Pesan Seorang Ayah (Atheis)
Creative Traveler
Ira Lathief's Stories in Seeing the World Creatively
Profil Linkedin Ira Lathief
Pesan Seorang Ayah (Atheis)
Surat Untuk Mark Ojahan - Sahabat yang setia, seru dan sekaligus nyebelin
Pasti lo sekarang udah jauh lebih hepi ya sekarang di alam
baru.
Bisa baca buku sepuasnya, main lego siang malem, dan bisa
nonton film Indonesia sampe mabok (eh :0)
Disana pasti seneng ya koh, udah ga lagi dikejar deadline kerjaan dari para bos
corporate yg bikin lo naik darah.
Koh, banyak yang ga percaya lo pergi secepat itu. Begitupun
gue. Gue kira lo jenis orang yang bakal berumur panjang dan menjadi opa opa bawel nan gaul saat tua nanti…hohoho
Btw koh gue mau berbagi cerita tentang apa yang gue rasain
selama kita bersahabat lebih dari dua dekade.
Koh, buat gue lo adalah sahabat yang setia , seru sekaligus nyebelin
Lo adalah satu dari sedikit kawan hilanders yang setelah
lepas dari masa perkuliahan , masih sering jadi temen main gue di dunia
pergaulan, perdugeman (Dugem – duduk gemeter) dan dunia persilatan alias dunia
kerja.
Ok gue jabarin ya satu satu deskripsi gue tentang lo.
Pertama, lo itu sahabat yang nyebelin
Iya, lo itu menyebalkan dengan segala kebawelan lo. Jujur
sebenernya belakangan gue suka sebel baca postingan kritis (kebawelan) lo di
grup whatsap hilanders . Tentang
pemerintahan , tentang fenomena terkini, tentang wabah covid, dan banyak perisitiwa
yang lo komentarin dengan nada kritis
Tapi ternyata gue salah koh..Justru kebawelan lo yang konsisten itu yang bikin grup Hilanders berasa hidup.
Lo itu konsisten dalam hal menyuarakan kekritisan dengan
cara lo. Dan sekarang malah mungkin hal itu yang dirindukan banyak teman teman
Hilanders.
Dengan segala kekritisan lo itu, lo juga sebenernya punya bakat menulis yang hebat. Ga heran lo dipercaya sebagai Head Writer di grup perusahaan bank ternama di Indonesia.
Gue juga takjub dengan hasil pengamatan lo yang bisa lo tuangkan dalam sebuah tulisan baik itu berupa tulisan panjang di blog ataupun cuma komentar atau cuitan sinis di sosial media.
Eniwei , Lo mungkin dulu ga nyadar ya, kalo dulu gue sering mampir di blog lo dan baca tulisan tulisan lo.
Gue jadi teringat di tahun 2007 , lo pernah bikin tulisan humor di blog lo tentang gue yang menurut lo terobsesi untuk jadi orang terkenal. Judul tulisan itu adalah : “Desperately Seeking Popularity” (hahahaha, siake banget cara lo nge-bully gue melalui tulisan )…. Tapi gue inget waktu baca tulisan lo itu gue pun sangat terhibur.
Cuma satu aja hal
yang gue sesalkan, blog lo itu hilang entah kemana ga ada jejaknya . Padahal blog itu merekam banyak pemikiran dan perasaan lo.
Sekarang kalo mau lihat dan baca lagi tulisan tulisan lo
hanya tersisa akun FB lo (yang jarang ada postingan) dan cuitan cuitan lo
di twitter . Dan…hmmm kayaknya emang
dunia twitter emang cocok dengan kebawelan lo J
Oya gue tahu lo cukup popular di dunia twitter, terbukti banyak akun seleb medsos
yang juga follow akun twitter lo dan
juga ikut kehilangan saat lo pergi.
Kedua, lo itu sahabat
yang seru
Koh , buat gue lo itu sahabat yang seru di berbagai periode umur J
Kita temen main dari zaman kuliah saat kita sama
sama masih lugu(!!), dan ga nyangka masih
berlanjut terus sampe usia jadi tante tante dan om om.
Ada saat kita sering nongkrong bareng sehabis pulang kerja karena kantor kita deketan , gue di PH Freemantle dan lo di Trans TV.
Inget ga
koh, suatu kali kita janjian ketemuan saat lo baru aja resign dari Trans TV.
Dan waktu itu masih zaman sms-an. Lo kirim sms ke gue “ Gue tunggu di depan
gerbang X kantor gue jam 5.30. “
Trus gue ke Trans TV nyariin gerbang 10 (X) yang lo bilang, tapi udah muter muter ga ketemu itu dimana gerbang 10 (dan saat itu pulsa gue lagi habis jadi ga bisa hubungin lo).
Pas akhirnya liat lo ga sengaja di pinggir jalan, lo ngomelin gue karena datang telat setengah jam dari janji. Dan gue baru paham maksud sms lo itu adalah ketemuan di gerbang Ex (bekas) kantor lo dan bukan gerbang 10 seperti yang gue tangkep….Wew !! Kita ngakak berdua ampe sakit perut di pinggir jalan waktu itu.
Tapi koh , walau temenan sekian lama , gue tuh ga pernah
ketemuan atau dikenalin dengan kembaran lo.
Hingga akhirnya gue mengalami peristiwa “konyol”
Lo inget gak koh, suatu kali kita lagi telponan. Saat itu gue lagi liputan di PRJ dan lo lagi di kantor. Di tengah obrolan kita via telpon, trus tiba tiba gue merasa seperti bulu kuduk merinding karena melihat sosok lo berjalan ke arah gue, seperti sulap kok tiba tiba ada lo di depan mata gue .
Gue teriak dan panggil
panggil nama lo tapi kok ga gubris. Eh gue baru tau ternyata itu adalah sosok
kembaran lo. Pantesan aja dia ga gubris, karena emang Matthew ga pernah ketemu dan kenal sama gue.
Trus ada masa masa dimana kita sering hangout dan melakukan hal hal receh bareng. Nonton film film Indonesia di bioskop . Pergi bareng ke event serius sampe event “kekanak kanakan” (inget ga koh, kita pernah bela belain ngantri jumpa fans Pak Raden buat dapat tanda tangan dia,
Atau waktu kita ke Sentul naik bis umum demi buat naik balon udara tapi sampe disana gagal, balonnya ga bisa terbang karena hujan…huhuhu .
Lalu ada masa kita sering kongkow di kafe sampe larut malam, dan saling curhat tentang masalah hidup , masalah kerjaan sampe masalah asmara (ehhmm…ehmmmm)…
Kalo diingat ingat lagi sekarang, kenangan main bareng lo itu precious banget koh .
Ketiga, lo itu sahabat yang setia
Koh lo tau ga…. lo itu salah satu dari sedikit teman masa
kuliah gue , yang tetap ada dan hadir buat gue saat berjibaku di dunia persilatan
alias dunia karir.
Lo hadir di acara acara peluncuran buku gue, dan lo pun juga membeli buku buku gue
Gue inget saat gue nerbitin buku pertama. lo pernah tulis review buku gue di Goodreads.com (situs review buku). Disitu lo tulis kalo lo beli buku itu bukan karena isinya , tp karena temenan ama penulisnya. Gue tau banget sebagai pembaca buku kelas berat, mungkin aja buku gue termasuk ecek ecek buat lo. Tapi gue hargai bahasa halus lo untuk ga terang terangan mengkiritik jelek buku gue di ranah publik ….hahaha…..
Lo pun berkali kali hadir dan ikut di Tur Tur yang gue
bikin, dan juga membagikan pengalaman itu di sosmed lo. Lo satu satunya temen kuliah gue yang paling sering
ikut Tur yang gue bikin.
Trus lo inget ga koh, dulu gue pernah punya kafe namanya D’Marco Café , sampe banyak temen kuliah yang ngira itu usaha kita berdua. Dan lo juga sering menyambangi kafe gue dulu, plus ngajak orang untuk kongkow disana.
Kalo diiingat ingat lagi sekarang, betapa berharganya punya teman yang selalu mensupport dan peduli dengan apa yang lo kerjakan. Makasih koh, I feel really appreciated with what you did
Salah satu kenangan indah terakhir yang gue alami bareng lo adalah saat lo mengundang gue untuk sharing tentang penulisan kreatif di kantor lo. Sehabis event itu, lo ngajak gue Tur keliling kantor lo dan nunjukkin berbagai fasilitas di kantor lo yang lo bilang bikin karyawan betah dan happy kerja disana.
Saat itu, lo tampak sangat bercahaya dan gembira. Dan saat itu, gue pun ikut happy, to see your happiest place at work.
Ternyata perjumpaan di kantor lo itu adalah saat terakhir
kita “hangout” bareng.
Dan sekarang lo udh hangout di alam baru, di tempat yang jauh lebih bahagia.
(Foto terakhir bersama Markoh at his happiest place : His office)
Epilog
Markoh, saat lo pergi
begitu banyak orang yang kehilangan lo.
Hilanders yang udah lama ga silahturahmi, sampe bikin sesi
zoom khusus untuk mendoakan lo.
Bahkan Keluarga IKAHI pun ada sesi khusus untuk ikut
mendoakan lo di sesi zoom.
Bahkan Hilanders mau bikin kompilasi tulisan kenangan terindah bareng lo.
Well dengan kepergian lo, You brought us together koh!
And that's incredible. Gak semua orang bisa dan mampu melakukan itu, setelah kepergiannya.
Lalu... itu semua bikin gue ikut merenungkan tentang makna Kepergian.
Hidup ini pada akhirnya adalah kepingan sepenggal cerita.
Cerita tentang yang meninggalkan dan
ditinggalkan.
Pasti nun jauh di atas sana, lo tersenyum bahagia melihat bahwa kepergian lo meninggalkan banyak cerita berharga. Untuk menjadi pelajaran bagi kami, tentang bagaimana menjalani hidup yang bermakna bagi banyak orang.
Terima kasih Koh, untuk cerita, kenangan indah dan bermakna yang lo tinggalkan.
Selamat berbahagia di tempat baru ya koh!
Sampai kita berjumpa
lagi suatu hari nanti.
@ira lathief – 2021
PS : Walau rambut lo udh memutih dari belasan tahun lalu.
Tapi lo ga perlu sampai menua di dunia.
Lo bakal terus awet muda disana!! J☺
Mengenal Tjong A Fie -Sosok Saudagar Superkaya dan Super Dermawan Dari Medan
Sudah lama saya mendengar cerita tentang "Rumah Megah Tjong A Fie” yang jadi Cagar budaya dan Museum di kota Medan. Di tahun 2017 saya berkesempatan berkunjung ke tempat ini dan menjelajahi tiap sudut di Mansion Tjong A Fie yang berlokasi di Jl Jend A. Yani、Kesawan 、untuk mengenali seperti apa sosok istimewa Tjong A Fie semasa hidupnya.
Setiap harinya, Tjong A Fie membuka rumahnya untuk memberi makan ratusan orang miskin. Tjong A Fie yang menganut agama Kong Hu Cu ini banyak membangun rumah ibadah berbagai agama (Mesjid, Gereja, Wihara dan Klenteng). Mesjid Lama Gg Bengkok -Mesjid tertua di Medan, biaya pembangunannya ditanggung penuh oleh Tjong A Fie、bahkan Istana Maimun yang jadi kebanggaaan warga Medan, juga pembangunannya dibiayai 30persen oleh Tjong A Fie . Begitupun Mesjid Raya Termegah di Medan, Al Mashun、sepertiga biaya pembangunanya disumbang oleh Tjong A Fie dan sang kakak Tjong Yong Hian yang juga sama sama memperoleh gelar Mayor.
Selain memiliki kemampuan bisnis yang hebat, 2 tokoh kaya raya ini juga memiliki kepedulian sosial yang sulit dicari bandingannya sampai saat ini. Kepedulian sosial mereka, membuat kehidupan masyarakat di Medan (kala itu masih bernama Deli Tua) berlangsung sangat harmonis.
Tjong A Fie dan Tjong Yong Hian juga membangun rumah sakit yang menyediakan pengobatan gratis, juga menyediakan rumah penampungan bagi kaum tuna wisma. Kakak beradik ini, juga mendirikan rumah sakit khusus penderita lepra. Mereka para penderita lepra dirawat sampai sembuh dan kemudian dikembalikan ke masyarakat, tak hanya sembuh tapi juga sudah memiliki kemampuan / ketrampilan untuk dapat hidup mandiri. Mereka juga mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan bagi penduduk setempat. Bahkan mereka pernah membantu pendirian sebuah sekolah dengan menyumbang 150.000 gulden (bandingkan dengan pembangunan Institut Teknologi Bandung) yang pada tahun 1914 membutuhkan biaya sebesar 500.000
Mayor Tjong Yong Hian (1850 - 1911) dan sang adik Mayor Tjong A Fie (1860 - 1921) begitu besar jasanya bagi masyarakat Medan、dan sudah sepatutnya kisah mereka tercatat dalam tinta sejarah bangsa ini. Ketika meninggal, kematian keduanya diratapi oleh banyak orang, kota Medan kebanjiran pengunjung dari berbagai penjuru, yang ingin mengantarkan keduanya ke peristirahatan terakhir.
Bahkan di dalam surat wasiatnya,,Tjong A Fie berpesan agar keluarganya meneruskan kebajikan untuk banyak menolong Masyarakat, tak terbatas apapun sekat atau golongan apapun. Sungguh pelajaran luar biasa dari seorang saudagar yang benar benar Kaya Hati.
Rumah Tjong A Fie yang super mewah (bahkan untuk ukuran saat ini) sejak tahun 2009 dibuka untuk umum dengan harga tiket masuk seharga 35ribu plus sudah didampingi seorang Tourist Guide. Dari sang pemandu inilah、saya mendapatkan banyak cerita tentang Mansion tersebut juga kisah kedermawanan yang menakjubkan dari Tjong A Fie dan keluarganya. Di mansion Tjong A Fie sendiri masih didiami keluarga /keturunannya yang tinggal di bagian belakang mansion. Saat saya datang kesana、saya sempat bertemu dengan seorang cucu Tjong A Fie、seorang nenek berusia sekitar 80an tahun yang sedang beberes di bagian dapur. Tapi ia menolak untuk diajak berfoto.
'Hidup' Tjong A Fie mengajarkan kita untuk bermurah hati menolong sesama manusia, tidak peduli apakah etnis, suku dan agamanya. Dan Tjong A Fie adalah bukti bahwa bukan sekedar Kekayaan Harta, tapi justru Kebaikan dan Kebajikan lah yg akan membuat 'hidup' manusia akan terus dikenang abadi.
A Tribute to My Mom = Ceritaku Tentang Guru Terbaik dalam Memaknai Toleransi dan Cinta Kasih Tanpa Sekat
Kepergian seseorang yamg kita cintai untuk selamanya terkadang mengajarkan kita bgm arti Kehidupan. Itupula yang aku alami. Sejak tahun 2004, bulan Februari selalu memaknai arti khusus bagiku.
Sebelum bulan yang identik dengan cinta kasih ini pergi, aku ingin berbagi cerita tentang Almarhum Ibuku yang adalah guru terbaikku dalam memaknai Toleransi dan Cinta Kasih
Maukah engkau mendengarkan ceritaku?
Di tahun 2004 tanggal 9 Februari, Ibuku pergi menghadap yang kuasa. Hari kepergian almarhum ibuku meninggalkan kenangan yang sangat membekas. Kepergian ibuku membuatku tersadar tentang bagaimana menjalani hidup yg sesungguhnya.
Saat ibuku pergi, aku tetrharu menyaksikan sendiri bagaimana begitu banyak sahabat sahabatnya dari berbagai kalangan agama , etnis, dan golongan, ikut mengantarkannya hingga ke tempat peristirahatan terakhir. Saat itu aku tersadar, begitu berwarna dan bermakna hidup yang pernah dijalani ibuku semasa hidupnya..
Mungkin, warisan pelajaran hdiup terbesar dari ibuku adalah tentang penghargaannya kepada kemanusiaan dan keberagaman . Semasa hidupnya ibuku punya begitu banyak sahabat dari berbagai kalangan agama dan etnis yang dikasihinya. Dan itu menjadi memori kuat yang paling aku ingat dari ibuku.
Aku ingat, saat aku kecil, aku sering diajak ayah dan ibuku untuk berkelilling rumah rumah tetangga yang merayakan Natal. Ibuku juga sering menghadiahi makanan atau kue kepada sahabatnya yang merayakan natal. Begitupun saat Imlek tiba, ibuku juga ikut bergembira dan mengucapkan kepada sahabat sahabatnya dari etnis Tionghoa yang merayakan. Padahal saat itu di tahun 80an, imlek dilarang untuk dirayakan secara terbuka. Sangat jarang orang yang mau terang terangan mengucapkan selamat imlek kepada yang merayakan .
Sebaliknya, tiap jelang Lebaran, rumah kami dahulu banyak sekali dikirimi parcel parcel dan hadiah oleh sahabat sahabat baik ibuku yang bukan beragama muslim. Sahabat sahabat ibuku itu, bahkan tetap mengirimkan parcel parcel lebaran itu ke rumahku, sampai beberapa tahun setelah ibuku meninggal. Hal itu yang membuatku menyadari betapa ibuku bermakna bagi para sahabatnya, bahkan saat ia telah pergi
Karena ibuku juga terbiasa dengan keberagaman, begitupun ia membiasakan aku dengan keberagaman sejak kecil. Sahabat sahabat masa kecilku adalah para tetanngga rumah ada yang beragama Kristen, katolik dan juga berasa dari etnis tionghoa. Dan ini terus berlangsung sampai aku SMA. Teman temanku dari berbagai agama dan etnis itu sering bermain di rumahku, dan tentu saja selalu diterima dengan ramah oleh ibuku. Bahkan ketika aku masuk kuliah , aku mengontrak rumah di Jatinagor dengan beberapa teman baik yang beragama Kristen. Keberagaman adalah sesuatu yang alamiah bagiku. Dalam artian, itu bukan sesuatu yang istimewa bagiku saat itu.
Sampai suatu ketika , saat di tahun terakhir kuliah dan ngekos di Bandung, ada suatu hal yang menggelitik saat ngobrol dengan teman kosanku. Ia bercerita senang mendapatkan pengalaman kuliah di luar kota karena bisa punya teman teman dari berbagai agama. Saat itu pun saya begitu heran dan bertanya. “Memangnya sebelum kuliah , lo ga punya sahabat beda agama? “
Lalu ia pun curhat kalau sejak kecil ia selalu diajarkan di keluarganya untuk tidak boleh bergaul akrab dengan teman yang beragama beda. Ia pun juga terbiasa mendengar doktrin di lingkungannya bahwa penganut agama lain identik dengan kafir. Baru ketika ia berkuliah dan tinggal jauh dari rumahnya ia punya kesempatan untuk mengenal beragam orang dari latar belakang agama dan etnis . Dan ia merasa sangat mensyukuri hal itu.
Dari penjelasan teman saya, membuat saya tercenung. Saya jadi tersadar bahwa faktor di keluarga dan lingkungan punya pengaruh kuat dalam membentuk pola pikir seseoramg terhadap Toleransi dan keterbukaan kepada keberagaman. Alangkah bersyukurnya saya bahwa sejak kecil, keluarga saya tidak pernah melarang saya bergaul dengan teman2 yang berbeda agama. Saya juga bersyukur tidak permah diberikan doktrin negatif apapun tentang penganut agama lain dari orang tua saya sejak kecil. Bahkan seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendengar Ibu saya memberi label “kafir” kepada orang lain yang berbeda agama.
Dan di saat itulah saya menyadari, bahwa pengalaman terhadap keberagaman adalah suatu privilege/ keistimewaan dan anugrah. Dan saya bersyukur mendapatkan contoh tentang “merangkul keberagaman” dari ibu saya sejak kecil.
Pengalaman hidup yang saya lalui juga memberikan saya kesempatan mengenal lebih banyak lagi “keberagaman” dalam hal agama dan keyakinan.
Di masa kuliah , saya berkesempatan mengikuti program pertukaran pemuda internasional untuk pertama kalinya . Disitulah saya mulai mengenal lebih dekat orang dari berbagai latar agama, bahkan yang tidak punya agama sekalipun. Dua teman sekamar saya waktu itu adalah peserta dari Kamboja seorang Budhis yang sangat taat dan selalu berdoa sangat khusyuk saat sebelum tidur dan bangun tidur. Dan satu orang lagi dari Vietnam yang negaranya menganut paham komunis dan tidak percaya dengan konsep agama. Di program itu, saya punya banyak sahabat dari negara Singapura dan Jepang, yang kebanyakan dari mereka tidak menganut agama tertentu . Tapi mereka adalah orang orang baik di mata saya.
Saat mulai bekerja sebagai Wartawan/ Reporter TV, saya berkesempatan pergi ke berbagai daerah dan bertemu orang orang yang masih menganut agama leluhur seperti Sunda Wiwitan, Kejawan dll. Lalu saat mulai bekerja sebagai Tourist Guide, saya juga bertemu banyak orang asing dari agama agama seperti Bahai,Yahudi, hingga Mormon yang sebelumya tak pernah saya kenal ada di Indonesia.
Saya merasa kesempatan kesempatan mengenal beragam orang dari berbagai kalangan agama itu saya anggap sebagai suatu keberuntungan , yang belum tentu dialami oleh semua orang karena satu dan lain hal.
Peristiwa Pilkada DKI di tahun 2016 yang syarat dengan ujaran kebencian berbau SARA menjadi momentum titik balik bagi saya. Saya sangat prihatin dengan fenomena di masyarakat yang begitu mudah melabeli orang lain dengan KAFIR , juga mengolok olok etnis Cina. Ujaran ini bahkan juga didengungkan di khotbah mesjid dan pengajian pengajian.
Saat itu saya sempat terpikir dan bertanya tanya dalam hati, "Orang orang yang sering melabeli orang lain kafir , apakah mereka punya sahabat sahabat yang berbeda agama ? Mereka yang dengan mudahnya menebarkan ujaran kebencian kepada etnis Cina, punyakah ia sahabat dari etnis tersebut?"
Lalu saya teringat dengan sahabat sahabat almarhum ibu saya yg begitu beragam latar belakangnya. Ada Tante Maria ,seorang Nasrani yang paling sering menjenguk dan menunggui ibu saya saat terbaring di rumah sakit. Ada Om Har atau Om Alex yang beretnis Tionghoa, yang tetap bersahabat baik dengan keluarga saya hingga belasan tahun setelah ibu saya meninggal. Saya juga masih ingat, ketika peristiwa kerusuhan 98 di Jakarta, ibuku ikut menangis pilu saat mengetahui rumah sahabatnya yg seorang Tionghoa menjadi target amuk massa.
Pikiran saya pun melayang kepada almarhumah ibu saya . Rasanya tidak mungkin tudingan KAFIR, Cina, dsb itu meluncur dari mulut ibu saya karena sepanjang hidupnya ia punya banyak sahabat dari kalangan beragam agama dan etnis.
Saat itu saya juga merasa prihatin dengan menguatnya fenomena ekslusivitas keagamaan di sekitar saya. Apalagi ketika membaca sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Jakarta termasuk satu dari 10 kota yang paling tidak toleran di Indonesia., yang membuat saya begitu terusik dan ingin berbuat sesuatu untuk warga Jakarta. Tapi lalu saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan ??
Sebagai seorang Pemandu Wisata/ Tourist Guide yang terbiasa mengunjungi berbagai rumah ibadah karena tuntutan pekerjaan. , maka di awal tahun 2017 saya lalu berinisiatif membuat suatu kegiatan kunjungan Tur yang dinamakan Wisata Bhineka (wisata ke berbagai rumah ibadah) yang bertujuan utk membangun Toleransi dan menambah wawasan tentang kebhinekaan indonesia. Kegiatan Wisata Bhineka ini menjadi agenda rutin yang dikoordinir oleh Wisata Kreatif Jakarta. , sebuah tour organizer yang juga saya dirikan sejak tahun 2017.
Dari mengadakan Wisata Bhineka secara rutin ini, saya mengamati bahwa begitu banyak orang yang seumur hidupnya belum pernah mengunjungi rumah ibadah agama lain, atau banyak orang yang punya persepsi negative terhadap penganut agama lain karena memang mereka tidak punya teman baik dari agama yang berbeda. Apalagi skr banyak org tua yg menyekolahkan anakmya di sekolah dengan basis keagamaan yg ekslusif sejak TK hingga SMA, sehingga seorang anak tumbuh hingga besar di lingkungan yang seragam saja.
Berangkat dari Wisata Bhineka, ada keinginan kuat untuk membuat suatu kegiatan lebih besar lagi yang memberikan ruang ruang dan kesempatan untuk berbagai penganut agama dan keyakinan utk saling mengenal lebih baik, melalui pendekatan yang menyenangkan.
Hal Itulah yang lalu mendasari di awal tahun 2018 untuk menginisiasi Festival Kebhinekaan dan membentuk yayasan Khairiyah Indonesia. Khairiyah sendiri adalah nama belakang saya yang dalam bahasa Arab berarti Goodness/ Kebaikan.
Festival Kebhinekaan sendiri bertujuan untuk Memperkuat Toleransi Lintas Agama melalui ragam kegiatan yang rileks seperti Wisata Bhineka, Pemutaran Film, Pameran Seni, Diskusi Tentang Agama Agama dll, untuk meemberikan ruang dan kesempatan kepada berbagai penganut agama dan keyakinan untuk saling mengenal lebih baik. Ada idiom, tak kenal maka tak sayang. Maka Festival Kebhinekaan ingin memberikan kesempatan kepada publik terutama generasi muda untuk mengenal lebih dekat saudara saudara setanah air yg berbeda iman/agama/keyakinan.
Saat ini Festival Kebhinekaan sudah berjalan di tahun ke tiga dan diadakan tiap bulan Februari, yang juga selalu identik dengan bulan cinta kasih dan juga bulan dimana ibuku pergi menghadap Sang Maha Cinta.
Dalam perjalanannya yang singkat, di th 2018, Khairiyah Indonesia pernah mendapatkan kepercayaan berupa Grant / Hibah dari Indonesia Untuk Kemanusiaan, dengan mengkoordinir ratusan pelajar dan guru di Jakarta mengikuti Wisata Bhineka. Waktu demi waktu semakin mengarahkan saya kepada bidang edukasi dan advokasi tentang isu isu Toleransi dan kebebasan beragama. Saya juga bersyukur mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu beragam pemuka agama dari berbagai bangsa..
Jika ada yang bertanya , kenapa beberapa tahun belakangan saya mau bersusah susah menekuni kegiatan dalam bidang yang berhubungan dengan Lintas Keagamaan seperti ini, padahal profesi sehari hari saya adalah seorang Tourist Guide ?
Memang kalo dipikir pikir lagi, dari dahulu tidak pernah sedikitpun terbersit di benak saya untuk bersinggungan dengan bidang kemanusiaan yg satu ini. Tapi jalan hidup memang sungguh misteri. Dan saya memaknai bidang yang saya lalukan ini sebagai “panggilan hidup” yang berkaitan erat dengan almarhum ibu saya.
Sebagian orang sungguh beruntung masih bisa memiliki Ibu kandung hingga usia menua. Tapi tidak denganku. Almarhum ibu saya meninggal ketika saya berusia 23 tahun, saat saya baru akan di wisuda. Belum banyak hal yang bisa saya hadiahkan untuknya ketika ia masih hidup. Belum banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan dirinya saat ia masih hidup. Tapi saya pernah mendapatkan suatu nasihat, jika ingin membalas jasa orang tua yang sudah meninggal, lakukanlah hal hal yang ia senangi saat hidupnya. Dan yang saya tahu, ibu saya sangat menghargai keberagaman agama sepanjang hidupnya.
Secara personal, saya memaknai jalan yang saya tekuni melalui Khairiyah Indonesia dan Festival Kebhinekaan saat ini sebagai ikhitiar untuk meneruskan nilai nilai kebaikan tentang penghargaan kepada keberagaman dan kemanusiaan, yang dicontohkan dan ditunjukkan oleh Ibu saya semasa hidupnya. Dan saya akan selamanya berterima kasih kepada Ibu saya yang telah menjadi Guru Kehidupan terbaik tentang memaknai Toleransi dan Cinta Kasih yang melintasi sekat sekat.
Saya tahu tak akan bisa saya membalas jasa seorang ibu. Tapi saya berharap nun jauh di atas sana, ia senang dan tersenyum melihat jalan yang saya pilih saat ini.
Dan semoga kiranya Allah dan semesta alam merestui ikhtiar ini.
Wisata Belanja Baju Musim Dingin Branded Murah di Pusat Factory Outlet Mangga Dua Square
Nah pas denger kalo di Mall Mangga Dua Square di Jakarta Utara, bisa berburu baju baju dan jaket musim dingin dengan harga damai、tentu bikin penasaran. Setelah cek bebicek langsung di Mall Mangga Dua Square ini ternyata memang banyak koleksi baju baju dingin branded yang dijual di berbagai Factory Outlet (FO) disini. Kesemua gerai FO yang ada disini adalah cabang dari jaringan FO kenamaan yang hits di Bandung atau Puncak Total ada 8 gerai Factory Outlet besar di Mall ini, yang menjadikan Mangga Dua Square sebagai Shopping Mall yang memiliki Factory Outlet (FO) terbanyak di Jakarta
Jadi ketika orang orang Arab itu berwisata ke Indonesia, khususnya di Jakarta atau Puncak, pasti salah satu "suvenir" wajib yang mereka cari adalah kayu kayu Gaharu yang harganya jauh lebih murah. Di Mangga Dua Square ini memang banyak sekali toko toko penjual kayu Gaharu, bahkan ketika kita masuk ke lobi utama Mall ini sudah tercium aroma khas kayu Gaharu. Dan menurut saya, hal ini memang kekhasan dan keunikan Mall Mangga Dua Square yang tidak didapati di shopping shopping mall lain di Jakarta.
Btw pernah ga sih kamu heran, kok baju baju dingin di F0 FO disini bisa dijual dengan harga murah padahal banyak brand kenamaan luar negri, kok bisa ya ? Saya pun sempat penasaran kenapa.
Nah rasa penasaran ini ternyata terjawab setelah saya tanya sana sini, ternyata koleksi pakaian branded yang dijual di FO FO adalah produk produk sisa ekspor yang kebanyakan pabriknya ternyata ada di Indonesia. Emang udah bukan rahasia lagi kan, kalo banyak produk fashion branded kelas dunia yang punya banyak pabrik di negara negara dunia ketiga seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam.
Jadi, misalnya nih, kalo kita beli baju dingin di Paris dengan merk Burberry dengan harga selangit, nah bisa jadi itu aslinya di produksi di salah satu Pabrik tekstil di Cikarang, Bekasi.....hehehee....kalo gitu yah mending kita beli langsung di tempat asal produksinya dong, karena bisa jadi harganya jauuuh lebih murah.
Dan tambahan lagi nih、saya dengar di Mall Mangga Dua Square ini juga bakal segera diresmikan Korea Center、yangbisa jd pusat kegiatan dan aktifiitas komunitas pecinta budaya Korea seperti K-Pop、K Drama dsb. Seru banget kayaknya!
Uniknya Perayaan Rabo Rabo, Pesta Tahun Baruan Orang Kampung Portugis Tugu





Ket : Artikel ini sudah tayang di blog kompasiana saya berikut https://www.kompasiana.com/iralathief/5a4a5afcdd0fa82b583465c4/uniknya-perayaan-rebo-rebo-pesta-tahun-baruan-orang-kampung-tugu
⏲️ 09.00 - 14.00 WIB
📞 RSVP 0812 9822 9129
💰 Rp120.000/orang ; termasuk kuliner khas Kampung Tugu
📍 Meeting Point : Gereja Tugu •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
📌 Rabo Rabo ialah perayaan khas Orang Tugu, tiap 1 Januari dengan cara bermain musik keroncong beriringan dari rumah ke rumah untuk memulai tahun yang baru. Dalam Tur spesial ini, Anda akan diajak untuk blusukan mengunjungi Kampung Tugu yang dihuni oleh orang orang keturunan Portugis yang sudah berada di kota ini selama lebih dari 4 abad. Rangkaian Tur akan diakhiri dengan melihat bagaimana orang Tugu merayakan Rabo Rabo sebagai selebrasi setahun sekali dalam menyambut datangnya tahun baru.
i 📌 Harga Tur sudah termasuk :
1. Donasi Gereja & Donasi utk IKBT/Ikatan Keluarga Besar Tugu
2. Menikmati Kuliner Khas Tugu : Gado Gado Siram Tugu, Kue Pisang Udang, Kue Apem Kinca dan Kue Ketan Unti.
•
📌 Untuk rute Tur Spesial ini, jika pembayaran via transfer hingga hari H-2 diskon 10 persen (Rp 12.000)
Transfer via Rek BCA
No. rek : 007-025-8021
Atas Nama : Ira Yuniarty Khairiyah.
Yuk Kenali Lebih Dekat Batik Khas Jakarta di Kampung Batik Terogong

Di tempat ini kita juga belajar gimana caranya bikin Batik Betawi yg sederhana dari mulai proses membuat motif/pola hingga menggunakan canting dan malam、dan kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan Batik yang dikerjakan oleh para pengrajin batik yang orang orang Betawi asli. Seru !



Seperti halnya Batik dari berbagai daerah di Indonesia yang setiap motif punya makna dan arti filosofis、begitupun dengan batik Betawi yang tiap motifnya punya makna filosofis menarik.







Ket : Artikel ini sudah tayang di blog kompasiana saya dengan link
https://www.kompasiana.com/iralathief/5decfda9d541df1b7d0bb902/yuk-kenali-lebih-dekat-batik-khas-jakarta-di-kampung-batik-terogong
Baca Juga Yang Satu Ini
Pesta Mandi Bedak , Puncak Perayaan Tahun Baruan Kampung Tugu Yang Tak Kalah Seru Dengan Festival Songkran di Thailand
Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia? ...