Berwisata ke Karet Bivak, Pusara Para Pesohor Negri ini




Berwisata ke Kuburan atau Taman Pemakaman ? Kenapa Nggak?  

Banyak TPU (Taman Pemakaman Umum) di Jakarta sudah tidak seperti dahulu lagi yang lekat dengan kesan seram dan spooky. Kini banyak TPU menarik untuk dikunjungi, ditambah juga suasananya yang tambah asri, bersih,  dan nyaman untuk disambangi, layaknya seperti berjalan jalan di Taman. 




Belum lama saya berkunjung ke TPU Karet Bivak, niat awalnya mau mencari pusara Chairil Anwar sang pujangga yang terkenal dengan puisi puisinya yang tak lekang oleh waktu.  Setelah sampai ke tempat ini, ternyata ada banyak hal menarik saya temukan disini. Taman Pemakaman Karet Bivak ini cukup spesial, selain letaknya di pusat Jakarta dan dikelilingi oleh gedung gedung pencakar langit, disini tenyata byk dimakamkan para Pahlawan Nasional dan nama nama pesohor berbaur dengan makam rakyat biasa.



Ada satu pemandangan menarik begitu memasuki kawasan Pemakaman. Dari mulai gerbang masuk, hingga di bagian dalam, banyak terpasang  spanduk resmi pengelola TPU tentang himbauan kepada masyarakat untuk menghindari bayar pungli saat pengurusan makam. Upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memberantas pungli yang dilakukan oleh para "preman"   di berbagai komplek pemakaman di Jakarta memang patut diacungi jempol. 

Makam para Pahlawan Nasional ditandai dengan bendera merah putih di tiap makam. Nama nama besar yang dimakamkan disini antara lain Ibu Fatmawati, Ismail Marzuki, M.Husni Thamrin, Benyamin S, dan Chairil Anwar dll.  Saya "menjelajah" komplek pemakaman ini dengan diantar oleh Pak Ahmad, salah satu penjaga makam yang sudah dua generasi bekerja disana.





Menurut Pak Ahmad, di TPU ini makam Bu Fat dan Chairil Anwar yg paling sering dikunjungi orang dan peziarah. Menurut salah satu penjanga makam, Makam Bu Fat sering dikunjungi dari peziarah dari berbagai daerah, termasuk para simpatisan Partai PDI-P yang sering berkunjung secara rombongan. Sedangkan makam Chairil Anwar, kerap dikunjungi para mahasiswa saat Peringatan Hari Sastra di Bulan April, yang memang diperingati sesuai hari kematian Chairil Anwar, yaitu 28 April.

Makam Chairil Anwar bentuk makamnya sangat unik. Nisan di pusara sang Penyair berbentuk seperti tugu mini yg katanya dibuat untuk menyerupai pena. Tertulis di sisi pusara, Makam tersebut diresmikan pemugarannya kembali oleh Gubernur Jakarta Wiyogo Atmodarminta. Di badan tugu maka, terukir sepenggal bait sajak : "Aku ini binatang jalang. Dari kumpulan yang terbuang."

Dari banyaknya makam para pesohor disini,  sebenarnya Pemprov DKI bisa mengangkat TPU Karet Bivak ini sebagai potensi wisata Jakarta dan mempromosikannya sebagai salah satu destinasi wisata alternatif yang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya Taman Pemakaman Pere Lachaise di Paris, yang dikenal sebagai taman pemakaman banyak para pesohor Prancis dan dunia, termasuk Jim Morrison dari The Doors, dan begitu banyak dikunjungi wisatawan. 
Dari jalan jalan di TPU Karet Bivak ini, saya pun dapat inspirasi untuk menulis satu puisi yang saya dedikasikan untuk Chairil Anwar , sebagai berikut 
-Aku Ingin Mengenangmu Seribu Tahun Lagi-

Kepada Engkau yang melampaui waktu.
Kusampaikan rasa rinduku yang menggebu.
Rasa rindu yg kerap menjadi pilu dalam kalbu.


"Tak perlu sedu sedan seperti itu.
Aku hanya binatang jalang, hidupku sekali berarti sudah itu mati", begitu dahulu ujarmu selalu.

Tapi sungguh, aku akan lebih tak perduli
Karena aku ingin mengenangmu untuk seribu tahun lagi






Berkunjung ke Rumah Ahmad Subardjo, Menlu RI Pertama


                         *Cikal Bakal Diplomasi Luar Negri Indonesia berawal dari rumah ini*

Jadi ceritanya waktu lagi memandu Walking Tour Jakarta Good Guide di Cikini, melintas di rumah Ahmad Subarjo (Menteri Luar Negri RI pertama) dan menjelaskan tentang rumah itu ke peserta tur, eh kebetulan si pemilik rumah lagi beberes di halamannya..pas ngeliat kita, eh kita semua malah disuruh masuk...diajak keliling rumah yang jadi cikal bakal Kementrian Luar Negri RI, dan dapat cerita byk langsung dari pak Rohadi Subarjo (anak Ahmad Subarjo).. kebetulan dan keberuntungan yang manis banget....

                                                    Ahmad Subarjo, Menlu Pertama RI

   
Bersama Pak Rohadi Subarjo, anak Ahmad Subarjo


Ceritanya beberapa hari setelah merdeka, Soekarno mengangkat Ahmad Subarjo sebagai Menteri Luar Negri. Saat baru diangkat jadi Menlu, Ahmad Subarjo sadar bahwa akan dihadapi dengan berbagai keterbatasan...kantor aja ga ada, apalagi fasilitas pendukung lainnya....

                   *Di ruang kerja Ahmad Subarjo inilah, diplomasi luar negri RI bermula*


Jadi Ahmad Subarjo memakai ruangan di rumahnya sendiri untuk dijadikan kantor Menlu.. Untuk mencari staf yang membantu, Ahmad Subarjo sampe pasang iklan di koran Asia Raya ..selama berhari hari ditunggu cuma 10 orang yg melamar...hihihi...tapi saat itu Pak Menlu bercita cita, suatu saat nanti institusi yang dipimpinnya bisa solid dalam melakukan Diplomasi Indonesia ke dunia internasional dan akan banyak anak muda Indonesia yg mau bekerja di kantor Deplu. ..wah sepertinya cita cita Pak Ahmad Subarjo sudah tercapai ya, sekarang ini kan sepertinya banyak banget orang pingin bisa bekerja di Deplu.



Menurut Pak Rohadi Subardjo juga, belum lama Kemenlu mengadakan Peringatan Hari Kemerdekaan di rumah itu, menurutnya ini untuk pertamakalinya Kemenlu mengadakan acara resmi disana. Dan keluarga besar mereka sangat apresiasi karena pihak Kemenlu tidak melupakan cikal bakal lokasi bermulanya Diplomasi Indonesia.


Lalu sayup sayup terdengar suara Bung Karno di telingaku: Jasmerah! Jassmerah*


#CeritaTourGuide
*Jassmerah = Jangan sekali sekali melupakan sejarah

Berkunjung ke Sel Soekarno di Penjara Banceuy, Tempat Lahirnya Pledoi Indonesia Menggugat


Saat ikutan special trip Jakarta Food Adventure di Bandung, sang host Idfi Pancani sempat mengajak ke suatu tempat bersejarah yg sangat menarik, yaitu Sel Soekarno di (Ex) Penjara Banceuy Jl. Banceuy.

Di penjara Banceuy, Soekarno muda pernah ditahan penjajah Belanda karena keterlibatannya di Politik untuk menentang penjajahan (imperialisme). Selama satu tahun ditahan di Penjara Banceuy, Soekarno menuliskan Pledoi (Pidato Gugatan) berjudul ”Indonesia Menggugat ”yang dibacakan secara dramatik di sidang pengadilan Laandrad - Bandung dan kemudian menghebohkan hingga ke negeri Belanda. Dari balik jeruji berukuran 2x1 cm di Penjara Banceuy, Soekarno menuliskan sendiri pidato pembelaannya sebanyak ratusan lembar. 







Di tahun 80an, Penjara Banceuy sudah dirobohkan digantikan oleh komplek perniagaan. Untungnya, di tengah kepungan ruko ruko ,sel Soekarno masih dipertahankan hingga sekarang. Di tempat ini, Pengunjung bisa melihat seperti apa sel tempat Soekarno ditahan,juga bisa mempelajari sejarah hidup Soekarno. Sayangnya, menurut penjaga disana,Sel Soekarno di Banceuy ini jarang sekali dikunjungi orang,dalam satu hari hanya segelintir saja pengunjung. Padahal tempat ini sangat perlu untuk dikunjungi pelajar/mahasiswa bahkan masyarakat umum utk mempelajari sejarah awal kemerdekaan Indonesia.




Menariknya, di salah satu dinding tempat ini dikutip bagian salah satu Pidato Soekarno di tahun 1929,yang seperti Ramalan yang menjadi kenyataan, bunyinya sbb :

"Imperialis, perhatikanlah!
Dalam waktu yang tidak lama lagi, perang pasifik akan memenggeledek dan menyambar di angkasa. Apabila samudra Pasifik merah oleh darah dan bumi menggegar oleh ledakan bom dan dinamit.
Disitulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka!"
  (Pidato Soekarno,Solo, 1929)


                                                    *Ramalan Soekarno yang menjadi nyata*

#CeritaTourGuide #BandungAwesomeCity

Mengenal KARTONO Sang Jenius, Sosok Inspirasi Bagi Kartini




     *KARTONO, sosok terlupakan yang menjadi inspirasi besar bagi Kartini*


Setiap kali peringatan Hari Kartini, seringkali ada lelucon yang bilang...andai saja ada peringatan hari yang sama untuk kaum pria, pasti namanya Hari Kartono.... Ternyata sosok Kartono itu benar adanya, dan ialah sosok yang menginspirasi seorang Kartini hingga dikenal hingga saat ini. Namun berbeda nasib dengan adiknya yang dijadikan Pahlawan Nasional、 nama Kartono seringkali terlupakan.                                                                                            Padahal Kartono adalah sosok luar biasa yang dikenal luas kiprahnya di dunia barat、jauh sebelum Indonesia merdeka. Kartono adalah Sarjana Pribumi pertama 、  juga seorang Poliglot yang menguasai 24 bahasa. Saya selalu kagum dengan seseorang yang memiliki kemampuan berbicara dalam banyak bahasa (Poliglot)apalagi ini sampai puluhan bahasa、sungguh kemampuan luar biasa bahkan untuk ukuran saat ini. Kartono juga Pribumi pertama yang berkiprah sebagai wartawan internasional、 dan orang pribumi pertama yang bisa memotret gunung secara sempurna dari udara、tanpa menggunakan pesawat/helikopter. Loh bagaimana Kartono bisa melakukan itu?

Siapakah sosok Kartono ini sebenarnya?  RM Pandji Sosrokartono, adalah sarjana pertama orang pribumi yang (sayangnya) sosoknya sering terlupakan dalam bidang pendidikan. Kartono adalah kakak kandung Kartini yang hanya berbeda dua tahun dan sama sama dilahirkan di bulan April. Berbeda dengan Kartini yang harus dipingit saat memasuki usia remaja、Kartono yang memang berasal dari keluarga ningrat mempunyai kesempatan belajar ke negri Belanda hingga mendapatkan gelar sarjana.                                                                                                                                            Saat di negri Belanda inilah、 Kartono rutin mengirimkan surat surat kepada Kartini dan bercerita banyak hal kepada sang adik.  Surat dan buku buku yang dikirimkan Kartono inilah yang lalu mempengaruhi pemikiran pemikiran Kartini.

Di dunia barat、Kartono dijuluki "Si Jenius dari Timur" karena kecerdasannya yang mengagumkan. Setelah menamatkan pendidikannya、Kartono bekerja sebagai Wartawan di sebuah surat kabar internasional berpengaruh、New York Herald. Saat Perang Dunia 1 pecah、Kartono ditugaskan untuk meliput ke berbagai negara. Hal ini  menjadikan Kartono sebagai orang Indonesia pertama yang pernah menjadi fotografer dan wartawan perang dunia.

  *Kartono Muda (sumber Museum RA Kartini, Jepara)*

Kartono juga dikenal sebagai fotografer pertama yang bisa memotret gunung Kelud dari atas udara, tanpa menggunakan pesawat/helikopter. Ingat、saat itu belum ada pesawat komersil、hingga kemampuan Kartono ini  sungguh mengherankan bagi banyak orang. Bahkan di kalangan fotografer masa kini、kemampuan Kartono ini masih menjadi misteri. Banyak kalangan berpendapat, Kartono bisa melakukan hal tersebut karena ia punya kemampuan "terbang" , suatu kemampuan yang dipercaya hanya dimiliki oleh orang orang yang memiliki tingkat spritual tinggi. 

   *Foto Gunung Kelud yang diambil oleh Kartono (sumber Museum RA Kartini, Jepara)*

Karena itu, selain kiprahnya sebagai Wartawan/ Fotografer, Kartono juga dikenal sebagai Spiritualis dan Penyembuh, karena ia
mampu menyembuhkan beberapa penyakit.  Di masa tuanya、Kartono tinggal di Bandung dan mengabdikan diri sebagai penyembuh 、dan sering disebut juga sebagai Paranormal. Saking banyaknya orang antri untuk diobati、Kartobo hanya menyorotkan lampu senter ke air putih yg mereka bawa. Banyak cerita mistis seputar kemampuan spiritual Kartono ini. Kartono hingga akhir hidupnya tidak pernah menikah dan setelah wafat  dimakamkan di Kudus. Banyak nasihat baik dari Eyang Kartono dikutip masyarakat di Jawa salah satunya yang paling terkenal adalah tentang ajaran menjadi pemimpin sejati yaitu: 
”Sugih tanpa Banda (Kaya tanpa Benda), Digdaya tanpa Aji (Sakti tanpa aji)、 Menang tanpa Ngasorake (Menang tanpa menghinakan)

Kartono adalah sosok pria yang sangat dikagumi Kartini. Dalam film Kartini yang dibintangi Dian Sasrowardoyo juga tergambarkan kedekatan Kartini dengan sang kakak yang diperankan oleh Reza Rahadian. Saat Kartini dipingit、s
urat dan buku buku yang dikirimkan Kartono saat berada di luar negeri selalu menjadi hal yang ditunggu tunggu Kartini. Dari surat dan buku buku inilah 、maka Kartini  bisa memperluas wawasannya dan berimajinasi tanpa batas、walaupun raganya terkurung.  Kartini senang sekali mendengarkan cerita cerita dari surat surat yang dikirimkan sang Kakak tercinta yang telah berkelana ke banyak tempat. Dari cerita cerita Kartono, imajinasi dan wawasan Kartini pun mengembara ke banyak tempat. Buku buku kiriman Kartono ini lah yang kelak menjadi pencerahan bagi Kartini untuk mendobrak tradisi dan melahirkan emansipasi wanita di Nusantara.  Kartono lah yang terus mendorong Kartini untuk melakukan perubahan. Tanpa peran besar Kartono、mungkin kita tak akan pernah mendengar nama dan kiprah Kartini hingga saat ini. Ada wejangan Kartono yang sangat menginspirasi Kartini dalam melakukan perubahan terhadap hidupnya dan banyak orang 、yaitu :
”Apa yang kamu rasakan saat ini tak ada artinya. Kamu harus berbagi. Perubahan tidak bisa dilakukan sendirian” 
sosok Kartono diperankan oleh Reza Rahadian di film Kartini (2017)
 
#SosokYangTerlupakan #repostStatusLama

Film Tiga Dara Penanda Zaman, AADC dan Keindahan Pantai Cilincing





Tidak banyak film indonesia yg bs menjadi 'Penanda Zaman', dimana kemunculannya begitu menggemparkan, menimbulkan banyak dampak tmsk mempengaruhi karya karya film sesudahnya. Tiga Dara adalah film 'penanda zaman' di th 50an.

Tiga Dara adalah film komedi musikal karya Usmar Ismail yg dibintangi Mieke Wijaya, Citra Dewi, dan Indriati Iskak. Film ini muncul di tahun 1956 saat industri film indonesia saat itu sedang lesu. Namun secara mengejutkan, film Tiga Dara bisa menjadi Box Office hanya dalam beberapa hari tayang di bioskop dan bertahan hingga bermingu minggu lamanya.

Film ini juga mendulang sukses saat diputar di Malaysia dan Singapura. Tidak itu saja, film ini juga diputar di ajang film bergengsi dunia, Venice Film Festival. Film ini tentu juga meroketkan nama ketiga bintangnya, yang dalam waktu singkat menjadi idola muda mudi. Dan tentu saja kemunculan Tiga Dara berdampak besar dalam mengembalikan kembali kegairahan produksi film indonesia saat itu. 


Fenomena Tiga Dara di th 50an ini persis spt yg terjadi di awal th 2000an saat film AADC muncul dimana industri film indonesia sedang sekarat. Beruntunglah berkat booming film AADC 1, industri film indonesia kembali bangkit. Berkat film AADC pula sampe skr begitu byk pria menggilai Dian Sastro, dan wanita wanita di Indonesia, Malaysia hingga negara Brunai sering bermimpi dan berimajinasi siang malam tentang sosok Rangga yang too good too be true itu...hehehe.....

Kembali ke film Tiga Dara, beruntung sekali berkat teknologi canggih, film ini bisa direstorasi (yang kabarnya menelan biaya smp 3M..ember!) dan bisa kita nikmati kembali di bioskop saat ini.. Setelah menonton film ini, saya sepakat bilang kalau film ini memang layak dipuji, ya ceritanya, ya lagu lagunya, juga gaya busana 'stylish' yang dipakai para pemain wanitanya dan memanjakan mata (yang sayangnya gak diimbangi dengan gaya busana para pemain prianya yg terkesan 'KUNO').

Lalu apa hubungannya film Tiga Dara dengan Cilincing? Ada satu bagian yg paling menarik untuk saya, yaitu saat Neni mengajak pria yg ditaksirnya utk jalan jalan ke Pantai Cilincing (yang lokasinya tidak jauh
dari rumah saya di Tanjung Priok). Tampak dalam film, Pantai Cilincing begitu indah dengan banyak pohon pohon kelapa di sepanjang pantai. Dahulu kala, kawasan Cilincing memang terkenal krn keindahan pantainya dan menjadi tujuan wisata pengunjung yang datang dari berbagai penjuru. Namun sayangnya sekarang Cilincing lebih dikenal sebagai kawasan nelayan yang kumuh. Bisa dibilang saat ini di kota Jakarta tidak ada lg pantai indah yang bisa dinikmati warganya secara gratis. Di film ini, digambarkan betapa gampilnya pada jaman itu di masa jalanan Jakarta masih lengang, ngajak kecengan JJS bolak balik kawasan jakarta selatan ke Clincing yang ada di ujung Utara. Kalau sekarang sih, bisa bisa baliknya besok paginya, apalagi sepanjang jalan kawasan Cilincing udah disesaki truk gandeng dan kontener,  yang keluar dari kemacetannya aja butuh kesabaran tingkat dewa.

Lewat Film Tiga Dara, saya jadi bisa tahu seperti apa keindahan Pantai Cilincing, yang selama ini cuma saya dengar ceritanya dari nenek saya. Satu satunya kekurangan dari film Tiga Dara ini menurut saya adalah, kalo wajah wajah para pemain wanita nya begitu beragam (ada yg ayu ala putri solo, ada yg sensual, dan ada yg berwajah indo...yah mirip dengan film indonesia skr ini) tapi pemain prianya kok tampangnya tipe mas mas dan abang abang semua gitu...ga ada yg seganteng dan semenawan Reza Rahardian atau Nicholas Saputra.. hahaha..coba deh kamu nonton film ini, mungkin kamu sepakat dg pendapat ngasal saya ini...

"Pantja Sila Cita Cita & Realita : Film Dokumenter yang sungguh perlu untuk ditonton






Pernahkah kamu melihat Soekarno berpidato selama satu jam ??

Belum lama ini saya menonton film Pantja Sila Cita Cita & Realita, film semi dokumenter yang menampilkan adegan monolog Soekarno saat berpidato (tanpa teks) selama sekitar 1 jam di depan sidang BPUPKI menyampaikan pemikirannya tentang Pancasila. Film ini diperankan oleh Tio Pakusadewo sbg Soekarno dan disutradarai oleh Tino Saroengallo

Terus terang, butuh stamina khusus untuk nonton film "Pantja Sila Cita Cita dan Realita ". Stamina khusus untuk bisa terus melek dan menyimak film ini hingga akhir. Waktu saya nonton film ini, hanya sepuluh menit begitu film diputar, orang di kanan kiri saya udh jatuh terlelap.

Dengan durasi 1 jam yang hanya menampilkan adegan monolog Soekarno berpidato dari awal hingga akhir, film ini mungkin terasa sangat monoton bagi banyak orang.Tapi waktu nonton film ini, ,saya sungguh bertekad sekuat baja (lebay) supaya kuat menyimak penuh isi film ini. Dan saya akui ini film sungguh penting untuk ditonton. Kenapa ??

Pertama, melalui film ini saya bisa tau lebih banyak apa, mengapa, dan bagaimana Pancasila yang jadi Dasar Negara Repulik ini bisa tercetus dari pemikiran pemikiran luar biasa seorang Soekarno.

Kedua, melalui film ini saya bisa dapat gambaran betapa luar biasanya kemampuan Soekarno dalam berpidato dengan penuh keyakinan menyampaikan apa yang dicita citakannya .Selama ini saya sering dengar dari nenek saya, betapa dulu orang berbondong bondong datang hanya ingin mendengar Soekarno berpidato. Akting Tio Pakusadewo sebagai Soekarno di film ini sangat layak dipuji, menurut saya dia layak dapat Piala Citra di film ini.

Ketiga, dengan adegan monolog berpidato dari awal hingga akhir, film ini menawarkan sesuatu yang baru dan kreatif. Sebelumnya belum pernah saya nonton film Indonesia dengan gaya monolog seperti ini.

Sayangnya film ini tidak bertahan di bioskop (hanya diputar selama seminggu). Cita Cita (idealis) dan Realita memang tidak selalu sama hasilnya. Tapi menurut saya pribadi, film ini perlu disosialisasikan di setiap institusi pendidikan seperti sekolah atau kampus, terutama saat masa orientasi siswa/ mahasiswa baru supaya lbh mengenal Dasar Negara kita yg bukan sekedar jargon. Jangan lupa minum kopi dulu sebelum nonton film ini supaya tahan melek hingga akhir :)

*langsung terbersit ide, kayaknya seru juga kasi tugas mahasiswa mahasiswa saya untuk nonton dan bikin review film ini *


Film Uang Panai - Film komedi Anti Mainstream













Film "Uang Panai" - Film komedi yang perlu ditonton tahun ini

Belum lama ini nonton Uang Panai, film komedi yang sangat menghibur dan bikin ngikik ngikik sepanjang film. Dan ini film yang spesial sekali menurut saya. Kenapa spesial??

Pertama, ternyata ini film buatan sineas muda Makasar, diproduksi di Makasar, dan semua aktor dan aktrisnya orang Makasar, dan sepanjang film menggunakan bahasa Bugis (dgn subtittle bahasa Indonesia). Sebagai pencinta film indonesia,  jarang banget liat film asli produksi daerah yang diputar di bioskop nasional. Film ini disutradarai oleh Asril Sani dan Halim Gani Safia, dengan pemain pemain asli daerah seperti Ikram Noer, Nur Fadillah,  duo Tumming dan Abu (seleb Sosmed terkenal asal Makassar). Ada juga Katon Kla Project dan Jane Shalimar yang jadi cameo selintasan lewat.

Kedua, cerita film "Uang Panai" mengangkat budaya lokal dg kemasan kekinian. Uang Panai adlh "uang mahar"di budaya orang Bugis Makassar, yg seringkali ditentukan oleh orang tua perempuan. Karena tingginya Uang Panai, banyak pasangan tidak jadi menikah dan bahkan jadi kawin lari. Film ini adlh sebuah kritik sosial terhadap budaya "Uang Panai" di masyarakat Bugis, yang disampaikan dg cara cerdas dan sangat ngepop. Bagian fenomena bintang youtube, fenomena budaya selfie akut di berbagai adegan dalam film ini jg bikin "Uang Panai" jadi kekinian banget.

Sayangnya, film ini ga banyak diputer di bioskop 21. Di Jakarta, cuma diputer di studio Sunter Mall , Metropole, dan Blok M Square. Tapi waktu saya nonton di Sunter 21 Jakarta Utara, penontonnya cukup banyak. Bahkan informasi dari salah satu penjaga studio, sejak film Uang Panai diputar, banyak kedatangan penonton rombongan dari pekerja pelabuhan Tanjung Priok yang memang banyak orang orang Makasar.


Ketiga, yang saya perhatikan disepanjang film ini ada seliweran muncul brand bisnis bisnis daerah, yang kemungkinan besar adalah para sponsor ilm ini,  seperti Dealer Mobil Haji Kalla, Bank Sulsel, dll. Ini sebenarnya menunjukkan film produksi asli daerah sangat mungkin untuk mendapatkan investor lokal.

Saya pribadi sih pingin lebih banyak lagi lihat film dari daerah yang mengangkat budaya lokal kayak gini.
Ga perlu harus melibatkan aktor aktris kelas nasional dg budget miliaran. Cukup dengan cerita kuat dan disampaikan dengan cara yg sangat menarik. Film Uang Panai ini adlh bukti kalo film produksi daerah pun bisa menembus bioskop nasional.

Baca Juga Yang Satu Ini

Pesta Mandi Bedak , Puncak Perayaan Tahun Baruan Kampung Tugu Yang Tak Kalah Seru Dengan Festival Songkran di Thailand

Tahukah Anda, di ujung utara Jakarta, ada sebuah kawasan yang merupakan kampung Kristen tertua di Jakarta dan juga di Indonesia?  ...