Wrong Address : SLAHA ALATAM



Wrong Address : SLAHA ALATAM

Benarkah kita (TIDAK) terbiasa mencerna informasi secara baik????


Aku pernah mengikuti sebuah kegiatan bersama pemuda-pemudi Singapura selama dua minggu. Salah satu “aturan” yang ada di buku panduan mereka adalah anjuran untuk tidak mudah menghakimi (Don’t Be Judgemental), atas apapun. Ternyata mereka benar-benar menerapkan “aturan” ini dalam kesehariannya, dengan cara membiasakan diri untuk mencerna informasi dengan baik. Mungkin budaya seperti ini bisa membuat Singapura menjadi negara maju.

Bagaimana dengan kita?? Apakah kita sudah terbiasa mencerna informasi dengan baik??

Contoh Satu (hal kecil, sering terjadi):
Di sebuah milis yang beranggotakan para professional, seorang teman, sebut saja si CANTIK pernah mem-forward email tentang informasi lowongan pekerjaan (loker). Di email tsb, si CANTIK sudah memberikan informasi lengkap tentang kriteria loker dan juga alamat email HRD kantor bersangkutan.

Esoknya si CANTIK mengirim email klarifikasi, yang memberitahukan bahwa ia bukan bagian HRD, dan ia juga tak tahu menahu tentang proses rekrutmen (wajar saja, karena ia toh cuma mem-forward email). Klarifikasi ini dia buat karena setelah mem-forward info loker tersebut, inbox dia dipenuhi email-email yang menanyakan prosedur rektrumen tentang loker tersebut. CANTIK juga kewalahan menerima surat lamaran yang ditujukan ke emailnya, bukannya malah langsung ditujukan ke alamat email HRD yang bersangkutan.

Contoh Dua (hal besar, Selalu terjadi) :
Dalam kehidupan kantor ataupun komunitas pergaulan, seringkali kita mendapati ada saja pendapat yang mendiskreditkan nama seseorang, Anggapan seperti: Si Fulan itu orangnya begini…loh…, Si Fulanwati orangnya begitu loh……, biasanya berkembang dari mulut ke mulut, sehingga kita pun bisa ikut termakan gosip. Akibatnya, kita pun langsung mempunyai prasangka macam-macam. Dan pikiran kita pun terlanjur dipenuhi asumsi-asumsi negatif.

Menurut bosku di kantor, hal seperti ini akan membuat kita antipati dan menutup diri dengan orang-orang yang digosipkan itu, padahal informasi yang kita terima belum tentu benar. Aku belajar banyak tentang hal ini darinya. Semula aku mengira ia adalah orang yang sangat cuek, sampai aku mengerti bahwa ternyata ia adalah pemimpin yang bijaksana. Karena itu ia sangat berhati-hati berkomentar tentang orang-orang di kantor. Suatu saat ia pernah berkata :

“ Omongan dari mulut ke mulut, apalagi kalau isinya jelek, efeknya dahsyat sekali. Apalagi kalau yang ngomong itu orang yang punya pengaruh. Kita bisa terpengaruh informasi yang belum tentu benar, hanya dari satu pihak. Belum apa-apa, kita udah antipati duluan dan menutup diri dengan orang yang digosipkan. Padahal bisa saja orang itu malah bisa banyak ngebantu kita ...”


Media Massa : Apa yang Kita lihat dan Kita dengar pun (tak) selalu benar

Masih ingat simpang siur berita tentang lokasi penemuan Adam Air, tak lama setelah pesawat itu dinyatakan hilang??? Simpang siur berita ini jelas-jelas terjadi karena pihak Media kurang check, re-check, dan verifikasi, sebelum menurunkan beritanya. Tapi berita terlanjur tersebar luas, dan masyarakat pun jadi korban kesimpangsiuran ini. Dan Media Massa terlalu perkasa dan sulit untuk ditaklukan.

Media Massa juga seringkali menurunkan berbagai kisruh antara Tokoh A vs Tokoh B, Kelompok INI vs Kelompok ITU, dan sebagainya. Hal seperti ini bisa jadi komoditi bagus untuk diturunkan sebagai headline. Biasanya, kita pun akan segera responsif untuk berkomentar ini itu, dengan diiringi dengan segala protes, atau bahkan makian. Padahal belum tentu kisruh yang diberitakan tak seheboh yang kita lihat atau kita dengar. Jenis media INI, bisa saja isinya berbeda dengan jenis media ITU.

Sebagai bagian dari orang Media, aku tak berhak menilai, mana yang benar dan mana yang salah. Hanya saja, mungkin kita perlu membanding-bandingkan berbagai informasi yang masuk, sebelum terburu-buru meresponnya. Media Massa memang membantu untuk membuka wawasan kita, namun seharusnya diingat bahwa Media Massa bukan satu-satunya sarana untuk mendapatkan informasi. Sayangnya kita terlanjur memperlakukan Media Massa sebagai DEWA, dan menyakini segala informasi di dalamnya adalah satu-satunya kebenaran.


Rasanya masih perlu puluhan tahun agar kita benar-benar “Melek Informasi dan Melek Media”, Jadi nggak sedikit-sedikit dibikin panas karena sebuah informasi. Di negara-negara maju, Information Literacy dan Media Literacy sudah ditanamkan sejak pendidikan dasar, hingga masyarakatnya terbiasa untuk mencerna dengan baik informasi yang didapat. Mencerna informasi dengan baik berarti mengumpulkan, menyeleksi, mengidentifikasi dan mengevaluasi informasi , bahkan membandingkannya dengan informasi lain, sebelum memutuskan untuk Memberi respon. Kawanku si orang singapura itu mengistilahkan : Jangan Langsung percaya begitu aja dong...

Mungkin kita akan menjadi bangsa yang suka menghakimi (judgemental), kalau kita tidak terbiasa mencerna informasi yang masuk secara baik. Dalam skala lebih besar, sifat judgemental seperti ini, juga bisa menggiring kita untuk merasa paling benar sendiri, dan tak berusaha untuk belajar memahami hal-hal diluar yang kita yakini. Padahal kebenaran bukan milik monopoli, dan keyakinan bukan untuk untuk dihakimi.


Bagaimana dengan orang Indonesia? Benarkah kita (tidak) terbiasa mencerna informasi dengan baik??

Kayaknya kita lebih terbiasa untuk terburu-buru merespon suatu hal, tanpa berpikir panjang lebih dahulu. Istilahnya ; Yang penting ngomong dulu. Masalah benar atau nggak, itu urusan belakangan.

Lalu, salah siapakah budaya seperti ini??? Entahlah, aku pun tak tahu. Tanyalah pada rumput yang bergoyang.

TO BE A BETTER MAN (WOMAN) : SEBUAH RESOLUSI


(image courtesy of : www.fantasticfiction.com / A better Woman by Susan Johnson)

TO BE A BETTER MAN (WOMAN) : SEBUAH RESOLUSI

“Banyak orang mencoba untuk mengubah dunia. Tapi mereka lupa untuk mengubah diri sendiri.” (Leo Tolstoy, Novelis Rusia)

Kira-kira empat tahun lalu, aku pernah diramal oleh dua orang yg berbeda kalo aku akan menikah di usia 26. Begonya…..dulu aku percaya bahwa saat berusia 26 tahun di tahun 2006, aku bakal mengalami peristiwa besar dan mendapat gelar Nyonya (ehmmm…..ehmmm!). Dan ternyata ngedapetin gelar Ny. (nyonyah maksudnya…), nggak segampang ngedapetin gelar Miss Understanding yang selama ini aku sandang :P

Di awal tahun 2006 lalu, salah satu resolusiku adalah mendapatkan Master dan Mister (!). Yup, akhirnya di pertengahan tahun lalu gelar MSi (alias Master of Sinting??) itu berhasil aku raih. I dedicate this for my beloved Mom, in Heaven. And….tahun 2006 telah berlalu! But …aku belum berhasil dapet Mister ! Here I am…still single and negotiable (!). Tapi…..diluar itu, 2006 adalah tahun yang penuh arti buatku. Di tahun ini…lots of wonderful things happenings in my life.

Terus terang , Philips terang terus, eh maksudnya….terus terang sampe 2/3 tahun lalu, aku masih belum tau tujuan hidupku. Hari-hari aku jalani sebagai rutinitas, sometimes I get bored of my life. Sering kali aku gak tau apa tujuan hidupku satu tahun ke depan. Tapi.... aku merasa mulai mendapat titik pencerahan pada hari wisuda di 2/3 tahun 2006. Di hari itu, aku berkali-kali mendapat ucapan lewat sms, yang kira2 intinya adalah: “ Semoga bisa menjadi orang yang berguna”. At that moment, I realized, my life had been extremely tough when I had to work and study both. So I decided not to waste my valuable times. Tiba-tiba aku teringat apa yang dikatakan Almarhum bundaku. Ngedapetin ilmu dari bangku sekolah emang penting. Tapi, ilmu yang didapat dari “sekolah kehidupan” nggak kalah pentingnya.. I got many lessons from the schools already. So, it was about time for me to get many more lessons from the schools of life. Sejak itu aku bertekad untuk lebih banyak “belajar” lagi. Aku bertekad untuk berubah. Bukan B.E.R.U.B.A.H untuk jadi Satria Baja Hitam(!), tapi untuk bikin hidupku lebih berarti.

Aku belajar untuk “membuka” diri terhadap hal-hal baru, lingkungan baru, serta orang-orang baru, bahkan sesuatu yang dahulu nggak pernah aku sentuh. Untungnya, aku juga dipertemukan orang-orang luar biasa yang “mengajarkan” ku melihat perspektif lain dalam melihat hidup dan kehidupan. Melalui berbagai kesempatan, aku bertemu orang-orang muda yang hebat. Mereka bukan public figure, apalagi selebriti. Mereka adalah orang-orang biasa, yang di usia muda dapat mewujudkan impian-impian mereka, dan bahkan bangkit dari keterpurukan hidup. Satu hal yang bikin aku salut, mereka juga mendedikasikan hidup untuk menolong sesama. Mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat berbahagia dan menjalani hidup dengan kegairahan. Dari mereka, aku betul-betul belajar banyak hal.

Salah satu hal yang ngebantu mengubah cara pandangku tentang hidup adalah mengenal kawan-kawan ODHA (orang yang hidup dengan HIV) yang dulunya mantan pencandu narkoba. Pernah, suatu kali aku menghadiri sesi testimoni mereka . I was so speechless to hear their inspiring stories. Maya, salah satu dari mereka-seorang perempuan hebat, menutup sesi testimoni dengan berkata :

“Apa tujuan hidup kita?? Tujuan hidup semua orang adalah mati. Tapi kematian seperti apa yang kita mau??? Hampir seperempat abad hidup kami dihabiskan dengan berbuat dosa dan menyakiti orang-orang yang menyayangi kami. Kini saatnya, kami ingin berubah. Menjadi orang yang berguna, berbuat yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Kelak saat kami mati nanti, kami ingin dikenang sebagai orang yang baik. “

Daaassshh!!!Kata-kata Maya itu, seperti menohok keras diriku. Di sisi lain, apa yang dikatakan Maya itu serasa es teler 77 yang menyiram dahagaku yang kering kerontang karena kelamaan terdampar di gurun (!). Menjadi orang berguna, yang berbuat terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Dan kalimat itu pula yang mungkin dipanjatkan sebagai doa oleh kedua orang tua saat kita lahir ke dunia ini. Sebuah kalimat yang sangat sederhana, tapi ternyata tidak semudah itu untuk dijalani. Selama ini, sudah banyak sekali waktu yang aku sia-siakan, sudah bergunung-gunung dosa yang aku tumpuk, dan belum lagi tak terhitung banyaknya laki-laki yang ku tolak cintanya...eh, maksudnya orang-orang yang mungkin telah aku sakiti.

Menjadi orang berguna, yang berbuat terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Apakah yang bisa bikin diriku merasa berguna?? Apakah menjadi orang berguna, artinya sekedar menjadikan diriku bermanfaat buat perusahaan dan orang-orang yang membayar gajiku tiap bulan???Rasanya nggak hanya itu.It has to be much more than that!Lalu, gimana bila suatu saat...orang-orang itu udah gak bisa membayarku lagi bahkan gak membutuhkanku lagi ?? Apakah aku masih bisa merasa berguna???

Menjadi orang berguna, yang berbuat terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Kalimat itu juga seperti sebuah tamparan buatku yang menghabiskan seperempat abad dari hidup ini untuk selalu mementingkan diri sendiri, hanya untuk meraih ego pribadi. Aku rasa hal inilah yang bikin hidupku kadang terasa hampa. Aku emang harus berubah, karena aku ingin hidup ini menjadi lebih berarti. Aku gak mau, lima tahun dari sekarang...masa aku cuma akan mengingat hari ini sebagai masa-masa yg hanya kuhabiskan untuk berburu berlian dan berburu para pejantan tambun...:)

Little by little, I started to change. Then…when I started to think about others, not only for my self, amazingly… I found my life running smoothly. Dan…1/3 dari tahun lalu aku merasakan keajaiban yang datang satu persatu, dan membuat hidup menjadi lebih berarti.Kejaiban-keajaiban yang aku dapet emang gak selalu berwujud material, but they’re absolutely cannot be compared with money !! Rasanya benar sekali apa yang dikatakan Hellen Keller, seorang tokoh pendidik :"Jangan tanyakan kapan, tapi keajaiban akan datang menghampiri, apabila kita berbuat yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain."

2006 indeed was an amazing year for me. Di tahun itu, aku emang belum menemukan pasangan hidup, seperti yang dikatakan ramalan-ramalan gokil itu (!). Tapi di tahun 2006, aku merasa menemukan tujuan dan arti hidup yang sesungguhnya.

Now… here I am, in the beginning of 2007.What are my resolutions for this year?? Gak banyak yang aku pingin koq. Aku gak bercita-cita mengubah dunia, menciptakan perdamaian dunia , apalagi menegakkan demokrasi di bumi ini (please deh....cukup sudah seorang George Bush saja yang punya cita-cita ketinggian kayak gitu.......mbok ya hal itu kejauhan banget buat seorang dara jelita nan mungil yang suka ngupil sambil ngemil ini). Jadi, aku cuma ingin belajar menjadi pribadi yang lebih baik, dan syukur2 bisa berguna buat orang lain. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang sahabat, menjadi orang yang berguna untuk orang lain, bisa menjadikan kita pribadi yang bahagia, dan bergairah menjalani hidup. Well…kita emang gak bisa mengubah dunia ini koq, kecuali kita memulainya dari hal kecil, yaitu diri sendiri.

Terakhir…. di tahun 2007… Aku pingin mendapatkan Mister (teteup!!) , terutama yang kayak Tora Sudiro getu deeh. Yuuukzzzz !!!!! Ngimpe kali yee boooo

Menjadi RELAWAN : A Spiritual Journey


* Tulisan ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia (20 Apr 07), dlm Rubrik Jelajahi Pikiranmu.

Menjadi RELAWAN : A Spiritual Journey

Volunteerism is about let your self happily serving others. Volunteerism is about let your self happily exploring yourself. And above all that, volunteerism is about let your self searching the truth of happiness in you.


Belakangan kayaknya kita “dibombardir” rentetan berita buruk dari berbagai media massa. Ditambah lagi ….. orang “berlomba-lomba” mengkritik dan saling menyalahkan. ABCDEF. Aduh Booo…..Cape Deyyyy…Eikee Fusyiing!!! Koq…..seakan-akan bangsa ini gak berenti2 dirundung kemalangan :( TANYA KENAPA???

Berita buruk dan segala macam kritik adalah “makanan” aku sehari-hari. Di lingkungan dunia pemberitaan yang bergelut dengan rating, tempatku mengais-ngais intan dan berlian, aku udah "kenyang" dikondisikan untuk mencari segala kekurangan dan kelemahan dari sebuah peristiwa atau juga orang lain. Well…bad news is always a good news, what can I say!


I love my job, I love what I’m doing.Tapi, sebenernya lingkungan seperti ini sangat memungkinkan aku untuk menjadi pribadi yang juga "negatif", kalo saja aku gak bisa “menyiasatinya”. Untungnya, aku masih “diselamatkan” oleh orang-orang luar biasa, yang selalu “menyadarkan” , bahwa bertindak dan berbuat sesuatu adalah jauh lebih berarti daripada sekedar mengkritik.

Dan…… , aku percaya koq masih banyak janda-janda di negri ini…..eh salah, maksudnya masih banyak kabar baik di negri ini yang bisa menjadi berita gembira. Walaupun ujan batu di negri orang…ujan emas di negri sendiri(!), aku (tetap) bangga jadi orang Indonesia loooh :p

Hal inilah yang bikin aku, di akhir Desember lalu, untuk “lari” dari rutinitas dan ikut kegiatan Coast 2 Coast Project, sebuah kegiatan relawan pemuda internasional di Banda Aceh selama satu minggu.Sudah sekian lama, aku selalu mendengar berbagai hal yang negatif tentang tempat ini. Bahkan setelah dua tahun berlalu sejak tsunami pun, kabar-kabar buruk mengenai Aceh selalu mendominasi, baik yang dimuat di berbagai media ataupun melalui kabar-kabur yang tersiar oleh burung.

Selama menjadi relawan di Aceh, setidaknya aku bisa mendapatkan “kabar-kabar gembira” disana. Aku melihat udah banyak upaya yang dilakukan berbagai pihak (asing) untuk ikut membangun Aceh pasca Tsunami. Dari ekspedisi di Aceh selama satu minggu, ada satu kesan mendalam yang aku rasakan. Aceh yang puluhan tahun “tertutup” dari dunia luar , kini bagaikan gerbang terbuka yang “dibanjiri” bantuan dari berbagai penjuru bumi.

By the way, busway, subway, bajay ….menjadi relawan selama satu minggu di Aceh “membuka” mataku terhadap sisi lain Aceh yang selama ini gak pernah aku tahu. Kabar-kabar inilah yang berusaha aku sebarkan untuk orang-orang, sekembalinya aku di kota metropolitan yang sumpek ini. Namun, beberapa kawan mencoba mengingatkan, bahwa apa yang aku lihat di Aceh itu baru “permukaan ”, karena masih sangat banyak masalah disana. Ya memang, ada banyak “kabar gembira” yang aku dapatkan ketika disana, yang selama ini gak terekspos media. Tapi sebenernya “kabar sedih” dan “cerita-cerita kelam” tentang Aceh yang aku dapatkan langsung selama disana juga gak kalah banyaknya. But then… It is no longer my part to spread such stories. Many people have already played that role in that part.


Hal-hal “baik” yang berhasil aku temukan di Aceh, mungkin memang hanya “permukaan” saja. Apa yang aku dan teman-teman relawan lakukan mungkin hanya sekecil upil, dan gak akan merubah banyak hal disana. Tapi....perjalanan di Aceh memberi dampak yang luar biasa untuk diriku pribadi. Menyaksikan mereka - Para relawan, yang dengan senang hati datang jauh-jauh dari negaranya, dengan biaya sendiri (dan bahkan mengorbankan masa liburan panjang natal dan tahun baru), untuk membantu masyarakat Aceh, membuat aku merasa malu terhadap diri sendiri, yang kurang mempunyai rasa kepedulian dengan bangsa sendiri. Belum lagi, melihat masyarakat Aceh, terutama anak-anak, yang tegar menjalani hidup setelah dirundung bencana bertubi-tubi, membuat aku harus berkaca dengan diri sendiri. Terus terang, dari mereka semua aku mendapat sangat banyak pelajaran tentang hidup. Sementara selama ini, banyak hal-hal "penting gak penting" yang selalu aku keluhkan. Macetnya jakarta yang bikin aku ngerasa jadi tua di jalan....Susahnya bikin badanku jadi semok (sexy dan montok??), Berkali-kali gagal ngedapetin Mr. Right (and Mr Happy ??? :p ), Kurang ini...kurang itu...Pokoknya...ada aja hal yang terasa kurang.

Perjalanan ke Aceh, kurasakan lebih sebagai sebuah perjalanan spiritual, dan ini mungkin menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Telah banyak negara aku kunjungi, dengan fasilitas yang cukup mewah pula, dengan membawa suatu "predikat" tertentu. Perjalanan-perjalanan itu memang ngebantuku untuk lebih menghargai negri sendiri. Tapi ajaibnya, perjalanan ke Aceh, di negriku sendiri, dengan menjadi relawan, tanpa membawa embel-embel "predikat" apapun, malah berhasil ngebantu aku untuk lebih menghargai hidup dan kehidupan.

Above all that....Being volunteer has brought me to encounter myself into a new path of life. I should apply the term of volunteerism into every single thing in life. Menjadi relawan adalah merelakan diri secara SUKACITA untuk berbuat sesuatu, lebih dari sekedar berbicara. Menjadi relawan adalah “merelakan” diri secara SUKACITA untuk berbuat yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Dan menjadi relawan adalah "menggali" segala rasa SUKACITA yang terpendam dalam diri sendiri.
- Des 06-

MY 1st "REAL" PUBLICATION : Ludovic Hubler - Keliling Dunia Bermodal Jempol


MY 1st "REAL" PUBLICATION :
Ludovic Hubler - Keliling Dunia bermodal Jempol

“Semakin banyak bertemu orang, semakin aku belajar banyak hal, dan juga tentang diri sendiri” (Ludovic Hubler)

Bermimpi keliling dunia? Kenapa nggak????
Asalkan ada kemauan....siapapun dapat mewujudkan impian berkeliling dunia, walau tanpa uang sepeserpun untuk biaya transportasi!!

Baca cerita lengkap tentang Ludovic Hubler, The Globe Trekker, di tulisanku ,
LUDOVIC HUBLER : BERMODAL JEMPOL KELILING DUNIA, di majalah INTISARI edisi Desember 2006. Atau silahkan klik disini.


Sinopsis: Ludovic Hubler, pria prancis berusia 29 tahun telah membuktikan bahwa ia bisa berkeliling dunia dengan cara HITCHHIKING, tanpa keluar uang sepeserpun untuk biaya transportasi. Bermodal acungan jempol (bukan modal dengkul seperti ulah para bonek yang sering bikin puyeng Pak Menpora), ia berhasil menyambangi hampir separuh permukaan bumi, termasuk Indonesia. Melakukan perjalanan keliling dunia dgn hittcchiking adalah sekolah kehidupan terbaik baginya untuk belajar Kesabaran, Kegigihan, Diplomasi, Negosiasi, dan Kerendahan hati.
*Ludovic Hubler (www.ludovichubler.com)adalah salah satu orang yang punya pengaruh besar dalam menginspirasiku utk mewujudkan "mimpi-mimpi" . Dan tulisan pertamaku yang dipublikasikan ....adalah salah satu impianku yang akhirnya bisa terwujud!

Belajar Kehidupan dari INFOTAINMENT : Sebuah Refleksi


BELAJAR KEHIDUPAN DARI INFOTAINMENT:
SEBUAH REFLEKSI

Life is not a restaurant but a buffet, stand up and help yourself (Dominique Glocheux – sastrawan Prancis)

Hampir tiga tahun aku menjalani profesi sebagai wartawan, yang memang sejak dulu selalu menjadi cita-citaku. Namun, menjadi wartawan infotainment adalah tugas yang aku rasa paling berat. Atas nama uang (yang waktu itu sangat kuperlukan untuk biaya kuliah ), setahun lalu aku bersedia bergabung di sebuah stasiun TV dan bersedia ditempatkan di bagian infotainment – hal yang sangat asing bagiku saat itu .

Ternyata, menjadi seorang wartawan infotainment tak semudah yang aku kira . Bukan saja tugas-tugasnya yang memang berat (seperti mengejar-ngejar artis, sampai nongkrongin rumahnya semalam suntuk), namun lebih dari itu, sebagai wartawan infotainment aku seringkali harus menghadapi pandangan sebelah mata dari berbagai penjuru.

Aku sendiri sering mengalami bagaimana dianggap sekedar ‘pemburu gosip’, tak hanya oleh sebagian narasumber (yang seringkali namanya malah makin ngetop karena diberitakan infotainment), masyarakat, teman-teman, hingga rekan seprofesi wartawan (yang bukan wartawan infotainment). Walaupun infotainment sudah diakui keberadaannya oleh PWI, nyatanya aku seringkali dihadapkan kenyataan tak dianggap sebagai seorang "Jurnalis". Seolah-olah wartawan infotaiment adalah warga kelas ke sekian dalam profesi jurnalistik. Belum lagi aku juga harus siap untuk tebel muka saat berada di ruang kuliahku, dimana dosen dan teman-teman sekelas seakan 'meremehkan' pekerjaanku. Sangat menyesakkan dada bila sudah berusaha sekuat tenaga untuk berkarya, tapi selalu mendapat respon negatif dari orang lain. Terus terang, keadaan seperti ini sempat membuatku nyaris patah arang.

Yang membuatku tetap ‘berjuang’ adalah dukungan dari keluarga serta kepercayaan yang diberikan oleh Produserku (she really is a great leader!). Dari bosku tersebut, aku belajar untuk fokus dan konsisten terhadap suatu pilihan hidup, tanpa perlu memusingkan penilaian orang lain. Perlahan, aku mulai terbiasa dengan ‘status’ku, dan berusaha untuk ber 'damai'. Damai dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarku. Bahkan saat terjun di infotainment, aku malah merasa mendapat banyak "ilmu", baik dari seluk beluk berita yang aku tangani, ataupun dari sesama rekan wartawan infotainment (yang banyak dari mereka ternyata adalah orang-orang hebat, baik dari segi kecerdasan intelektual ataupun kecerdasan spiritual). Namun untuk meminimalisir imej ‘tukang gosip’, aku berusaha menghindari ngegosipin sesama rekan kerja, baik di kantor ataupun di lapangan. Lagipula diluar itu, jadi wartawan infotainment pun banyak enaknya. Nonton konser dan pertunjukan gratis, diundang launching film/ album/ buku terbaru, datang ke acara-acara bergengsi, sampai diajak jalan-jalan oleh si artis, siapa sih yang nolak??Hehehe

Saat ini, aku tak tak lagi bertugas di infotainment dan kuliahku pun sudah selesai (Thanx buat infotainment yang sudah "membayarkan" uang kuliahku). Namun dari pengalaman menjadi wartawan infotainment, aku belajar untuk membuka mata - hati dan fikiranku dengan seluas-luasnya. Aku telah memilih jalan hidupku sebagai seorang wartawan dengan kesadaran penuh. Ketika ditempatkan di infotainment itulah aku merasa di uji kesungguhan, komitmen, serta kecintaanku terhadap profesi yang aku pilih .

Satu tahun di infotainment bagaikan "sekolah kehidupan" yang menjadi titik balik bagiku dalam memandang hidup yang tak hanya dari satu sisi, dan mudah-mudahan dapat menjadi pendewasaan diri. Secara mental dan spiritual, aku merasa lebih berkembang dibanding satu tahun ke belakang. Aku pun kini berusaha untuk menilai orang lain secara lebih manusiawi, tak peduli apakah jenis pekerjaan, pendidikan, jabatan, atau berbagai status yang menjadi embel-embelnya. Setidaknya kini aku memahami makna kata-kata seorang bijak: Bahkan dalam situasi terburuk seperti apapun, kita harus selalu berpikir positif untuk mencari sisi baiknya.

Sept 06

INFOTAINMENT : (Tak) Melulu berisi gosip??




INFOTAINMENT : (Tak) melulu berisi gosip? *

Infotainment disuka banyak orang, walau sering pula dihujat. Apakah selama masyarakat masih senang bergosip, infotainment akan tetap bertahan di televisi kita?

Imej acara gosip memang terlanjur melekat pada tayangan Infotainment. NU sampai perlu mengeluarkan fatwa haram terhadap isi/ content (bukan product secara keseluruhan) infotainment yang bersifat ghibah dan membuka aib orang. Walaupun fatwa akhirnya juga ditujukan kepada seluruh media, namun infotainment ternyata lebih banyak disorot para kritisi.

Sampai saat ini, kritik tajam masih terus dilontarkan terhadap infotainment yang sering dinilai sebagai tayangan murahan dan tak berguna. Ariel Heryanto di harian KOMPAS pada kolom Asal Usul (20/9/06), bahkan menganggap para penggemar infotainment tidak tertarik pada acara yang lebih “cerdas” atau “berbudaya”. Ia “mensejajarkan” para penggemar tayangan ini dengan penabur ranjau paku di jalan-jalan umum di ibu kota.

Saya pun sempat memandang infotainment dengan sebelah mata, hingga akhirnya harus terjun langsung sebagai wartawan infotainment. Setidaknya pengalaman satu tahun berjibaku dengan dunia infotainment, cukup untuk ’membukakan’ sebelah mata saya akan jenis tayangan yang namanya secara terminologi masih diperdebatkan ini.

Infotainment : (Tak) Melulu gosip?
Isu selingkuh, kawin cerai, hingga perseteruan hubungan keluarga memang kerap menghiasi layar infotainment. Persoalan yang dianggap aib keluarga ini, memang acap kali diobok-obok sedemikian rupa hingga menjadi heboh. Di satu sisi, berita selingkuh, cerai, dan hal-hal bombastis lain yang menghiasi infotainment memang dapat menghasilkan rating tinggi. Namun di sisi lain, berita-berita itu ’menguntungkan’ selebritas yang menjadi obyek. Sangat banyak selebritas yang namanya belum terlalu tenar, ataupun yang popularitasnya menurun, mengalami kenaikan pamor karena menjadi bulan-bulanan infotainment. Setelah kasus reda, mereka semakin laku di berbagai acara di televisi, bahkan menjadi bintang iklan. Apabila tidak hati-hati, paradoks Bad News is a Good News seperti ini bisa menjadikan infotainment sebagai ”alat” oleh siapapun.

Di luar hal itu, Infotainment ternyata tak melulu berisikan berita negatif. Berbagai kiprah para public figure di jagad hiburan ( album/ film/sinetron baru, gelar konser/berbagai prestasi dan penghargaan), luar jagad hiburan (aktivitas sosial, aktivitas rohani), hingga hal-hal yang terlihat remeh temeh (ulang tahun, pacaran, menikah,dan sebagainya) sering wara wiri disana. Infotainment bahkan bisa mengangkat berbagai kalangan seperti olahragawan, akademisi, politisi, ustadz, penulis, pengacara, hingga paranormal menjadi seleb. Jenis tayangan yang isinya amat sangat campur aduk seperti ini belum ada pada televisi di negara-negara Asia, bahkan pada saluran E-Channel.

Apabila diamati secara proposional, tanpa embel embel preseden buruk, infotainment memiliki banyak sisi positif yang bermanfaat bagi publik, terutama untuk menyampaikan informasi bersifat updating. Infotainment cukup tanggap dalam merespon peristiwa yang menjadi isu nasional seperti wabah flu burung, kenaikan BBM, pro kontra hasil Ujian Nasional, bencana gempa, dan sebagainya. Untuk itu, layar infotainment menghadirkan wawancara selebritas yang terkait langsung dengan peristiwa tersebut dengan dilengkapi pendapat para ahli dan pakar yang berkompeten.

Bahkan kemunculan selebritas yang terkait kasus kriminal (baik sebagai pelaku ataupun korban) di infotainment, dapat memperingatkan masyarakat untuk waspada. Artis Ulfa Dwiyanti yang jadi korban penipuan undian yang dilakukan seorang oknum pegawai hypermarket ternama, adalah salah satu contoh. Kalau diperhatikan tayangan khusus berita kriminal pun saat ini mengalami kecenderungan untuk mengekor infotainment, dengan mengangkat kisah-kisah para artis yang pernah terlibat kasus kriminal.
Disadari atau tidak, Infotainment dapat dijadikan sarana sosialisasi dan edukasi. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan kalangan pelajar/ mahasiswa, karyawan, ibu-ibu rumah tangga, pekerja rumah tangga, bahkan para pedagang di pasar, saya mendapat informasi bahwa mereka mengaku infotainment membuat mereka ngeh dengan keberadaan UU Anti KDRT, RUU Anti Pornografi & Pornoaksi yang kontroversial, atau UU Kewarganegaraan yang baru direvisi. Padahal kita tahu, di Indonesia ini UU/ RUU dalam apapun bentuknya kurang tersosialisasi dengan baik di berbagai lapisan masyarakat .

Para selebritas lokal yang menjadi duta-duta juga cuma bisa didapati di layar infotainment. Kegiatan seorang artis ABG seperti Marshanda sebagai duta lingkungan hidup, atau Ferry Salim sebagai duta UNICEF di Indonesia mungkin tak memiliki news value di program berita sekelas Liputan 6 atau Seputar Indonesia. Berbagai kampanye yang dilakukan celebrity seperti Gerakan anti narkoba dan HIV AIDS rasanya pun cuma bisa dilihat di infotainment. Apa yang dilakukan para selebritas tersebut, mungkin tak akan membuat suatu perubahan, namun melalui paparan infotainment, setidaknya dapat meningkatkan kesadaran para pemirsa akan berbagai wacana. Organisasi sebesar PBB saja mengangkat Artis Hollywood Angellina Jollie sebagai duta UNHCR. Dalam proses komunikasi, Celebrity Endorsement seperti ini dapat ’membumikan’ pesan yang ingin disampaikan.

Sudah umum diketahui, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, karenanya televisi lebih diandalkan sebagai media pemberi informasi. Effendi Gazali di harian KOMPAS (12/08/06), mengatakan untuk mendapatkan informasi bersifat updating di televisi, tidak semua orang menyukai acara parodi politik. Namun, perlu dicatat pula, dalam kondisi masyarakat indonesia yang sangat majemuk dan tingkat media literacy yang dinilai rendah, tidak semua orang menyukai berita formal, dialog ataupun talkshow untuk mendapatkan informasi yang updating. Saat ini, infotainment yang memiliki. kekuatan pada audio visual bisa dijadikan pilihan. Setidaknya sebagai salah satu strategi marketing, packaging infotainment yang dihiasi wajah-wajah ”bening” para selebritas/ presenter yang eye catchy serta iringan ilustrasi musik yang ear catchy, membuat perhatian pemirsa lebih nyantol.

Infotainment: Sampai kapan terus bertahan?
Walau banyak berisi hal positif, infotainment memang lebih dikenal dengan isi yang berbau negatif seperti cerai, selingkuh, serta pengungkapan aib. Hal ini seakan-akan menjadi akar kejahatan (root of evil) yang selalu ditimpakan kepada infotainment.

Hal ini bagai nila setitik yang merusak susu sebelanga. Bahkan, ekses negatif ini juga menimpa para pengelola dan pencari berita infotainment. PWI memang sudah mengakui keabsahan para wartawan infotainment, namun kenyataanya berbagai media masih menyebut mereka sebagai pekerja (=bukan wartawan).

Perlu dicatat bahwa saat ini infotainment sudah banyak diproduksi langsung oleh News Departement di Stasiun-stasiun Televisi. Dengan begitu keabsahan ‘status’ wartawan bagi para pencari beritanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun sekalipun infotainment diproduksi oleh Production House, banyak pencari berita yang bekerja sesuai kode etik jurnalistik. Terlalu naif rasanya bila menilai status kewartawanan hanya dari institusi yang menaunginya. Toh saat ini di berbagai belahan dunia, keberadaan Citizen Reporter dan Jurnalisme orang biasa semakin diakui. Apabila yang dipermasalahkan adalah cara kerja pencari berita infotainment yang dinilai tak sesuai koridor jurnalistik (seperti memaksa narasumber untuk berbicara), semestinya penilaian tersebut tidak disamaratakan kepada yang lainnya. Wartawan politik, wartawan kriminal, dan lainnya pun mungkin pernah berbuat kesalahan seperti itu. Di luar semua itu, hendaknya jangan dilupakan bahwa banyak orang-orang yang bekerja berdasarkan koridor jurnalistik yang benar dalam menghasilkan sebuah infotainment.

Lalu, apakah koridor dan kode etik jurnalistik saja sudah cukup? Satu hal yang harus selalu diingat adalah tanggung jawab moral terhadap publik. Seandainya harus memberitakan berita perceraian pun, tak perlu diobok-obok dengan membeberkan kelainan seksual, pelet ”celana dalam”, atau aib seputar tempat tidur. Wartawan dan pengelola infotainment dapat saja berdalih hal-hal tersebut adalah fakta, namun hal-hal ini tak layak untuk diungkap kepada publik.

Sebagai tayangan informatif yang ’menguntungkan’ (biaya produksi relatif rendah, rating tinggi, pemasukan iklan banyak), infotainment yang merupakan perpaduan karya jurnalistik dan artistik, idealnya juga bisa menjadi tontonan yang ”berkelas” . Jangan sampai infotainment terus dinilai sekadar ”tempat” untuk bercerai seperti selorohan .......Bersatu kita teguh, Bercerai kita di Infotainment!

24 Agustus 06
* Sekadar Catatan kecil dari seorang yang pernah jadi wartawan infotainment.



PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

Ini adalah sebuah video pendek buatanku (durasi: 5 menit). Untuk menyaksikan, klik disini
atau disini

Ide Cerita/ Juru Kamera : IRA LATHIEF
Editor / Narator : Giovanni Rainanto

Sinopsis: Setiap orang punya pahlawan versi masing-masing. Bagiku, sosok Jasiun, seorang tukang sampah yang bekerja ganda sebagai satpam di lingkungan rumahku adalah pahlawan sejati. Ia bekerja mati-matian siang malam, dengan upah sangat minim, tanpa banyak mengeluh. Padahal jasanya sangat diperlukan orang banyak. Sayangnya, orang-orang seperti Jasiun seringkali terlupakan. Sosok Jasiun bagaikan sang Surya ; Bekerja tanpa bersuara, tapi dapat berbuat banyak bagi sesama....

-16 Agt 06-

Baca Juga Yang Satu Ini

Pesta Mandi Bedak , Puncak Perayaan Tahun Baruan Kampung Tugu Yang Tak Kalah Seru Dengan Festival Songkran di Thailand

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...