JakartaFoodTraveler utk pantau update Tur kami. Semua tur kami bisa di booking utk private /grup dan terbuka utk kolaborasi dg komunitas dan institusi pendidikan.
Yuk Kenali Lebih Dekat Batik Khas Jakarta di Kampung Batik Terogong
Tinggal di Jakarta tapi belum kenal atau belum punya Batik Betawi?Nah saatnya yuk kenali lebih dekat batik asal kota kita sendiri.
Umumnya banyak orang tahu tentang Batik itu dari Pekalongan、 Solo dan daerah daerah di Jawa Tengah. Padahal Jakarta juga punya Batik khas Betawi yang ciamik banget. Nah pada hari Minggu 8 Desember lalu、saya bersama komunitas Ladiesiana berkunjung ke Kampung Batik Betawi di Terogong Jaksel untuk melihat dari dekat seluk beluk Batik Betawi.
Di tempat ini kita juga belajar gimana caranya bikin Batik Betawi yg sederhana dari mulai proses membuat motif/pola hingga menggunakan canting dan malam、dan kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan Batik yang dikerjakan oleh para pengrajin batik yang orang orang Betawi asli. Seru !

Memangnya apa sih perbedaan batik betawi dengan batik batik lainnya? Jadi ciri khas Batik Betawi adalah dari motifnya yang banyak bergambar ikon ikon Jakarta seperti Ondel Ondel、Monas 、Abang None Bahkan Gedung Pencakar Langit. Juga umumnya Batik Betawi itu punya warna warni yang cerah menyala dan "gonjreng" seperti karakter orang Betawi yang ceria、humoris、blak blakan dan terbuka .
Seperti halnya Batik dari berbagai daerah di Indonesia yang setiap motif punya makna dan arti filosofis、begitupun dengan batik Betawi yang tiap motifnya punya makna filosofis menarik.
Ket foto : Batik motif Pencakar Langit yang menggambarkan deretan gedung pencakar langit dan Ondel ondel yang ukurannya lebih tinggi dari Gedung . Maknanya adalah Jakarta boleh saja jadi Kota Megapolitan、tapi Budaya Betawi tetap harus eksis.
Di tempat ini kita juga belajar gimana caranya bikin Batik Betawi yg sederhana dari mulai proses membuat motif/pola hingga menggunakan canting dan malam、dan kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan Batik yang dikerjakan oleh para pengrajin batik yang orang orang Betawi asli. Seru !


Memangnya apa sih perbedaan batik betawi dengan batik batik lainnya? Jadi ciri khas Batik Betawi adalah dari motifnya yang banyak bergambar ikon ikon Jakarta seperti Ondel Ondel、Monas 、Abang None Bahkan Gedung Pencakar Langit. Juga umumnya Batik Betawi itu punya warna warni yang cerah menyala dan "gonjreng" seperti karakter orang Betawi yang ceria、humoris、blak blakan dan terbuka . Seperti halnya Batik dari berbagai daerah di Indonesia yang setiap motif punya makna dan arti filosofis、begitupun dengan batik Betawi yang tiap motifnya punya makna filosofis menarik.
Ket foto : Batik motif Pencakar Langit yang menggambarkan deretan gedung pencakar langit dan Ondel ondel yang ukurannya lebih tinggi dari Gedung . Maknanya adalah Jakarta boleh saja jadi Kota Megapolitan、tapi Budaya Betawi tetap harus eksis.
Komunitas Batik Betawi Terogong ini sendiri digagas oleh Ibu Siti Laela yang merupakan asli orang Betawi. Sebagai pelestari Budaya ia miris karena selama ini、publik lebih banyak tahu Batik batik dari daerah Jawa Tengah . Gayung bersambut ketika di awal tahun 2012 Pemerintah Provinsi DKI punya program untuk mengangkat Batik Betawi dan memberikan pelatihan membatik dengan mendatangkan Trainer langsung dari Pekalongan. Setelah ikut pelatihan membatik tersebut Bu Lela pun berinisiatif untuk ikut mengangkat Batik Betawi kepada khalayak luas . Ia juga merancang beberapa motif Batik berdasarkan ikon kota Jakarta juga aneka flora khas di berbagai kawasan Jakarta seperti Daun Semanggi、Daun Pacar Cina dan Buah Mengkudu yang dahulu banyak didapati di kawasan Terogong.
Ket Foto:Batik motif Tebar Mengkudu yang dirancang Bu Lela. Tebar Mengkudu punya arti filosifis dari singkatan "Tekun Sabar Emang Kudu"
Ket Foto:Batik motif Tebar Mengkudu yang dirancang Bu Lela. Tebar Mengkudu punya arti filosifis dari singkatan "Tekun Sabar Emang Kudu"
Pertemuan Bu Lela dengan Maudy Kusnaedi yang pernah menjadi None Jakarta di tahun 2012 juga turut membantu Batik Betawi Terongong semakin dikenal luas. Dalam banyak kesempatan Maudy ikut membantu mempromosikan Batik Betawi dari Terogong、 karena itu Bu Lela secara khusus membuat motif batik "ondel ondel Maudy" sesuai saran Maudy yang ingin ada motif Ondel Ondel tapi jangan kelihatan serem.
ket foto : Motif Batik Ondel Ondel Maudy
ket foto : Motif Batik Ondel Ondel Maudy
Keahlian Bu Lela berbahasa inggris juga turut membantu Batik Betawi Terogong ini dikenal di kalangan ekspatriat juga turis asing. Di tahun 2015 Bu Lela pernah diminta mendampingi Miss Universe Paulina Vega yang datang ke.Jakarta.untuk mengenalkan batik dan mengajarkan membuat batik. Sejak saat itu banyak permintaan berdatangan dari beragam kalangan untuk dibuatkan workshop belajar membatik termasuk untuk sekolah sekolah internasional di Jakarta.
ket Foto : Bu Lela saat mendampingi Sang Ratu Sejagat
ket Foto : Bu Lela saat mendampingi Sang Ratu Sejagat
Sebagai seorang Tourist Guide di Jakarta 、saya memang senang mempelajari segala hal tentang budaya Betawi termasuk mempromosikan ragam Batik kepada para wisatawan yang saya temui. Nah Kampung Batik Betawi Terogong ini menurut saya layak banget jadi destinasi wisata Batik di Jakarta yang ga kalah dengan Kampung Batik di Pekalongan dan daerah daerah lain yang terkenal dengan Batiknya.
Nah buat teman teman yang mau cari Batik Betawi langsung dari pengrajinnya atau ingin mengenal lebih dekat seperti apa Batik Betawi bisa cuzz langsung ke tempat ini、lokasinya hanya 1 km dari Stasiun MRT Cipete Raya. Disini juga banyak dijual aneka Batik Betawi Tulis dan Cetak print berkualitas dari mulai bentuk kain hingga bentuk pakaian jadi dengan harga terjangkau.

Ket : Artikel ini sudah tayang di blog kompasiana saya dengan link
https://www.kompasiana.com/iralathief/5decfda9d541df1b7d0bb902/yuk-kenali-lebih-dekat-batik-khas-jakarta-di-kampung-batik-terogong
Nah buat teman teman yang mau cari Batik Betawi langsung dari pengrajinnya atau ingin mengenal lebih dekat seperti apa Batik Betawi bisa cuzz langsung ke tempat ini、lokasinya hanya 1 km dari Stasiun MRT Cipete Raya. Disini juga banyak dijual aneka Batik Betawi Tulis dan Cetak print berkualitas dari mulai bentuk kain hingga bentuk pakaian jadi dengan harga terjangkau. 
Ket : Artikel ini sudah tayang di blog kompasiana saya dengan link
https://www.kompasiana.com/iralathief/5decfda9d541df1b7d0bb902/yuk-kenali-lebih-dekat-batik-khas-jakarta-di-kampung-batik-terogong
Rekomendasi Kulineran Hits dan Belanja Oleh Oleh di Sukabumi
Rekomendasi Kulineran Hits dan Belanja Oleh Oleh di Sukabumi
Wisata ke Sukabumi lagi heitz banget sejak ada Jembatan Gantung Situ Gunung yang merupakan jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara dan juga Tol Bocimi yang bikin perjalanan Jakarta -Sukabumi hanya 3 jam. Kalo udah di Sukabumi, jangan sampe ketinggalan hunting kuliner dan oleh oleh di tempat berikut ini :
1.Bika Ambon Sunda Rasa
Ya, ngga hanya Medan, Sukabumi juga punya bika ambon yang terkenal buat jadi oleh oleh yang terdapat di Toko Sunda Rasa. Ini adalah toko kue dan pusat oleh oleh model Kartika Sari kalo di Bandung. Yang paling terkenal dari tempat ini adalah kue Bika Ambonnya yang maknyus banget dan macem macem rasanya, ada yang rasa pandan, sampe Gula Aren yang jadi favorit saya.
Satu dus bika ambonhanya 45rb dan dikemas dalam box cantik berwarna-warni. Bagian atas box ada bulatan yang terbuat dari plastik bening agar pembeli dapat melihat bagian dalam box. Cakep banget kemasannya buat dijadikan oleh oleh.
Alamat : Jl.Siliwangi No.68
Alamat : Jl.Siliwangi No.68
2. Kue Sari Jahe Animo
Ini kue sari jahe legendaris banget khas Sukabumi yang udah ada sejak enam dasawarsa . Letak tokonya di gang kecil dan dalam rumah pemiliknya yag sederhana sekaligus tempat produksinya. Kue Sari Jahe Animo ini jenis kue klasik yang tak lekang oleh waktu. Dimulai dari industri rumahan di Sukabumi sejak tahun 1959 dan sampai saat ini tetap konsisten hingga dua generasi.
Rasa kue sari jahe Animo ini hampir mirip dekat biskuit jadul Verkade , tapi yang ini lebih kerasa rasa jahe nya plus ada rasa manis manisnya. Paling pas kue ini jika disantap untuk teman minum kopi/ teh.Satu bungkus plastik kue Jahe cuma 15 ibu, dan ternyata pas dibawa pulang nenek saya juga suka banget kue ini. Nyesel juga ga beli banyak sekaligus
alamat : JL Siliwangi gg Mansur no 7.
3. Kue Moci Lampion
Siapa ga tau Kue Mochi oleh oleh khas Sukabumi yang digandrungi dari masa ke masa?. Kue mochi pun menjadi buah tangan yang wajib dibawa pulang jika berkunjung ke Sukabumi. Tekstur dan rasa mochi memang khas sehingga membuat kue ini disukai banyak orang sebagai camilan. Apalagi saat ini, rasa dan bentuknya semakin variatif. Selain kue Mochi original yang bisa mudah dijumpai di berbagai pelosok kota Sukabumi, kini ada juga kue Mochi kekinian dengan aneka rasa , contohnya kue Mochi Lampion.
Ini pusat kue Mochi kekinian dengan aneka rasa seperti Ovomaltine, Kitkat, Oreo, Matcha dll. Yang rasa ovolmatine paling favorit dan bikin nagih banget! Satu dus mochi Lampion cuma Rp 50.000. Mochi Lampion selain di toko pusatnya juga ada cabangnya di kawasan wisata Jembatan Gantung Situ Gunung
alamat : Gang Keswari, Selabatu
4. Kafe 'Kapal Pesiar' Sakurate
Ini adalah resto masakan jepang yang dibangun di "kapal pesiar" buatan. Kalo kesini semua sudutnya instagramable banget buat pepotoan, termasuk bisa poto poto mesra ala Titanic .
Konsep Sakurate Resto ini adalah rumah makan yang dipadukan dengan nuansa pelayaran. Bentuk Resto dibangun diatas sebuah kapal pesiar mewah dengan dek atau lantai bertingkat dua. Pada dek utama atau lantai atas berfungsi sebagai ruang makan terbuka. Dan di lantai dasar kapal kabin kabin didesain jadi ruangan ruangan yang bisa dibooking private untuk grup, tentunya dengan interior serba Jepang. Ciamik banget. Selain menu menu Jepang yang jadi andalan disini,jangan lupa cobain juga Mochi Ice Cream nya yang manknyus punya!
alamat Sakurate Japanese Food at Sea :Jl. Salabintana Km 1, Komplek Azzahra Waterpark)
Saksikan juga video liputan NetTV ini untuk lihat kemegahan Resto Kapal Pesiar Sakurate
video courtesy : Net TV
5. RM Joglo Pasundan
Rumah Joglo biasanya identik dengan budaya Jawa Tengah, tapi ini ada Joglo di tanah pasundan. Dan jika Anda mencari spot kuliner untuk "makan berat" sekaligus instagramable, cobalah datang ke tempat ini.
Resto Joglo Pasundan Soekaboemi ini baru berdiri sejak tahun 2018 , mengusung tradisional Jawa danjuga kolaborasi Sunda dalam setiap detail interiornya, mulai dari pintu masuk, pendopo hingga berbagai ornamen di dalamnya hingga pengunjung bisa merasakan budaya Jawa ala tempoe doeloe. Berada di restoran ini, Anda bisa sambil mengagumi keindahan dan kemegahan setiap sudut interior dengan citarasa Jawa dan Sunda. Begitupun menu menu makanannya yang "blasteran" jawa dan Sunda . Menu favorit saya disini adalah Nasi Tutug Oncom yang super sedap, sampai habis tak tersisa.
Menu Favorit saya di resto ini adalah Nasi Tutug Oncomnya sedap banget habis tak tersisa sedikitpun
alamat : Jl KH Ahmad Sanusi no 15A
Copas dari link blog kompasiana saya di
.(Spesial Thanks utk Prof Reni Akbar-Hawadi yg udh mengajak ke tempat tempat kuliner heitz ini)
Buku Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide (Sinopsis dan Cara Mendapatkannya)
Teman teman...
Saya ingin memperkenalkan karya buku terbaru saya , yang merupakan buku ke 17 dengan judul "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide".
Buku ini juga merupakan buku pertama saya yang diterbitkan dalam versi Digital (E-Book) dan HANYA bisa dibeli/ didapatkan via aplikasi BooksLife dengan harga hanya Rp 30.000 ribu rupiah saja.
"Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" merupakan buku berdasarkan kisah hidup (memoar) berupa catatan pengalaman saya menjadi seorang Tourist Guide (Pemandu Wisata) selama belasan tahun, khususnya di
Jakarta.
Pengalaman selama belasan tahun menjalani profesi Tourist Guide yang sering disebut sebagai "Duta Bangsa" atau "ujung tombak pariwisata" dalam berinteraksi dengan berbagai orang dari
berbagai negara dan suku bangsa, membuat saya lebih mengenal negri sendiri, kota
yang ditinggali dan juga diri sendiri.
Di buku ini saya mengungkapkan apa menariknya Jakarta dan Indonesia bagi turis turis asing, juga bagaimana kesan kesan unik , lucu hingga mengharukan tentang Jakarta dan Indonesia dari sudut pandang orang orang asing yang saya temui. Atau pengalaman "tak biasa" yang saya dapat dari pekerjaan sebagai Tourist Guide, seperti mempengaruhi mantan tamu dari Jepang untuk juga menjadi Tourist Guide di negaranya, hingga diwancarai Jurnalis senior dari Swedia dan jadi berita headline di koran nasional tertua di Swedia.
Buku ini bukan saja bercerita tentang Jakarta dan Indonesia, tapi juga mungkin juga akan membuka wawasan Anda tentang begitu banyak hal berharga di sekitar kita yang mungkin luput kita perhatikan.
Buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" ini (mungkin) akan membuat Anda jatuh cinta kembali dengan Jakarta dan Indonesia.
Bagaimana cara membeli dan mendapatkan buku ini ? Berikut ini panduannya :
1. Download apps Bookslife di Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bookslife.androidviewer&fbclid=IwAR29ogP4bcvBJZn5d2uy1D7TnNpmPsAnFpeR6kkl4h4aVOP8IG_jcftbTVg
2. Buka apps Bookslife dan pilih BUKU BARU, nanti cover buku 'Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" muncul. Lalu diklik
3. Lalu klik 'Subscribe' dan nanti muncul halaman baru untuk TOP UP (berarti pembayaran), lalu diklik isi Rp 30000 dan pilih cara pembayaran (bisa dengan transfer bank atau Kartu Kredit)
4. Nanti email masuk berisi link utk lakukan pembayaran, Rp 30ribu + pajak
5. Nanti muncul konfirmasi via email untuk melakukan Top Up/ pembayaran.
6. Sesudah konfirmasi pembayaran, balik lagi ke apps Bookslife, ke halaman buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide", klik subscribe.
7. Untuk lihat apakah sudah terbeli, kembali ke halaman muka apps Bookslife dan klik RAK BUKU
8. Nanti muncul cover buku "Bukan Ratu Sejagat" dan klik cover buku tersebut untuk baca bukunya.
9. Tiap kali mau baca bukunya, silahkan buka Applikasi dan ke Rak buku.
10. Jika ada kendala teknis saat proses pembelian, silahkan hub Customer service Bookslife di nomer Whatsapp/ call +62 85691071258 (Jam operasi 09.00 - 19.00 WIB).
Beberapa ulasan tentang acara Peluncuran Buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" bisa disimak di beberapa artikel sbb :
1. Mengenal Jakarta dari kacamata Pemandu Wisata Melalui Buku Bukan Ratu Sejagat
https://jakarta.tribunnews.com/2019/07/02/mengenal-jakarta-dari-kacamata-pemandu-wisata-melalui-buku-bukan-ratu-sejagat
2. A Tour Guide's Diary https://www.thejakartapost.com/news/2019/07/08/a-tour-guide-s-diary.html
3. Cerita Seru Tentang Jakarta dan Pemandu Wisata ada di Bukan Ratu Sejagat https://gensindo.sindonews.com/read/407/1/cerita-seru-tentang-jakarta-dan-pemandu-wisata-ada-di-bukan-ratu-sejagat-1561709180
4. Kisah di balik tugas para pemandu tugas para pemandu wisata kenalkan budaya Indonesia
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4001509/kisah-di-balik-tugas-para-pemandu-wisata-kenalkan-budaya-indonesia
3. Lalu klik 'Subscribe' dan nanti muncul halaman baru untuk TOP UP (berarti pembayaran), lalu diklik isi Rp 30000 dan pilih cara pembayaran (bisa dengan transfer bank atau Kartu Kredit)
4. Nanti email masuk berisi link utk lakukan pembayaran, Rp 30ribu + pajak
5. Nanti muncul konfirmasi via email untuk melakukan Top Up/ pembayaran.
6. Sesudah konfirmasi pembayaran, balik lagi ke apps Bookslife, ke halaman buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide", klik subscribe.
7. Untuk lihat apakah sudah terbeli, kembali ke halaman muka apps Bookslife dan klik RAK BUKU
8. Nanti muncul cover buku "Bukan Ratu Sejagat" dan klik cover buku tersebut untuk baca bukunya.
9. Tiap kali mau baca bukunya, silahkan buka Applikasi dan ke Rak buku.
10. Jika ada kendala teknis saat proses pembelian, silahkan hub Customer service Bookslife di nomer Whatsapp/ call +62 85691071258 (Jam operasi 09.00 - 19.00 WIB).
Beberapa ulasan tentang acara Peluncuran Buku "Bukan Ratu Sejagat : Catatan Seorang Tourist Guide" bisa disimak di beberapa artikel sbb :
1. Mengenal Jakarta dari kacamata Pemandu Wisata Melalui Buku Bukan Ratu Sejagat
https://jakarta.tribunnews.com/2019/07/02/mengenal-jakarta-dari-kacamata-pemandu-wisata-melalui-buku-bukan-ratu-sejagat
2. A Tour Guide's Diary https://www.thejakartapost.com/news/2019/07/08/a-tour-guide-s-diary.html
3. Cerita Seru Tentang Jakarta dan Pemandu Wisata ada di Bukan Ratu Sejagat https://gensindo.sindonews.com/read/407/1/cerita-seru-tentang-jakarta-dan-pemandu-wisata-ada-di-bukan-ratu-sejagat-1561709180
4. Kisah di balik tugas para pemandu tugas para pemandu wisata kenalkan budaya Indonesia
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4001509/kisah-di-balik-tugas-para-pemandu-wisata-kenalkan-budaya-indonesia
5 .Penuturan Pemandu Wisata Akan Permintaan Ajaib Turis Asing
https://travel.detik.com/travel-news/d-4603780/penuturan-pemandu-wisata-akan-permintaan-ajaib-turis-asing
6. Hidup dengan Passion - Ikuti Kata Hati Loe ! (Wawancara dengan Ricky Conrad TV)
“Kita seringkali berjalan hingga jauh mencari “emas” dan “permata”, tapi kita sering lupa bahwa sebenarnya hal hal yang berharga itu ada di depan mata dan bisa ditemukan di sekitar kita sendiri.” (Ira Lathief)
https://travel.detik.com/travel-news/d-4603780/penuturan-pemandu-wisata-akan-permintaan-ajaib-turis-asing
6. Hidup dengan Passion - Ikuti Kata Hati Loe ! (Wawancara dengan Ricky Conrad TV)
“Kita seringkali berjalan hingga jauh mencari “emas” dan “permata”, tapi kita sering lupa bahwa sebenarnya hal hal yang berharga itu ada di depan mata dan bisa ditemukan di sekitar kita sendiri.” (Ira Lathief)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Baca Juga Yang Satu Ini
Pesta Mandi Bedak , Puncak Perayaan Tahun Baruan Kampung Tugu Yang Tak Kalah Seru Dengan Festival Songkran di Thailand
Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia? ...

























